[email protected] 0251-8240773
Informasi

Jejak Ir. H. Djuanda di Jawa Timur: Negarawan, Teknokrat, dan Inspirasi Abadi

Pendahuluan: Negarawan di Balik Layar

Di sudut timur Pulau Jawa, dua nama besar terus bergema hingga kini: Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo dan Flyover Djuanda yang baru diresmikan tahun 2024. Dua infrastruktur modern ini menyandang nama seorang anak bangsa yang lahir di Tasikmalaya, 14 Januari 1911—Ir. H. Djuanda Kartawidjaja. Sosoknya mungkin tidak sepopuler Soekarno atau Hatta di mata generasi muda, tetapi jejak karyanya membentang dari ujung barat hingga timur Nusantara, khususnya di Jawa Timur yang menjadi saksi bisu dedikasi beliau sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan arsitek pembangunan nasional.

Djuanda adalah tipikal negarawan yang bekerja tanpa gemerlap pencahayaan panggung politik. Ia bukan orator ulung, bukan pula politisi yang lihai bermain retorika. Ia adalah teknokrat murni—insinyur sipil lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB) tahun 1933—yang memilih mengabdi kepada bangsa dengan karya nyata . Dalam perjalanan kariernya, Djuanda menduduki tidak kurang dari 17 jabatan menteri di berbagai kabinet era Soekarno, termasuk Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, hingga Perdana Menteri terakhir Indonesia (1957-1959).

Namun di balik deretan jabatan bergengsi itu, tersembunyi kisah tentang seorang abdi negara yang hidup sederhana, tidak mengejar kekayaan, tetapi namanya diabadikan di bandara, jalan, bendungan, taman hutan raya, bahkan menjadi identitas sebuah universitas. Artikel ini akan menelusuri jejak Ir. H. Djuanda di Jawa Timur—khususnya pembangunan Bandara Juanda dan berbagai proyek infrastruktur saat beliau menjabat Menteri Pekerjaan Umum—serta menarik kontekstualisasinya bagi Universitas Djuanda (UNIDA) di Bogor yang mengusung nama besarnya sebagai inspirasi untuk meneladani kiprah dan integritas seorang nasionalis sejati.

---

Bagian I: Ir. H. Djuanda dan Jawa Timur—Warisan Infrastruktur yang Abadi

  1. Bandara Internasional Juanda: Dari Proyek Militer Menjadi Gerbang Udara Nasional

Siapa sangka, bandara tersibuk kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta ini lahir dari gagasan seorang insinyur sipil yang melihat jauh ke depan. Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo adalah bukti nyata bagaimana visi Djuanda melampaui zamannya.

Gagasan di Tengah Keterbatasan

Rencana pembangunan pangkalan udara di kawasan timur Surabaya sebenarnya telah digagas sejak berdirinya Biro Penerbangan Angkatan Laut RI pada tahun 1956. Namun, gagasan ini mengkristal ketika Indonesia berada dalam agenda politik pembebasan Irian Barat. Demi memfasilitasi operasi TNI, pemerintah menyetujui pembangunan lapangan udara di kawasan Sedati, Sidoarjo. Djuanda, dengan latar belakang keinsinyuran dan posisinya di pemerintahan, menjadi salah satu tokoh kunci yang mendorong realisasi proyek ini.

Sebelumnya, terdapat tiga lokasi yang menjadi kandidat: Gresik, Bangil, dan Sidoarjo (Sedati). Area Sedati akhirnya dipilih karena letaknya dekat dengan Surabaya, kontur tanahnya datar dan luas, serta memungkinkan untuk pengembangan jangka panjang.

Proyek Waru: Tonggak Pembangunan Paska-Kemerdekaan

Proyek pembangunan Bandara Juanda, yang saat itu dikenal dengan nama "Proyek Waru", menjadi proyek pembangunan lapangan terbang pertama pasca-kemerdekaan Indonesia. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan pernyataan eksistensi bangsa yang baru merdeka: bahwa Indonesia mampu membangun infrastruktur modern tanpa terus-menerus bergantung pada peninggalan kolonial.

