Hikmah Ramadhan dalam Membangun Ekonomi Umat
Oleh:
Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi.,
M.Si.
Wakil
Rektor 3 Bidang Riset, PKM, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan Institusi
Universitas Djuanda
Para ulama banyak memberikan
uraian terkait dengan hikmah berpuasa, termasuk pada bulan Ramadhan. Beberapa hikmah berpuasa disebutkan untuk
mempertinggi akhlak, budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap
sesama terutama orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang lemah yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, mengolah dan melatih jiwa dan jasmani,
lahir dan bathin, menambah kebugaran serta kesehatan, dan lain sebagainya.
Puasa di bulan Ramadhan
merupakan perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana yang dapat dilihat pada
QS. Al-Baqarah ayat 183. Perintah ini
juga diturunkan kepada orang-orang sebelum zaman nabi Muhammad SAW dan tujuan
utamanya adalah untuk menjadikan manusia bertakwa kepada Allah SWT dengan
sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan ini
tentu saja harus dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ketaatan, kepatuhan,
keberserahan, dan keikhlasan terhadap semua kewajiban sebagai seorang hamba
kepada Sang Maha Pencipta, Penguasa Mutlak alam semesta, Pemberi dan Penentu
seluruh hidup, kehidupan dan penghidupan, Allah SWT.
Manifestasi ketakwaan ini
dapat dilakukan dengan menjalankan berbagai amalan yang telah diajarkan
bagianda rasulallah Muhammad SAW, baik itu yang merupakan perintah langsung
dari Allah SWT maupun yang menjadi amalan-amalan nabi untuk mengagungkan Allah
SWT. Begitu banyak amalan di bulan
Ramadhan yang dapat dikerjakan diantaranya :
1.
Berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan
mengharap pahala dari Allah SWT sehingga dosa-dosanya yang telah lalu diampuni
Allah SWT (HR. Bukhari 2014 & Muslim 760).
2.
Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan
keimanan dan mengharap pahala sehingga diampuni dosanya yang telah lalu (HR.
Bukhari 2009 & Muslim 759). Pada
bagian ini rasulallah SAW mensunnahkan untuk melaksanakan shalat tarawih secara
berjamaah dan kepada yang melakukannya maka dicatat sebagai shalat sepanjang
malam (HR. An-Nasa I 1604; At-Tirmidzy 806, & Ibnu Majah 1100).
3.
Bershadaqah lebih dari biasa pada bulan
Ramadhan. Rasulallah SAW sebagaimana diriwayatkan
dari Ibnu Abbas r.a adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan. Beliau akan semakin dermawan pada bulan Ramadhan.
4.
Bertadabur Quran pada bulan Ramadhan.
5.
Ber-itikaf dan menghidupkan Lailatul Qadar di
bulan Ramadhan.
6.
Ber-umrah pada bulan Ramadhan.
7.
Memperbanyak amalan-amalan kebaikan, dzikir, doa
dan istighfar.
Mari kita renungkan 7 amalan
saleh di Bulan Ramadhan sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Kita ambil contoh amalan yang ketiga,
dimana disebutkan bahwa rasulallah SAW semakin lebih pemurah pada bulan
Ramadhan.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas
r.a bahwa ”sesungguhnya Jibril a.s mendatangi rasulallah SAW setiap tahun
pada bulan Ramadhan sampai akhir, dan pada saat ditemui Jibril itu,
rasulullah SAW menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang
berhembus dengan lembut (HR. Bukhari 1902 & Muslim 2308). Demikian juga hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulallah
SAW lainnya yang menyatakan bahwa barangsiapa yang memberi berbuka orang puasa,
baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari
pahalanya sedikitpun (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzy 1/197, & Ibnu Majah
173).
Ketika kita berbicara
ekonomi, tentu tidak akan terlepas dari adanya permintaan dan penawaran. Dalam bentuk apapun di dunia ini, tidak ada
barang dan/atau jasa yang tidak terlepas dari adanya aktivitas ekonomi dan pasar. Kebutuhan untuk menyediakan makanan dan
minuman untuk berbuka puasa pada bulan Ramadhan ini, jika semua orang mukmin
melakukannya, maka sungguh akan menumbuhkan ekonomi umat yang luar biasa. Kebutuhan
pangan tersebut dapat dipenuhi oleh para pedagang muslim di sekitarnya.
Para konsumen jangan
berpikir untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut dari kantong-kantong pasar
moderen, seharusnya para konsumen muslim memberdayakan warung-warung kecil kaum
muslimin di sekitar lingkungannya menjadi pasar-pasar lokal untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari di bulan Ramadhan.
Maka, ekonomi umat akan tumbuh signifikan. Produsen pangan muslimin ini juga tidak boleh
memberikan harga yang di luar nalar untuk menghindari kecenderungan praktik
ribawi skala kecil. Harga-harga tetap
dipatok wajar, sehingga kehalalan dan kesyariahan proses jual-beli yang
dilakukan menjadi lebih terjaga.
Pada akhir bulan Ramadhan,
biasanya ramai dengan kegiatan santunan-santunan anak yatim. Biasanya juga diberikan pakaian baru untuk
memberikan kegembiraan kepada mereka dalam menyampun hari kemengan di bulan
Syawal. Dalam konteks ini, kembali
ekonomi umat dapat memegang peranan penting.
Para penjahit muslim, pedagang muslim dan sebagainya dapat bertumbuhkembang
bersama bilamana konsep ekonomi koperasi diterapkan, dari muslim oleh muslim
dan untuk muslim. Kebangkitan ekonomi
umat tentu akan terangsang menghadirkan kemaslahatan bagi semua.
Ingatlah dengan janji Allah
SWT ”Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya
dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya (QS. Saba: 39). Apa pun yang telah kamu infakkan, maka Dia
akan menggantikannya; dan apa pun yang kamu sedekahkan, maka Dialah yang akan
membalas pahalanya. Sesungguhnya yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT untuk kebaikan maka Allah menggantinya
dengan yang lebih baik. ”Jika kamu
meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah SWT akan
melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu (QS.
At-Taghabun: 17).
Contoh kedua tentu saja
dapat diberikan oleh amalam keenam, yaitu berumrah di bulan Ramadhan. Rasulallah SAW bersabda bahwa umrah pada
bulan Ramadhan itu menyerupai haji (HR. Al-Bukhari 1782 & Muslim 1256) dan
dalam riwayat lainnya disabdakan nabi bahwa umrah pada bulan Ramadhan seperti
haji bersama nabi Muhammad SAW (HR As-Suyuthi dalam Al-Jami’ 4098).
Pada konteks ini, para pecinta Mekkah tentu akan
berlomba-lomba mendapatkan kesempatan langka setahun sekali ini. Terlebih bilamana untuk berhaji masih
memerlukan waktu tunggu yang lama, maka amalan ini bisa menjadi salah satu
jembatan untuk memenuhi pahala berhaji. Kembali
ekonomi umat dapat berkembang lebih moderen dalam hal ini. Penyedia travel haji dan umrah dapat
membangun kekuatan ekonomi umat dengan melakukan kolaborasi global, baik dalam
konteks transportasi, akomodasi, logistik, dan lain sebagainya. Minat masyarakat Indonesia untuk berumrah
pada bulan Ramadhan dipastikan melonjak dibandingkan pada bulan-bulan
lainnya. Oleh karena itu, para penyedia
travel dapat memberdayakan kesempatan ini untuk lebih berperan lebih optimal
dalam memberikan pelayanan terbaik, agar para pelanggannya dapat memperoleh
”jaminan” keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan dalam menjalankan aktivitas
umrah di bulan Ramadhan.