[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Muslimah UNIDA : Berbaik Sangka Kepada Allah SWT, Diri Sendiri dan Sesama Manusia

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali melaksanakan kegiatan rutin kajian Muslimah yang pada kesempatan kali ini diisi oleh Staf Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNIDA, Defisa, S.H dengan judul “Berbaik Sangka Kepada Allah SWT, Diri Sendiri dan Sesama Manusia” pada Jumat, 17 November 2023 di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA.

Defisa, S.H dalam paparannya menyampaikan firman Allah SWT tentang prasangka, Allah SWT menyatakan “Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan”.

Berprasangka baik itu sangat diperlukan karena Allah SWT mengikuti apa yang diprasangkai dan apapun yang terjadi hendaknya tetap berprasangka baik termasuk berprasangka baik kepada takdir yang diberikan oleh Allah SWT. Di dalam kehidupan di dunia ini tentu banyak beragam fenomena kehidupan, baik itu kehidupan yang berupa kebahagiaan, kesedihan, masalah dan cobaan. Semua kejadian yang telah kita jalani tentu itu bukan karena kebetulan semata tapi karena semua telah diatur oleh Allah SWT, semua ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil di balik semua kejadian baik musibah ataupun nikmat yang Allah berikan.

Secara garis besar berprasangka baik atau husnudzon ada 3 yaitu berprasangka baik kepada Allah SWT, berprasangka baik kepada diri sendiri dan berprasangka baik kepada sesama Manusia.

“Dalam hadist Nabi Muhammad SAW, jauhilah dari kalian prasangka buruk karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta pembicaraan. Janganlah kalian saling memata-matai, saling mencari aib, saling dengki, saling memusuhi dan saling memutuskan silaturahmi, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Prasangka yang tidak sesuai itu tentu akan meresahkan kehidupan bermasyarakat karena satu sama lainnya akan saling mencurigai dan akan mengakibatkan perpecahan, permusuhan, peperangan dan akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat dan bahkan bernegara. Untuk itu marilah kita untuk selalu berprasangka baik kepada siapapun agar terhindar dari penyakit hati,” ungkapnya.

Defisa, S.H menambahkan bahwa tidak dibenarkan bagi seorang muslim tatkala dirinya mengatakan berbaik sangka kepada Allah, namun perkataan itu hanya sebatas pengakuan saja tanpa diiringi dengan amalan-amalan shalih yang nyata, dan di sisi lain ia tetap melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Ibnu Utasimin berkata "Kapankah seorang hamba itu benar-benar berbaik sangka kepada Allah? Ia telah berbaik sangka kepada Allah tatkala dirinya melakukan amalan-amalan yang akan mendatangkan kemuliaan Allah dan rahmat-Nya, yaitu dengan melakukan amalan-amalan shalih dan berprasangka baik bahwa Allah akan mengabulkannya. Adapun apabila ia berprasangka baik kepada Allah, namun ia tidak mau beramal shalih, maka ini termasuk kategori angan-angan semata kepada Allah. Barang siapa mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah dengan beragam angan-angannya, maka ia adalah seorang yang lemah" (Syarh Riyadush Shalihin, 1/501).

“Kajian ini saya tutup dengan quotes of the day,  hadiah terbaik adalah apa yang kita miliki dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kita jalani,” tuturnya.