Proyek ini dirancang untuk menggantikan landasan udara di Morokrembangan dekat Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan peninggalan Belanda. Lokasi lama tersebut sudah terhimpit permukiman warga dan sulit dikembangkan, sehingga pembangunan bandara baru menjadi keniscayaan.

Yang menarik, proyek ini melibatkan kolaborasi internasional dengan tiga pihak utama: Tim Pengawas Proyek Waru (TPPW) sebagai wakil pemerintah, Compagnie d'Ingenieurs et Techniciens (CITE) sebagai konsultan asal Perancis, dan Societe de Construction des Batinolles (Batignolles) sebagai kontraktor juga dari Perancis. Pembangunan pangkalan udara dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dan lebar 45 meter ini membutuhkan pembebasan lahan seluas 2.400 hektar yang terdiri dari areal sawah dan rawa—sebuah skala proyek yang sangat ambisius di masanya.

Bandara yang Menyandang Nama Besar

Penamaan Bandara Juanda bukanlah kebetulan. Nama Djuanda diabadikan untuk menghormati jasa dan gagasan besarnya dalam pembangunan bandara ini. Kini, Bandara Internasional Juanda tidak hanya menjadi pintu gerbang utama Jawa Timur, tetapi juga simbol bagaimana seorang negarawan dapat meninggalkan jejak abadi melalui infrastruktur yang melayani puluhan juta jiwa dari generasi ke generasi.

Bandara ini terus berkembang. Saat ini, dengan luas terminal mencapai 51.500 m² (berkembang dua kali lipat dari desain awal 28.088 m²), bandara ini mampu menampung hingga 8 juta penumpang per tahun. Dan di tahun 2024, infrastruktur pendukungnya kembali diperkuat dengan peresmian Flyover Djuanda—sebuah jalan layang sepanjang 858 meter yang dibangun dengan biaya Rp363 miliar untuk mengurai kemacetan di akses keluar-masuk bandara.

  1. Djuanda dan Proyek Infrastruktur Lain di Jawa Timur

Sebagai Menteri Pekerjaan Umum, Djuanda tidak hanya berkarya di Surabaya. Era kepemimpinannya di Kementerian PU menandai dimulainya pembangunan infrastruktur modern yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur.

Pembangunan Bendungan-Bendungan Strategis

Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil yang fokus pada pengairan dan jalan (wegen en waterbouwkunde), Djuanda memiliki perhatian besar pada pembangunan bendungan dan irigasi . Di masa kepemimpinannya, berbagai proyek pengairan di Jawa Timur mulai dirancang dan dibangun, yang kemudian menjadi fondasi ketahanan pangan dan pengendalian banjir di wilayah tersebut.

Salah satu contoh bagaimana pemikiran Djuanda tentang infrastruktur terintegrasi dapat dilihat dari proyek-proyek besar seperti Bendungan Sutami (Karangkates) di Kabupaten Malang. Meskipun peresmiannya terjadi setelah Djuanda wafat (bendungan ini diresmikan tahun 1973), gagasan tentang pembangunan bendungan multifungsi untuk irigasi, pembangkit listrik, dan pengendalian banjir adalah bagian dari visi besar pembangunan nasional yang dirintis di era Djuanda.

Kisah menarik dari pembangunan Bendungan Sutami adalah bagaimana proyek ini mampu menyelesaikan persoalan infrastruktur yang sudah ada—rel kereta api peninggalan Belanda—dengan solusi cerdas. Saat bendungan dibangun, pemerintah sadar bahwa jalur kereta api yang sudah ada akan terendam air waduk. Alih-alih membiarkannya tenggelam, dibangunlah jalur baru sepanjang 4 kilometer yang lebih tinggi, lengkap dengan dua terowongan kembar yang melegenda: Terowongan Eka Bakti Karya (750 meter) dan Terowongan Dwi Bakti Karya (892 meter). Inilah bukti bahwa pendekatan Djuanda dalam pembangunan selalu mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan solusi terintegrasi—warisan pemikiran yang terus hidup dalam proyek-proyek Kementerian PUPR hingga kini.

