[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Muslimah UNIDA: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali gelar kegiatan rutin Kajian Muslimah yang pada kesempatan kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA, Dr. Lilis Fauziah Balqis, SH.I., MA., Ek dengan tema “Memahami Konsep Rezeki dalam Islam” di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA pada Jumat, 7 Maret 2025.

Dr. Lilis Fauziah Balqis, SH.I., MA., Ek dalam paparan kajiannya menyampaikan bahwa konsep rejeki dalam Islam. Rejeki tidak selalu berbicara tentang harta ataupun tentang uang yang bergelimang, Islam tak membatasi rezeki hanya dalam masalah harta. Menganggap rezeki hanya soal harta, padahal harta hanya 1 diantara rejeki dari Allah, rizki masing-masing hambanya Allah sudah jamin

Tidak sepatutnya seorang muslim khawatir terhadap rezekinya. Mengkhawatirkan rezeki sama saja tidak percaya dengan Allah yang Maha Kuasa karena mudah atau sulitnya hidup merupakan bentuk ujian dari Allah kepada makhluk. Selain itu ciri orang kaya menurut Islam bukanlah yang selalu bergelimang harta. Rezeki Allah begitu luas, banyaknya harta bukan jaminan kekayaan. Saat dilanda kesulitan harta, manusia perlu muhasabah. Di balik kurangnya harta, Allah tentu memberikan rezeki dalam bentuk yang lain.

Hakikat rezeki itu luas, Muslimah harus paham bahwa rezeki itu banyak seperti ketika bisa tidur malam dan meninggalkan maksiat itu termasuk rezeki, tidak suka minum alkohol itu pun rezeki, memiliki teman yang tulus dan selalu mengajak pada kebaikan, bisa bangun tengah malam untuk tahajud, bisa makan sehat dan sehat pun itu merupakan rezeki. Karena hakikatnya Konsep rezeki dalam Islam sejatinya hanyalah apa yang digunakan seorang muslim untuk mencapai ketakwaan. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan dibutuhkan banyak komponen pendukung. Baik berupa kekuatan badan, keluarga yang menguatkan, hingga beragam fasilitas. Mulai dari ilmu hingga kendaraan.

“Allah menakar rezeki hamba dengan memberikan rezeki tepat pada waktunya. Maka pembagian rezeki menurut Islam akan adil antara satu muslim dengan muslim lainnya. Memandang rezeki dari satu bagian adalah sebuah kesalahan. Terlebih hingga mengatakan Allah tidak adil lantaran membuat beda harta yang satu dengan yang lain. Dalam melihat luasnya rezeki Allah, sebaiknya manusia melakukan introspeksi. Dengannya manusia akan lebih bisa bersyukur. Pasalnya, meskipun manusia bersusah payah menghitung rezeki Allah, niscaya tidak akan mampu,” ungkapnya.