[email protected] 0251-8240773
Berita

Isi Majelis Tasbih, Dekan Sekolah Pasca Sarjana UNIDA Bahas Kurban dalam Rangka Menyambut Idul Adha 1444 H

Artikel Disampaikan pada Majelis Tasbih 23 Juni 2023,

Oleh:

Dr. Rita Rahmawati, Dra., M.Si (Dekan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Djuanda)


Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Tasbih pada Jumat, 23 Juni 2023 secara hybrid, yakni daring via Zoom Cloud Meetings dan luring di Majelis Baitul Quran (MBQ) UNIDA. Dalam kesempatan ini, Majelis Tasbih diisi oleh Dekan Sekolah Pascasarjana UNIDA, Dr. Rita Rahmawati, Dra., M.Si.

Dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha 1444 H, pada Majelis Tasbih kali ini, Dr. Rita Rahmawati, M.Si memaparkan materi yang berjudul Kurban Ditinjau Dari Aspek Sosial dan Budaya.

Dr. Rita Rahmawati, M.Si dalam paparan materinya menyatakan bahwa Allah SWT berfirman dalam Quran Surah Al-Hajj ayat 36 yang artinya, bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya, kemudian di Surah Al Hajj ayat 28 yang artinya, Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Secara sosial kemasyarakatan, ibadah Kurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan kurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin. Fenomena berkurban tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan dan ibadah kurban merupakan refleksi dari agama dan kemanusiaan.

“Fenomena kurban di indonesia akan terus meningkat walaupun sedang krisis ekonomi meski kondisi ekonomi sedang buruk, masyarakat tetap mau berbagi untuk sesuatu yang bersifat komunal. Instrumen Kurban tersebut bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kemudian jika ditelisik dari sejarahnya, ibadah kurban sama sekali tidak mereproduksi peradaban yang berdarah, melainkan sejak anjuran berkurban hewan dikeluarkan, itu juga untuk menghentikan keberlanjutan manusia membunuh manusia lainnya. Maka dari itu, berkurban bisa menguatkan rasa kemanusiaan, kesalehan yang dicapai bukan hanya kesalehan individual, tapi juga kesalehan sosial,” ujarnya.

“Kurban menjadi paradigma sosial untuk mengentaskan kaum miskin dan membebaskan kaum tertindas, menekankan kesalehan sosial serta memantapkan solidaritas sosial, serta perasaan senasib sebagai sesama umat manusia menjadi kunci untuk memahami perintah kurban. Secara sosial kemasyarakatan, ibadah kurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan Kurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin serta keikhlasan membantu orang lain yang membutuhkan,” tambahnya.