Kajian Muslimah UNIDA : Berbaik Sangka Kepada Allah SWT, Diri Sendiri dan Sesama Manusia
Universitas
Djuanda (UNIDA) kembali melaksanakan kegiatan rutin kajian Muslimah yang pada
kesempatan kali ini diisi oleh Staf Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNIDA,
Defisa, S.H dengan judul “Berbaik Sangka Kepada Allah SWT, Diri Sendiri dan
Sesama Manusia” pada Jumat, 17 November 2023 di Masjid Baitul Hamdi (MBH)
UNIDA.
Defisa, S.H dalam paparannya menyampaikan
firman Allah SWT tentang prasangka, Allah SWT menyatakan “Aku selalu menuruti
persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan
mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan
mendapatkan keburukan”.
Berprasangka baik itu sangat diperlukan
karena Allah SWT mengikuti apa yang diprasangkai dan apapun yang terjadi
hendaknya tetap berprasangka baik termasuk berprasangka baik kepada takdir yang
diberikan oleh Allah SWT. Di dalam kehidupan di dunia ini tentu banyak beragam
fenomena kehidupan, baik itu kehidupan yang berupa kebahagiaan, kesedihan,
masalah dan cobaan. Semua kejadian yang telah kita jalani tentu itu bukan
karena kebetulan semata tapi karena semua telah diatur oleh Allah SWT, semua
ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil di balik semua kejadian baik musibah
ataupun nikmat yang Allah berikan.
Secara garis besar berprasangka baik atau
husnudzon ada 3 yaitu berprasangka baik kepada Allah SWT, berprasangka baik
kepada diri sendiri dan berprasangka baik kepada sesama Manusia.
“Dalam hadist Nabi Muhammad SAW, jauhilah
dari kalian prasangka buruk karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta
pembicaraan. Janganlah kalian saling memata-matai, saling mencari aib, saling
dengki, saling memusuhi dan saling memutuskan silaturahmi, jadilah hamba-hamba
Allah yang bersaudara. Prasangka yang tidak sesuai itu tentu akan meresahkan
kehidupan bermasyarakat karena satu sama lainnya akan saling mencurigai dan
akan mengakibatkan perpecahan, permusuhan, peperangan dan akan merusak tatanan
kehidupan bermasyarakat dan bahkan bernegara. Untuk itu marilah kita untuk
selalu berprasangka baik kepada siapapun agar terhindar dari penyakit hati,”
ungkapnya.
Defisa, S.H menambahkan bahwa tidak
dibenarkan bagi seorang muslim tatkala dirinya mengatakan berbaik sangka kepada
Allah, namun perkataan itu hanya sebatas pengakuan saja tanpa diiringi dengan
amalan-amalan shalih yang nyata, dan di sisi lain ia tetap melakukan
perbuatan-perbuatan maksiat.
Ibnu Utasimin berkata "Kapankah
seorang hamba itu benar-benar berbaik sangka kepada Allah? Ia telah berbaik
sangka kepada Allah tatkala dirinya melakukan amalan-amalan yang akan
mendatangkan kemuliaan Allah dan rahmat-Nya, yaitu dengan melakukan amalan-amalan
shalih dan berprasangka baik bahwa Allah akan mengabulkannya. Adapun apabila ia
berprasangka baik kepada Allah, namun ia tidak mau beramal shalih, maka ini
termasuk kategori angan-angan semata kepada Allah. Barang siapa mengikuti hawa
nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah dengan beragam angan-angannya,
maka ia adalah seorang yang lemah" (Syarh Riyadush Shalihin, 1/501).
“Kajian ini saya tutup dengan quotes of
the day, hadiah terbaik adalah apa
yang kita miliki dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kita jalani,”
tuturnya.