Warisan yang Terus Dibangun

Menariknya, jejak Djuanda di Jawa Timur tidak berhenti di masa lalu. Pada 6 September 2024, Presiden Joko Widodo meresmikan Flyover Djuanda di Sidoarjo—sebuah infrastruktur modern yang dibangun untuk mengatasi kemacetan di Jalan Raya Waru dan akses keluar-masuk Bandara Juanda. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur seperti flyover ini adalah untuk meningkatkan konektivitas, melancarkan mobilitas masyarakat, dan menekan biaya logistik.

Peresmian flyover ini menjadi simbol bahwa visi Djuanda tentang pembangunan infrastruktur untuk kemaslahatan rakyat terus berlanjut. Di era Presiden Jokowi, semangat Djuanda dihidupkan kembali melalui pembangunan Inpres Jalan Daerah, jembatan-jembatan Callender Hamilton yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur, dan berbagai proyek infrastruktur lainnya yang total bernilai triliunan rupiah .

---

Bagian II: Universitas Djuanda—Meneladani Kiprah dan Integritas Sang Negarawan

  1. Mengapa Nama Djuanda Diabadikan?

Di kaki Gunung Salak, tepatnya di Ciawi, Kabupaten Bogor, berdiri sebuah perguruan tinggi yang menyandang nama besar ini: Universitas Djuanda (UNIDA). Didirikan pada 21 Maret 1987 oleh Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliah Indonesia (YPSPIAI) yang diprakarsai Letnan Jenderal TNI Purn. H. Alamsjah Ratu Perwiranegara, universitas ini memilih nama Djuanda sebagai bentuk penghormatan kepada Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdarah Sunda tersebut.

Pertanyaannya, mengapa nama Djuanda yang dipilih, bukan pahlawan nasional lainnya? Jawabannya terletak pada keteladanan utuh yang ditawarkan sosok Djuanda: intelektual Muslim, teknokrat handal, negarawan sejati, dan manusia berintegritas.

Djuanda adalah anggota aktif Muhammadiyah yang pernah menjadi pimpinan sekolah Muhammadiyah dan memilih mengajar di SMA Muhammadiyah Jakarta dengan gaji seadanya, meskipun ada tawaran menjadi asisten dosen di TH Bandung dengan gaji lebih besar. Ia adalah contoh bagaimana keimanan dan profesionalisme dapat berjalan beriringan.

  1. Nilai-Nilai Keteladanan Djuanda

a. Integritas: Banyak Karya, Tidak Kaya

Salah satu fakta paling mencengangkan dari sosok Djuanda adalah: meskipun menduduki 17 jabatan menteri dan pernah menjadi Perdana Menteri, ia tidak meninggalkan kekayaan materi. Rumah dinasnya di Jalan Cilacap, Jakarta, adalah rumah sederhana yang jauh dari kemewahan. Ketika wafat pada 7 November 1963 akibat serangan jantung, Djuanda tidak mewariskan harta berlimpah kepada keluarganya, melainkan warisan berupa kedaulatan bangsa dan infrastruktur yang terus dinikmati hingga kini.

