[email protected] 0251-8240773
Berita

Hubbul-Wathan Minal-Iman, Semangat Kebangkitan Nasional 2022

Oleh:
Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH
(Chancellor Universitas Djuanda Bogor)

Rasul menganjurkan kepada umat Islam untuk turut serta terlibat di dalam urusan negara. Maka, dipahami bahwa mengurusi negara itu adalah menjalankan perintah rasul. Umat Islam meyakini ucapan rasul, percaya dengan rasul, dan tidak ragu dengan rasulnya. Ucapan rasulnya berupa hadits atau sunnah menjadi hukum kedua setelah sumber hukum utama yaitu al-Quran. Disebutkan pula bahwa, ?Siapa yang mencintai rasul, maka ikuti Al-Quran dan Sunnahnya.? Dengan demikian, baransiapa yang ingin kuat maka berpegang kepada Al Quran dan Sunnah. Itulah yang tertanam di dalam diri umat Islam mulai dari yang anak, remaja, dewasa dan tua. Kalau ada yang disebut ingin memisahkan agama dan negara, itu berlawasan dengan pesan dari rasul.  

Mengenai Kebangkitan Nasional, ada yang mengatakan bangkit itu seperti ?kue bangkit? di Medan, yang digigit sedikit rapuh. Kebangkitan kue menjadi sebuah kerapuhan jika tidak dikuatkan dengan iman. Dikaitkan dengan pesan rasul, hal ini berkenaan dengan sebuah hadits hubbul-wathan minal-iman yang artinya mencintai bangsa merupakan tanda keimanan. Mengacu pada semangat kebangkitan dari penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen yang menggambarkan UUD negara supel dan simpel tergantung pada pelaksana negara. UUD mengamanahkan pada pelaksana negara untuk menjalankan negara ini dengan baik. Sejarah perjuangan kemerdekaan diwarnai oleh perjuangan umat Islam, maka kata-kata ?pelaksana negara untuk menjalankan negara ini dengan baik? merupakan penjelmaan dari hubbul-wathan minal-iman. Semangat mencintai negara menjadi semangat membela negara merupakan suatu bentuk keimanan. Pemimpin negara kemudian akan dipercaya oleh rakyatnya, jika para pemimpin tersebut mencontohkan semangat mencintai negara yang merupakan penjelmaan dari iman mereka.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana tentang keimanan para pemimpin negara? Di dalam Amandemen, penjelasan UUD 45 sudah dihapus dan dihilangkan dari struktur UUD 45 yang dari dahulunya terdiri dari pembukaan, batang tubuh dan menjadi pembukaan dan pasal-pasal. Jadi, jika ada pertanggung jawaban di akhirat kelak, maka orang yang mengubah dan menghilangkan bagian penjelasan dari sistem konstitusi kita akan bertemu dengan Allah dan mendapatkan pertanyaan ?Mengapa kau hilangkan bagian penjelasan ini?? bagian penjelasan ini sejatinya adalah sendi-sendi kekuatan suatu bangsa, mengenai kecintaan pemimpin terhadap negara dan bangsanya. Saat ini sudah terbukti dan menjadi diskusi hangat tema mengenai ?Apakah benar para pemimpin bangsa ini mencintai negara ini??

Di dalam umat Islam sendiri terdapat kelompok yang disebut golongan fasik, secara teori kelompok ini terbagi dua yaitu: Pertama, orang yang tidak taat karena memang belum beriman kepada Allah SWT. Kedua, orang yang tidak taat meskipun sudah beriman kepada Allah SWT, namun tetap melanggar perintah dan ajaran Islam. Pasalnya, di antara kelompok fasik tersebut menyebut dirinya cinta indonesia dan cinta Pancasila, namun justru dia yang paling depan menghancurkan nilai-nilai Pancasila. Ini memperjelas pertanyaan, ?Apakah hubbul-wathan minal-iman masih ada di hati para pemimpin??

Saat ini, Banyak isu-isu yang terjadi, seperti tentang penjualan BUMN, permainan saham, atau kebijakan ekonomi yang tidak berkeadilan. Cerita yang paling berani adalah pemimpin yang memperdagangkan vaksinasi, sementara ?Dagang vaksinasi? itu haram hukumnya.

