[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Muslimah UNIDA: Bahaya Fitnah Hawa Nafsu di Akhir Zaman

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang digelar di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jum’at (9/1/2026). Kegiatan kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Anne Effane, S.Pd.I., M.Pd dengan materi bertema “Terjaga dari Fitnah Hawa Nafsu: Ujian Terbesar Sepanjang Zaman”.

Dalam tausyiahnya, Anne Effane, S.Pd.I., M.Pd menekankan bahwa hawa nafsu merupakan salah satu ujian paling berat yang dihadapi manusia sepanjang zaman. Menurutnya, fitnah hawa nafsu kerap hadir dalam bentuk yang samar, terlihat wajar, bahkan sering kali dianggap sebagai bagian dari gaya hidup.

“Hawa nafsu tidak selalu datang dalam bentuk dosa besar. Ia sering dibungkus dengan sesuatu yang tampak indah, normal, dan diterima oleh lingkungan, sehingga tanpa disadari menjauhkan manusia dari nilai-nilai iman,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, hawa nafsu bukan untuk dihilangkan, melainkan harus dikendalikan dengan iman dan akal. Ia juga mengingatkan bahwa ketika hawa nafsu dijadikan sebagai pedoman hidup, maka manusia berpotensi mengabaikan batas halal dan haram serta melupakan ridha Allah.

“Ketika hawa nafsu sudah menjadi ‘tuhan’, maka iman dan akal akan kalah. Inilah yang banyak kita saksikan di era sekarang, di mana dosa sering dinormalisasi dan bahkan dikemas dalam bentuk hiburan,” katanya.

Anne Effane, S.Pd.I., M.Pd turut menyinggung berbagai bentuk fitnah hawa nafsu di akhir zaman, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan media sosial, serta hilangnya rasa malu. Ia mengajak jamaah untuk mengambil teladan dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an, seperti Sayyidah Maryam, Asiyah istri Fir’aun, dan Nabi Yusuf ‘alaihis salam, yang mampu menjaga kehormatan dan keimanan meski berada dalam situasi penuh godaan.

“Mereka menunjukkan bahwa lingkungan buruk tidak menjadi alasan untuk kehilangan kesucian diri. Kekuatan iman adalah benteng utama dalam menjaga kehormatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan sejumlah langkah praktis untuk menjaga diri dari fitnah hawa nafsu, di antaranya memperkuat iman, menjaga pandangan, memperbanyak dzikir dan ibadah, serta menjauhi lingkungan yang dapat mengundang maksiat.

Menutup tausyiahnya, ia mengingatkan bahwa ukuran kekuatan seseorang bukan terletak pada fisik, melainkan pada kemampuannya mengendalikan diri.

“Orang yang paling kuat adalah mereka yang mampu menahan hawa nafsunya. Semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah hawa nafsu dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah,” pungkasnya.