[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kajian Tauhid Muslimah UNIDA: Muslimah di Tengah Arus Ghazwul Fikri

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menggelar kegiatan rutin Kajian Tauhid Muslimah. Pada kesempatan kali ini, kajian menghadirkan Syifa Nadian Sabila, Mahasiswi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) sekaligus Mas’ulah LDK Mukhlis UNIDA, dengan tema “Muslimah di Tengah Arus Ghazwul Fikri”. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA, Jumat (29/05/2026).

Dalam pemaparannya, Syifa Nadian Sabila menjelaskan bahwa ghazwul fikri merupakan perang pemikiran yang bertujuan memengaruhi cara pandang umat Islam sehingga menjauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Menurutnya, pengaruh tersebut dapat berdampak pada akhlak, pola pikir, kepribadian, hingga loyalitas umat Islam apabila tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang kuat.

Ia menuturkan bahwa berbagai bentuk ghazwul fikri dapat hadir melalui penyebaran pemikiran, budaya, maupun kebiasaan yang perlahan dinormalisasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, umat Islam perlu memperkuat akidah, meningkatkan literasi keislaman, serta memiliki sikap kritis terhadap berbagai pengaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dalam kesempatan ini, Syifa Nadian Sabila juga menjelaskan bahwa muslimah memiliki peran penting dalam menjaga identitas keislaman di tengah berbagai tantangan pemikiran yang berkembang di era modern. Pemahaman agama yang baik, menurutnya, menjadi bekal penting agar seorang muslimah mampu mempertahankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, ia mengajak peserta untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina. Menurutnya, perhatian terhadap Palestina tidak hanya dilandasi oleh rasa kemanusiaan, tetapi juga karena faktor akidah, keadilan, dan sejarah yang menjadi bagian dari tanggung jawab umat Islam.

Dalam pemaparannya, ia juga mengutip QS. Al-Baqarah ayat 190 yang menjelaskan perintah untuk berjuang di jalan Allah terhadap pihak yang memerangi kaum muslimin, namun tetap tidak melampaui batas. Melalui ayat tersebut, ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan perjuangan yang tetap berlandaskan nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Sebagai umat Islam, kita harus memiliki kepedulian terhadap perjuangan Palestina. Islam mengajarkan untuk berjuang melawan kezaliman, namun tetap tidak melampaui batas. Palestina telah memberikan contoh bagaimana nilai-nilai kemanusiaan tetap dijaga, seperti melindungi perempuan, orang tua, dan anak-anak meskipun berada dalam situasi konflik,” ungkapnya.

Di akhir kajian, Syifa Nadian Sabila mengajak peserta untuk terus memperkuat ibadah sebagai benteng dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran di era modern.

“Karena itu, kita perlu terus menguatkan ibadah, menjaga shalat lima waktu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan iman dan ibadah yang kuat, kita memiliki benteng untuk menghadapi berbagai tantangan pemikiran yang dapat menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam,” terangnya.