[email protected] 0251-8240773
Informasi

Kartini Dulu dan Sekarang: Ngobrolin Wanita dari Sudut Pandang Filsafat, Sunda, dan Islam

 

Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H

Wakil Rektor I Universitas Djuanda

(...seorang peneladan Ibunda dan penyayang Istri...)

  

Pendahuluan

Tanggal 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini, sebuah momen sakral untuk mengingat kembali Raden Adjeng Kartini, seorang pahlawan wanita yang berani mendobrak belenggu tradisi dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Kartini bukan hanya simbol emansipasi wanita, tetapi juga pengingat akan perjuangan panjang untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Semangat Kartini terus membara, namun pertanyaan mendasar tentang bagaimana kita memperlakukan dan menghargai wanita tetap relevan di era modern ini.

Dewasa ini, diskursus tentang wanita sering kali terjebak dalam polarisasi dan stereotip. Oleh karena itu, sepatutnya kita merefleksikan kembali esensi dari penghormatan terhadap wanita dari berbagai perspektif yang kaya dan mendalam.

Dalam ulasan prakata ini, kita akan menjelajahi representasi wanita kata pria melalui lensa filsafat, kearifan budaya Sunda, dan ajaran Islam. Melalui pendekatan interdisipliner ini, kita akan menggali lebih dalam tentang mengapa menghormati, mengagungkan, dan memuliakan wanita adalah sebuah imperatif moral, bukan sekadar pilihan sosial atau budaya.

Landasan Filosofis: Mengapa Menghormati Wanita?

Dari sudut pandang filosofis, penghormatan terhadap wanita berakar pada pengakuan akan martabat manusia yang inheren. Immanuel Kant, dalam karyanya Kritik Akal Budi Praktis, menekankan bahwa setiap pribadi harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat untuk mencapai tujuan lain. Artinya, wanita, seperti halnya pria, memiliki nilai intrinsik yang tidak boleh direduksi menjadi fungsi sosial semata. Martabat ini menuntut agar kita menghormati hak-hak dasar wanita, termasuk hak untuk hidup, hak untuk bebas dari kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan publik.

John Stuart Mill, seorang pemikir liberal klasik, berpendapat dalam The Subjection of Women bahwa penindasan terhadap wanita adalah hambatan besar bagi kemajuan sosial. Mill meyakini bahwa kesetaraan gender bukan hanya masalah keadilan, tetapi juga prasyarat untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kreatif, dan sejahtera. Ketika wanita memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya, seluruh masyarakat akan diuntungkan. Lebih jauh lagi, Mill menentang argumen bahwa wanita secara alami lebih rendah daripada pria, dengan menyatakan bahwa perbedaan yang kita lihat antara pria dan wanita sebagian besar merupakan hasil dari pendidikan dan sosialisasi yang berbeda.

Selain itu, care ethics (etika kepedulian) yang dipelopori oleh Carol Gilligan, menawarkan perspektif penting tentang bagaimana kita memahami hubungan dan tanggung jawab moral. Care ethics menekankan pentingnya empati, kasih sayang, dan responsif terhadap kebutuhan orang lain. Dalam konteks penghormatan terhadap wanita, care ethics menuntut agar kita tidak hanya memperlakukan wanita sebagai individu yang setara, tetapi juga mengakui dan menghargai peran penting mereka dalam merawat keluarga, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan.

Sentuhan feminisme eksistensialis, sebagaimana dikemukakan oleh Simone de Beauvoir, mengingatkan kita bahwa konstruksi sosial tentang "wanita" sering kali membatasi potensi individu. Beauvoir berpendapat bahwa wanita tidak dilahirkan sebagai wanita, tetapi menjadi wanita melalui proses sosialisasi dan internalisasi norma-norma gender. Oleh karena itu, penting untuk melawan stereotip gender dan memberikan wanita kebebasan untuk menentukan identitas dan jalan hidup mereka sendiri.

Kearifan Urang Sunda: Perempuan dalam Pandangan Leluhur Sunda

Dalam kearifan budaya Sunda, penghormatan terhadap perempuan telah menjadi bagian integral dari pandangan dunia masyarakat. Hal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari mitologi hingga praktik sosial sehari-hari. Salah satu contoh yang populer adalah penghormatan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Sri, dewi padi yang dianggap sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan hidup. Nyi Pohaci bukan hanya sekadar dewi, tetapi juga representasi dari kekuatan feminin yang memberikan kehidupan dan memelihara alam semesta. Penghormatan terhadap Nyi Pohaci mencerminkan penghargaan yang mendalam terhadap peran perempuan sebagai pemberi kehidupan dan penjaga keseimbangan alam. Bahkan, dalam ritual-ritual pertanian tradisional Sunda, perempuan seringkali memegang peran kunci dalam memohon berkah dari Nyi Pohaci agar panen melimpah.

