[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Insan Universitas Djuanda Gelar Shalat Idul Adha di Masjid Baitul Hamdi, Maknai Nilai Kebaikan dan Ketaqwaan Melalui Ibadah Qurban

Insan Universitas Djuanda (UNIDA) bersama Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda melaksanakan Shalat Idul Adha 1444 Hijriyah di Masjid Baitul Hamdi, Kampus UNIDA, pada Rabu (28/6/2023). Pelaksanaan shalat Idul Adha ini dipimpin oleh Ustadz Saddam Husein, SH., MH Al-Hafidz selaku imam dan Dr. Agung Muttaqien, S.Pd.I., M.Pd selaku khatib.

 

Hadir dalam shalat Idul Adha ini diantaranya, Chancellor UNIDA Prof. Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH, Pro Chancellor UNIDA Dr. Abraham Yazdi Martin, SH., M.Kn, Direktur Eksekutif YPSPIAI Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I, Rektor UNIDA Prof. Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D beserta jajaran pimpinan lainnya.

 

Dr. Agung Muttaqien, S.Pd.I., M.Pd dalam khutbahnya menyampaikan mengenai ibadah qurban, yang mana pada waktu itu berawal dari Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengurbankan anaknya yaitu Nabi Ismail AS.

 

“Penyembelihan terhadap Nabi Ismail AS, yang kemudian diganti dengan seekor kambing, merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi penyembahan dengan cara pengorbanan dengan manusia. Karena manusia adalah makhluk paling mulia, yang tidak pantas untuk diqurbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan secara spiritual,” tuturnya.

 

Dr. Agung Muttaqien, S.Pd.I., M.Pd menjelaskan, terdapat banyak nilai kebaikan dalam berqurban. Mulai dari saat berniat melaksanakan ibadah qurban, hingga akhir nanti pahalanya akan terus mengalir.

 

“Saat kita hendak berqurban, satu langkah menuju tempat qurban akan bernilai 10 kebaikan, dihapus 10 dosanya, dan dinaikkan 10 tingkatan derajatnya. Saat kita bernegosiasi dan tawar-menawar akan dihitung sebagai tasbih. Dan saat kita membayar seharga satu dirham, maka setara dengan 700 kebaikan,” ungkapnya.

 

“Sesaat setelah hewan telah dileburkan, semua makhluk yang ada ditempat penyembelihan hingga langit ke 7 akan memintakan pengampunan bagi dia yang berqurban. Dan setiap tetes darah hewan qurban, 10 malaikat akan meminta pengampunan bagi dia yang berqurban. Dan Ketika dagingnya dibagi-bagikan, maka setiap satu suap daging yang dimakan orang, maka kita seperti telah memerdekakan satu budak dari keturunan Nabi Ismail AS,” sambungnya.

 

Dr. Agung Muttaqien, S.Pd.I., M.Pd dalam khutbahnya juga menerangkan, ibadah qurban juga bertepatan dengan pelaksanaan waktu haji. Hal ini menjadi satu kesatuan keteladanan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.

 

“Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik, namun sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Haji maupun umrah dimulai dengan niat meninggalkan pakaian yang dipakai sehari-hari. Untuk kemudian kita hanya memakai dua helai kain putih yang disebut dengan kain ihram. Ketika kita mengenakan kain ihram putih, semua manusia dihadapan Allah SWT sama, tidak ada yang berbeda-beda,” terangnya.

 

“Allah tidak pernah membedakan antara pejabat dengan rakyatnya, antara penguasa dengan hambanya, antara pemimpin dengan bawahannya. Semua di mata Allah itu adalah sama. Orang-orang Islam itu semua satu sama lain bersaudara, pakaian itu mengingatkan kepada kita, nanti kelak kita akan menghadap Ilahi Rabbi, manusia tidak akan membawa apa-apa, manusia tidak akan mengenakan apa-apa, kecuali kain putih yang menemaninya, hingga ke liang kubur,” pungkas Dr. Agung Muttaqien, S.Pd.I., M.Pd.