[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Muslimah UNIDA: Muslimah dan Pendidikan

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali gelar kegiatan rutin Kajian Muslimah yang pada kesempatan kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA, Dr. Helmia Tasti Adri, S.Pd., M.Pd.Si dengan tema “Muslimah dan Pendidikan” di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA pada Jumat, 21 Februari 2025.

Dr. Helmia Tasti Adri, S.Pd., M.Pd.Si dalam paparan kajiannya menyampaikan bahwa kewajiban menuntut ilmu ini tidak hanya terbatas kepada laki-laki saja, namun juga kepada perempuan. Karena sejatinya ilmu itu dibutuhkan oleh semua orang tidak terkecuali baik laki-laki maupun perempuan. Tidak terbatas gender. Pendidikan yang dimaksud adalah tidak hanya pendidikan formal saja, namun juga Pendidikan non formal, pendidikan dengan gelar maupun pendidikan tanpa gelar. Karena sejatinya gelar itu untuk memperoleh pekerjaan dan kedudukan atau kehormatan akan tetapi ilmu pengetahuan itu untuk memperoleh keselamatan di dunia maupun akhirat, hal ini dalam konteks ilmu agama maupun ilmu lainnya.

Adapun alasan mengapa Muslimah harus berpendidikan diantaranya yaitu Muslimah adalah madrasatul ula, yaitu sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dimana Ketika seorang Muslimah memiliki Pendidikan, maka dia siap untuk mendidik anak-anaknya. Ketika anak-anak itu dilahirkan dari rahim seorang Muslimah yang berpendidikan, maka akan lahirlah anak-anak yang berpendidikan. Ada istilah yaitu “terdidik untuk mendidik” jelas dalam istilah ini bahwa perempuan Muslimah yang terdidik akan siap untuk mendidik karena jika tidak berilmu, maka bagaimana akan berbagi ilmu kepada anak-anaknya atau kepada orang lain.

Perempuan yang berpendidikan akan bisa mandiri karena sejatinya tidak ada yang bisa memprediksi awal dan akhir kehidupan. Jadi Ketika seorang perempuan yang amat sangat bergantung kepada ayahnya, saudara laki-lakinya, suaminya, Ketika dia memiliki pengetahuan yang baik, seketika semua itu dicabut darinya maka dia akan tetap berdiri kokoh menjaga dirinya dan anak-anaknya apabila dia dititipi tanggung jawab menjadi seorang ibu.

Perempuan Muslimah harus berpendidikan untuk menyelamatkan umat. Jika Muslimah tidak menganggap pendidikan itu penting, maka sektor-sektor tertentu yang vital bagi kehidupan umat akan dikuasai oleh wanita non muslim. Sebagai contoh industri fashion, Ketika tidak ada Muslimah yang belajar tentang ilmu fashion designer, maka umat muslim akan kesulitan untuk mendapatkan pakaian Muslimah yang cantik tapi tetap syari dan mengikuti kaidah berpakaian yang baik bagi seorang Muslimah. Begitu juga dengan industri makanan ketika banyak dikuasai oleh perempuan non muslim, maka ketika muslim berada dilaur negeri di negara-negara amerika dan eropa, akan kesulitan menemukan makanan yang halal.

“Kalo kita melihat kepada sejarah, maka Muslimah dan pendidikan itu sangat erat dan membanggakan bagi sejarah umat islam. Dimana universitas tertua di dunia itu didirikan oleh muslim di Tunisia dan universitas tertua kedua di dunia itu didirikan oleh seorang Muslimah yaitu Fatimah Al Fihri, dimana dia mendirikan sebuah universitas yang berada dikota Fez Maroko bernama universitas Al-Qarawiyyin. Universtias ini juga adalah universitas yang pertama kali didunia memberikan gelar kepada lulusannya. Jadi kalo kita fikir universitas pertama di dunia itu didirikan oleh orang-orang barat, maka kita salah besar, karena universitas tertua didunia itu didirikan oleh muslim dan salah satunya didirikan oleh seorang Muslimah,” ungkapnya.