Inilah pelajaran mahal bagi generasi sekarang: bahwa kekuasaan tidak harus berarti akumulasi kekayaan, dan jabatan publik adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Djuanda membuktikan bahwa seorang pemimpin bisa berkarya sepanjang hayat, menghasilkan infrastruktur monumental, tetapi hidup sederhana dan tidak silau oleh harta.

b. Nasionalisme Sejati: Melampaui Golongan

Djuanda adalah nasionalis sejati. Ia bekerja untuk bangsa, bukan untuk golongan atau partai tertentu. Ia bertahan di berbagai kabinet dengan berbagai orientasi politik, tetapi satu hal yang tidak pernah berubah: komitmennya pada kepentingan bangsa. Deklarasi Djuanda 1957 adalah bukti nyata bagaimana ia berani mengambil keputusan bersejarah yang menyatukan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam satu kesatuan yuridis.

Konsep Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang diperjuangkannya akhirnya diakui dunia melalui UNCLOS 1982. Ini adalah sumbangsih terbesar yang mengubah peta Indonesia dari sekadar gugusan pulau menjadi satu kesatuan wilayah laut yang utuh. Luas wilayah Indonesia bertambah drastis, menjadikannya negara maritim terbesar di dunia.

c. Kinerja Tanpa Pencitraan

Djuanda adalah tipe pemimpin yang bekerja, bukan sekadar tampil. Ia bukan orator ulung, bukan pula politisi yang pandai bermain kata. Ia adalah eksekutor—seseorang yang menerjemahkan visi menjadi aksi, dan aksi menjadi infrastruktur nyata. Di era media sosial yang hiruk-pikuk dengan pencitraan, keteladanan Djuanda menjadi kritik tajam terhadap budaya "tampak sibuk" tetapi minim hasil.

  1. Universitas Djuanda: Menyemai Nilai-Nilai Sang Negarawan

Sebagai institusi yang mengusung nama Djuanda, Universitas Djuanda memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sekadar menggunakan nama besar tersebut sebagai brand, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Djuanda dalam setiap aspek kehidupan kampus.

Visi dan Misi yang Selaras

Universitas Djuanda memiliki visi: "Menjadi Universitas Unggul Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa yang Menyatu dalam Tauhid dan Berstandar Internasional" . Visi ini sangat selaras dengan sosok Djuanda: unggul secara intelektual (lulusan teknik sipil THS), menyatu dalam tauhid (aktivis Muhammadiyah), dan berstandar internasional (deklarasinya diakui PBB).

Pancadarma: Lebih dari Sekadar Tridarma

Yang membedakan UNIDA dari perguruan tinggi lain adalah penerapan Pancadarma—pengembangan dari Tridarma Perguruan Tinggi. Selain pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, UNIDA menambahkan dua dimensi penting: Ketauhidan dan Profesionalitas.

Ketauhidan merujuk pada integritas spiritual yang menjadi fondasi moral, persis seperti yang ditunjukkan Djuanda yang tetap istiqamah di Muhammadiyah meskipun sibuk mengurusi negara. Profesionalitas merujuk pada kompetensi dan kinerja, seperti yang dibuktikan Djuanda melalui puluhan proyek infrastruktur dan kebijakan kenegaraan.

21 Nilai Karakter Tauhid

UNIDA bahkan menginternalisasikan 21 Nilai Karakter Tauhid kepada seluruh sivitas akademika—dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga karyawan. Ini adalah upaya sistematis untuk membentuk karakter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral—kombinasi yang persis dimiliki Djuanda.

  1. Kontekstualisasi untuk Generasi Sekarang

Apa arti Djuanda bagi mahasiswa UNIDA dan generasi muda pada umumnya di era digital ini?

Pertama, Djuanda mengajarkan bahwa kontribusi tidak harus selalu di panggung politik. Ia adalah bukti bahwa seorang insinyur, teknokrat, dan birokrat bisa memberikan sumbangsih lebih besar daripada politisi yang gemar berpidato. Di era di banyak anak muda tergoda menjadi "influencer" atau "selebgram", Djuanda menawarkan jalan alternatif: menjadi "influencer pembangunan"—seseorang yang memengaruhi bangsa melalui karya nyata.