Selain itu, dalam struktur keluarga Sunda tradisional, perempuan memegang peran sentral sebagai pengelola rumah tangga, pendidik anak, dan penasihat suami. Perempuan Sunda dikenal karena kecerdasan, kelembutan, dan kemampuannya dalam menjaga keharmonisan keluarga. Mereka bukan hanya ibu rumah tangga, tetapi juga agen perubahan yang aktif dalam komunitas mereka. Keputusan-keputusan penting dalam keluarga sering kali diambil melalui musyawarah antara suami dan istri, yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki suara yang didengar dan dihargai (bukan karena SUSIS; Suami Sieun Istri...).

Nilai-nilai penghormatan terhadap perempuan juga tercermin dalam berbagai pepatah dan ungkapan Sunda. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah 'indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat', yang secara harfiah berarti 'ibu adalah pokok keselamatan, ayah adalah pohon derajat'. Pepatah ini menggambarkan betapa pentingnya peran ibu dalam memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi keluarga, sementara ayah berperan dalam menjaga kehormatan dan martabat keluarga di mata masyarakat. Pepatah ini bukan hanya sekadar ungkapan, tetapi juga panduan moral yang mengingatkan masyarakat Sunda untuk selalu menghormati dan menghargai peran ibu/wanita dalam kehidupan.

Meskipun tidak semua cerita rakyat Sunda secara eksplisit menggambarkan perempuan sebagai tokoh yang kuat, ada beberapa contoh yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dan pahlawan. Salah satu contohnya adalah kisah Dayang Sumbi, ibu dari Sangkuriang, yang dikenal karena kecantikannya dan kemampuannya dalam menenun. Meskipun Dayang Sumbi melakukan kesalahan dengan melanggar janjinya, kisahnya tetap menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan dan kecerdasan yang luar biasa. 

Perspektif Islam dalam Memuliakan Wanita

Dalam perspektif Islam, memuliakan wanita adalah perintah ilahi yang ditegaskan dalam Al- Qur'an dan Sunnah. Allah berfirman dalam An-Nisa (4:19):

  1. Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.

Ayat ini menggarisbawahi kewajiban suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik, penuh kasih sayang, dan tanpa kekerasan. Lebih jauh lagi, Al-Qur'an, Ar-Rum (30:21) Allah berfirman:

  1. Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Ayat terebut menggambarkan hubungan antara suami dan istri sebagai tanda kebesaran Allah, di mana terdapat ketenangan, cinta, dan kasih sayang.

Nabi Muhammad SAW juga memberikan contoh yang luar biasa dalam memperlakukan wanita dengan hormat dan penuh kasih sayang.

Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya (HR at-Tirmizi).

Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas seorang Muslim dapat diukur dari bagaimana ia memperlakukan pasangannya. Nabi juga sangat menekankan pentingnya berbuat baik kepada ibu, bahkan menempatkannya tiga tingkat lebih tinggi daripada ayah dalam hal kewajiban berbakti.

Sejarah Islam mencatat banyak contoh perempuan yang memainkan peran penting dalam berbagai bidang kehidupan. Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW, adalah seorang pengusaha sukses dan pendukung utama dakwah Islam di awal. Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi yang lain, dikenal karena kecerdasannya dan berkontribusi sangat besar dalam meriwayatkan banyak hadis. Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW, adalah contoh seorang ibu dan istri yang salehah. Perempuan-perempuan ini dan banyak lainnya telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi perkembangan peradaban Islam. 

Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kepada perempuan yang tidak dimiliki oleh perempuan di banyak budaya lain pada saat itu, seperti hak untuk memiliki properti, hak untuk melakukan transaksi keuangan, dan hak untuk mendapatkan pendidikan. Meskipun terdapat perbedaan interpretasi tentang bagaimana hak-hak ini harus diterapkan dalam praktik, prinsip dasar kesetaraan dan keadilan gender tetap menjadi landasan ajaran Islam.

Kesimpulan

Dari Kartini hingga kini, perjuangan untuk menghormati, mengagungkan, dan memuliakan wanita terus bergema. Melalui lensa filsafat, kearifan Sunda, dan ajaran Islam, kita telah melihat bagaimana penghargaan terhadap wanita bukan hanya sebuah ideal, tetapi juga sebuah keharusan moral dan spiritual. Wanita adalah tiang negara, ibu pertiwi, dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, mari kita terus berupaya untuk menciptakan dunia di mana setiap wanita dapat hidup dengan aman, bebas, dan penuh martabat.

Penghormatan terhadap wanita bukanlah tugas yang selesai dengan sendirinya, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen dari setiap individu dan seluruh masyarakat. Kita harus terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi dalam upaya kita untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil bagi semua. Dengan menghormati wanita, kita tidak hanya menghormati diri kita sendiri, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia. Mari jadikan semangat Kartini sebagai inspirasi untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan, serta memastikan bahwa suara dan aspirasi wanita didengar dan dihargai di setiap lapisan masyarakat. Inilah terbaik yang bisa kita berikan untuk mewujudkan cita-cita Kartini di UNIDA Kampus Bertauhid.

 

Kesana kemari membeli beras,

Beras hilang, tinggal dahaga.

Kartini UNIDA memang berkelas

Prestasi gemilang, marwah terjaga.

 

Selamat Hari Kartini

Bogor, 19 April 2025