[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Muslimah UNIDA: Krisis Literasi dalam Perspektif Islam dan Kepemimpinan

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang digelar di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jum’at (12/12/2025). Kegiatan kali ini diisi oleh Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd dengan tema “Krisis Literasi dan Membaca Dilihat dari Perspektif Islam dan Kepemimpinan”, ia memaparkan bahwa rendahnya kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis membawa dampak luas bagi kualitas masyarakat.

Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd menjelaskan bahwa krisis literasi bukan sekadar persoalan kemampuan dasar membaca.

“Kemampuan melek aksara memang tinggi, tetapi praktik budaya membaca yang produktif masih rendah,” ujarnya.

Merujuk data UNESCO yang menunjukkan bahwa banyak masyarakat mampu membaca secara teknis, namun tidak terbiasa membaca secara mendalam. Dalam konteks Indonesia, Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd menyebut masih kuatnya narasi mengenai rendahnya minat baca. Ia menilai bahwa dominasi gawai dan media sosial turut memperburuk situasi.

“Anak muda banyak mengakses informasi singkat, sehingga kemampuan memahami bacaan panjang melemah,” katanya.

Dari sisi ajaran Islam, Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd  menekankan bahwa literasi memiliki posisi istimewa. Ia menegaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan perintah membaca.

“Perintah iqra’ dalam Surah Al- Alaq mengajarkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas melihat teks, melainkan memahami pengetahuan dan realitas secara lebih luas,” tuturnya.

Sejumlah hadis yang menegaskan pentingnya keilmuan, bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an merupakan ciri kualitas iman dan kepemimpinan spiritual Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd menyoroti adanya kesenjangan antara nilai Islam dan kondisi literasi umat.

“Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban, tetapi banyak umat belum menjadikan membaca bagian dari keseharian,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa lemahnya literasi berdampak pada kesulitan memahami Al-Qur’an dan rentannya muncul kesalahpahaman ajaran agama. Dalam penjelasannya mengenai kepemimpinan, Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd mengemukakan bahwa pemimpin dalam Islam harus berilmu dan berakhlak.

“Pemimpin yang memiliki kebiasaan membaca cenderung lebih bijak dalam mengambil keputusan,” katanya.

Dr. Lina Herlina, S.Hum, M.Pd kemudian mengusulkan berbagai strategi untuk memperbaiki kondisi literasi, mulai dari menanamkan nilai Qur’ani sejak dini hingga memperkuat pendidikan literasi kritis.

“Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bekerja sama menumbuhkan kebiasaan membaca. Literasi Al-Qur’an juga perlu diperkuat melalui program-program pembelajaran yang efektif,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya, ia menekankan kembali pentingnya membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Literasi adalah pilar pembentukan pribadi dan pemimpin yang berwawasan luas.

“Saya melihat bahwa lingkungan UNIDA memiliki berbagai kegiatan seperti kajian muslimah, majelis tasbih, hingga khataman Al-Qur’an yang membentuk budaya literasi keislaman yang kuat di kampus. Dengan adanya kegiatan tersebut, mahasiswa yang mungkin tidak sempat membaca Al-Qur’an di rumah dapat difasilitasi untuk belajar dan membaca Al-Qur’an di UNIDA, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan spiritualitas kita dalam beragama Islam,” pungkasnya.