Hari kebangkitan Nasional hendaknya disadari oleh para pemimpin yang mencintai negeri sebagai semangat untuk melepaskan segala kepentingan. Tidak ada kepentingan bisnis yang berkaitan dengan oligarki dikaitkan dengan cinta pada negara. Ini jelas bukan bagian daripada iman. Iman itu berarti mendahulukan Allah, mendahulukan umat, serta mendahulukan bangsa dan negara. Tanpa keimanan, hari kebangkitan nasional ditandai dengan peperangan antar paham, perpecahan antara anak bangsa, kecurigaan antara satu sama lainnya, perebutan kekuasaan, dan keserakahan ekonomi yang tidak ada habisnya. Ekonomi kita dikuras oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan orang-orang yang berkuasa yang tangannya berpasrah kepada kepentingan kelompok tertentu untuk menguras negara. Satu lagi yang paling penting, pembodohan rakyat yang didiamkan oleh para pemimpinnya, rakyat dibungkam dan tidak boleh bersuara untuk menyampaikan sesuatu dan jika melaporkan sesuatu maka berujung kepada laporan kepolisian, bahkan dibully oleh buzzer yang menyerang habis-habisan. Padahal, jika dimulai dari cinta negara, kita akan memahami dan menjalankan semangat ?katakanlah yang benar walaupun dirasa pahit.? Teman terbaik adalah teman yang mengkoreksi kita. Tanpa semangat memperbaiki diri, koreksi dari teman yang baik akan dianggap penghinaan yang berujung malapetaka dan kehancuran karena dianggap sebagai tindak kejahatan dan dilaporkan ke polisi.

Jadi pemerintahan yang hubbul-wathan minal-iman adalah bagaimana mendengar orang yang mengoreksi, bukan menindak orang yang mengoreksi untuk kebaikan. Sepahit apapun bentuk koreksi, semestinya diterima dengan lapang dada. Sehingga hal yang penting untuk diungkap di hari Kebangkitan Nasional ini adalah bagaimana orang yang berkuasa membuka hati dan membuka diri. Cobalah membuka sarana konsultasi nasional seperti dulu terdapat lembaga Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di era Orde Baru, dimana lembaga ini dapat disampaikan semua keluhan. Keluhan tersebut dapat semuanya disampaikan dalam satu forum terhormat dan berwibawa, sehingga dapat diinventarisir dengan baik. DPA merupakan lembaga yang memberikan pertimbangan kepada presiden dan dapat membantu pemerintah untuk menjadi penerjemah pikiran-pikiran orang kepada presiden. Rakyat banyak meragukan kinerja pelaksana negara, apakah benar hubbul-wathan minal-iman ini masih ada di dada mereka. Jika tidak ada lagi, maka Allah tidak hadir di sisi mereka untuk mendampingi mereka mengurus negara ini. Dan jika itu terjadi, maka yang terjadi, bukan lagi ada kebangkitan, namun akan tiba saatnya kehancuran. Lalu jika ini tetap dipertahankan maka Indonesia dan masyarakat Indonesia akan tetap saling berseteru satu dengan lainnya. Bagaimana mau bangkit kalau tetap berseteru? Semua pihak mencari jalan perbedaan, tidak mencari jalan persamaan.  Orang-orang tidak beriman akan berkumpul menjadi satu untuk mencari persamaan di antara mereka dan menguras kekayaan bangsa dan negara, sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci: ?Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada beraqal.? (QS. al-Hasyr 59:13)

Selamat Hari Kebangkitan Nasional! Semoga hubbul-wathan minal-iman yang menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 kembali ke hati masing-masing para pemimpin bangsa ini untuk mengenal Indonesia lebih dalam lagi. Indonesia dibangun untuk umat bukan untuk sekelompok golongan belaka, karena pembangunan bangsa Indonesia ini dibangun untuk melindungi segenap bangsa dan dengan tumpah darah Indonesia bukan sebagian golongan manusia yang haus berkuasa dan untuk berkuasa.

Wallahu yaqulul-haqq wahuwa yahdis-sabil