Kedua, Djuanda membuktikan bahwa keberhasilan tidak diukur dari kekayaan materi. Di tengah budaya konsumerisme dan materialisme yang menggeser nilai-nilai luhur bangsa, teladan Djuanda menjadi oase penyegar. Ia memiliki nama yang harum, tetapi tidak memiliki harta berlimpah. Ia kaya dalam kontribusi, miskin dalam akumulasi pribadi. Inilah definisi sukses versi Indonesia yang hampir punah.

Ketiga, Djuanda adalah model kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Ia tidak pernah meminta dilayani, tetapi selalu melayani bangsa. Di era ketika banyak pejabat bertindak seolah rakyat yang harus melayani mereka, teladan Djuanda menjadi cermin untuk bercermin.

Tugas Generasi Penerus

Bagi Universitas Djuanda, tantangannya adalah bagaimana mentransformasikan nama besar ini menjadi gerakan kultural yang melahirkan kader-kader penerus dengan DNA Djuanda: berilmu, beriman, berintegritas, dan berkarya.

Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:

  1. Membuat kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang menanamkan nilai-nilai Djuanda dalam setiap mata kuliah.
  2. Mengadakan "Djuanda Awards" bagi mahasiswa, dosen, atau alumni yang menunjukkan kinerja dan integritas luar biasa.
  3. Menjadikan sejarah hidup Djuanda sebagai mata kuliah wajib atau setidaknya materi pengayaan bagi seluruh mahasiswa baru.
  4. Membangun museum mini atau pojok Djuanda di kampus yang memamerkan perjalanan hidup dan karya-karyanya.

---

Penutup: Namanya Harum Merona, Meski Tak Kaya Harta

Ir. H. Djuanda Kartawidjaja wafat lebih dari setengah abad yang lalu, pada 7 November 1963. Namun, namanya tidak pernah mati. Ia hidup di landasan pacu Bandara Juanda yang setiap hari dilintasi pesawat dari berbagai penjuru dunia. Ia hidup di setiap tetes air yang mengalir dari bendungan-bendungan yang dibangun di zamannya. Ia hidup di peta Indonesia yang utuh, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, yang disatukan oleh deklarasinya pada 13 Desember 1957. Ia hidup di jalan-jalan, flyover, dan infrastruktur yang terus dibangun pemerintah hingga kini.

Di Universitas Djuanda, Ciawi, Bogor, namanya diabadikan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk diteladani. Para mahasiswa UNIDA adalah pewaris nama besar ini. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjadi sarjana yang cerdas, tetapi juga manusia berintegritas yang mengutamakan karya di atas popularitas, kontribusi di atas kekayaan, dan pelayanan di atas kekuasaan.

Djuanda adalah bukti bahwa seorang pemimpin bisa banyak berkarya tetapi tidak kaya raya, berkuasa tetapi tidak sombong, berjasa tetapi tidak minta dihargai. Di era ketika publik disuguhi berita tentang korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan gaya hidup mewah para pejabat, sosok Djuanda hadir sebagai antitesis—pengingat bahwa Indonesia pernah melahirkan negarawan tulen yang bekerja tanpa pamrih.

Maka, bagi seluruh sivitas akademika Universitas Djuanda, dan bagi generasi muda Indonesia pada umumnya, teladanilah Djuanda. Jadikan karyanya sebagai inspirasi, integritasnya sebagai pegangan, dan pengabdiannya sebagai jalan hidup. Karena pada akhirnya, bukan harta yang akan kita tinggalkan, melainkan nama yang harum dan karya yang bermanfaat—seperti yang telah dicontohkan oleh Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, negarawan sejati yang namanya tetap merona meski raganya telah tiada.

Namanya harum merona, meski tak kaya harta. Itulah Djuanda. Itulah negarawan. Itulah yang harus kita teladani.

---

Sebuah Catatan Refleksi
oleh: Assoc. Prof. Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed
(Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda)
Malang, Jawa Timur, 18 Februari 2026