[email protected] 0251-8240773
Berita

Hikmah Ramadhan dalam Membangun Ekonomi Umat

Oleh:

Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.

Wakil Rektor 3 Bidang Riset, PKM, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan Institusi Universitas Djuanda

 

 

Para ulama banyak memberikan uraian terkait dengan hikmah berpuasa, termasuk pada bulan Ramadhan.  Beberapa hikmah berpuasa disebutkan untuk mempertinggi akhlak, budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap sesama terutama orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, mengolah dan melatih jiwa dan jasmani, lahir dan bathin, menambah kebugaran serta kesehatan, dan lain sebagainya.

 

Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana yang dapat dilihat pada QS. Al-Baqarah ayat 183.  Perintah ini juga diturunkan kepada orang-orang sebelum zaman nabi Muhammad SAW dan tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa.  Ketakwaan ini tentu saja harus dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ketaatan, kepatuhan, keberserahan, dan keikhlasan terhadap semua kewajiban sebagai seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta, Penguasa Mutlak alam semesta, Pemberi dan Penentu seluruh hidup, kehidupan dan penghidupan, Allah SWT.

 

Manifestasi ketakwaan ini dapat dilakukan dengan menjalankan berbagai amalan yang telah diajarkan bagianda rasulallah Muhammad SAW, baik itu yang merupakan perintah langsung dari Allah SWT maupun yang menjadi amalan-amalan nabi untuk mengagungkan Allah SWT.  Begitu banyak amalan di bulan Ramadhan yang dapat dikerjakan diantaranya :

 

1.       Berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT sehingga dosa-dosanya yang telah lalu diampuni Allah SWT (HR. Bukhari 2014 & Muslim 760).

2.       Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala sehingga diampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari 2009 & Muslim 759).  Pada bagian ini rasulallah SAW mensunnahkan untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah dan kepada yang melakukannya maka dicatat sebagai shalat sepanjang malam (HR. An-Nasa I 1604; At-Tirmidzy 806,  & Ibnu Majah 1100). 

3.       Bershadaqah lebih dari biasa pada bulan Ramadhan.  Rasulallah SAW sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a  adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan.  Beliau akan semakin dermawan pada bulan Ramadhan.

4.       Bertadabur Quran pada bulan Ramadhan.

5.       Ber-itikaf dan menghidupkan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

6.       Ber-umrah pada bulan Ramadhan.

7.       Memperbanyak amalan-amalan kebaikan, dzikir, doa dan istighfar.

 

Mari kita renungkan 7 amalan saleh di Bulan Ramadhan sebagaimana dikemukakan sebelumnya.  Kita ambil contoh amalan yang ketiga, dimana disebutkan bahwa rasulallah SAW semakin lebih pemurah pada bulan Ramadhan. 

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a  bahwa ”sesungguhnya Jibril a.s mendatangi rasulallah SAW setiap tahun pada bulan Ramadhan sampai akhir, dan pada saat ditemui Jibril itu, rasulullah SAW menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut (HR. Bukhari 1902 & Muslim 2308).  Demikian juga hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulallah SAW lainnya yang menyatakan bahwa barangsiapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzy 1/197, & Ibnu Majah 173). 

 

Ketika kita berbicara ekonomi, tentu tidak akan terlepas dari adanya permintaan dan penawaran.  Dalam bentuk apapun di dunia ini, tidak ada barang dan/atau jasa yang tidak terlepas dari adanya aktivitas ekonomi dan pasar.  Kebutuhan untuk menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa pada bulan Ramadhan ini, jika semua orang mukmin melakukannya, maka sungguh akan menumbuhkan ekonomi umat yang luar biasa. Kebutuhan pangan tersebut dapat dipenuhi oleh para pedagang muslim di sekitarnya. 

 

Para konsumen jangan berpikir untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut dari kantong-kantong pasar moderen, seharusnya para konsumen muslim memberdayakan warung-warung kecil kaum muslimin di sekitar lingkungannya menjadi pasar-pasar lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di bulan Ramadhan.  Maka, ekonomi umat akan tumbuh signifikan.  Produsen pangan muslimin ini juga tidak boleh memberikan harga yang di luar nalar untuk menghindari kecenderungan praktik ribawi skala kecil.  Harga-harga tetap dipatok wajar, sehingga kehalalan dan kesyariahan proses jual-beli yang dilakukan menjadi lebih terjaga.

 

Pada akhir bulan Ramadhan, biasanya ramai dengan kegiatan santunan-santunan anak yatim.  Biasanya juga diberikan pakaian baru untuk memberikan kegembiraan kepada mereka dalam menyampun hari kemengan di bulan Syawal.  Dalam konteks ini, kembali ekonomi umat dapat memegang peranan penting.  Para penjahit muslim, pedagang muslim dan sebagainya dapat bertumbuhkembang bersama bilamana konsep ekonomi koperasi diterapkan, dari muslim oleh muslim dan untuk muslim.  Kebangkitan ekonomi umat tentu akan terangsang menghadirkan kemaslahatan bagi semua.

 

Ingatlah dengan janji Allah SWT ”Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya (QS. Saba: 39).  Apa pun yang telah kamu infakkan, maka Dia akan menggantikannya; dan apa pun yang kamu sedekahkan, maka Dialah yang akan membalas pahalanya.  Sesungguhnya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT untuk kebaikan maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik.  ”Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah SWT akan melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu (QS. At-Taghabun: 17).

 

Contoh kedua tentu saja dapat diberikan oleh amalam keenam, yaitu berumrah di bulan Ramadhan.  Rasulallah SAW bersabda bahwa umrah pada bulan Ramadhan itu menyerupai haji (HR. Al-Bukhari 1782 & Muslim 1256) dan dalam riwayat lainnya disabdakan nabi bahwa umrah pada bulan Ramadhan seperti haji bersama nabi Muhammad SAW (HR As-Suyuthi dalam Al-Jami’ 4098). 

 

Pada konteks ini, para pecinta Mekkah tentu akan berlomba-lomba mendapatkan kesempatan langka setahun sekali ini.  Terlebih bilamana untuk berhaji masih memerlukan waktu tunggu yang lama, maka amalan ini bisa menjadi salah satu jembatan untuk memenuhi pahala berhaji.  Kembali ekonomi umat dapat berkembang lebih moderen dalam hal ini.  Penyedia travel haji dan umrah dapat membangun kekuatan ekonomi umat dengan melakukan kolaborasi global, baik dalam konteks transportasi, akomodasi, logistik, dan lain sebagainya.  Minat masyarakat Indonesia untuk berumrah pada bulan Ramadhan dipastikan melonjak dibandingkan pada bulan-bulan lainnya.  Oleh karena itu, para penyedia travel dapat memberdayakan kesempatan ini untuk lebih berperan lebih optimal dalam memberikan pelayanan terbaik, agar para pelanggannya dapat memperoleh ”jaminan” keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan dalam menjalankan aktivitas umrah di bulan Ramadhan.