Kegiatan Rutin Ketauhidan Majelis Dhuha UNIDA, Bahas Keutamaan Syukur dalam Tafsir Lughawi Surat Al-Kautsar
Universitas Djuanda
(UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Dhuha pada Rabu, 24 Mei 2023 di Masjid Baitul Hamdi UNIDA.
Majelis tersebut diisi oleh Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas
Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA, Didin Syamsudin, S.Pd., M.Pd dan
dihadiri oleh Rektor UNIDA, Prof. Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D beserta jajaran.
Majelis Dhuha
merupakan kegiatan rutin setiap bulan yang diinisasi oleh BPPT UNIDA, dalam
Majelis Dhuha diisi oleh kegiatan Solat Dhuha berjamaah, doa bersama serta
kajian-kajian islami.
Rektor UNIDA, Prof.
Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D dalam sambutannya menyatakan bahwa budaya belajar
mengajar adalah budaya islam yang harus terus dipertahankan terutama oleh kaum muslim. Budaya
tersebut bisa dibuktikan dari banyak ahli-ahli terkenal di dunia yang merupakan
seorang muslim, baik ahli kimia, matematika dan lainnya yang sampai saat ini dampak
ilmu pengetahuannya sangat dapat dirasakan.
“Ilmu pengetahuan sangat
luas dan tidak terbatas, mari belajar mulai dari masjid seperti saat ini
sedang dilaksanakan dalam Majelis Dhuha. Tradisi ini bagus dan sangat penting
untuk dipertahankan karena banyak memberikan manfaat,” tutur Prof. Mohamad Ali
Fulazzaky, Ph.D.
"Kegiatan
seperti ini sangat baik dilaksanakan untuk menghidupkan masjid dengan
kajian-kajian ilmu pengetahuan dan diharapkan ini akan terus dikembangkan.
Semoga BPPT akan terus berinovasi untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan seperti
Majelis Dhuha karena ini dapat menjadi tempat latihan insan UNIDA sehingga ini
bagus menjadi bekal untuk kehidupan di masyarakat," sambungnya.
Sementara itu, Didin
Syamsudin, S.Pd., M.Pd selaku pemateri dalam paparannya menganai Tafsir Lughawi
Surat Al-Kautsar menyampaikan bahwasanya walaupun surat ini disampaikan pada
Nabi Muhammad SAW, akan tetapi ini merupakan nilai-nilai agar semua insan bersyukur
atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
“Seperti nikmat saat
tentram yang sangat sulit dirasakan di negara-negara yang sedang terjadi perang,
nikmat tubuh sehat dan nikmat setiap hari dapat memenuhi kebutuhan itu
merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT dan perlu untuk disadari dan
tentu untuk sangat disyukuri. Rezeki itu luas bukan hanya gaji, gaji hanya
sebagian dari rezeki, dengan segala rezeki yang diberikan Allah SWT hendaknya
selalu disyukuri,”
paparnya.
Didin Syamsudin,
S.Pd., M.Pd
menambahkan, kunci bahagia itu sebenarnya sederhana, kalau
diberi kebahagiaan bersyukur dan ketika diberi musibah harus bersabar.
“Ketika kita
kehilangan dan bersedih maka hendaknya bersabar dan berdoa, bisa jadi Allah akan
menggantinya dengan nikmat yang lebih besar. Bentuk rasa syukur kita baiknya dengan memaksmalkan berdoa, shalat dan
berkurban. Berkurban disini bukan hanya dimaknai dengan berkurban hewan qurban,
akan tetapi bisa dimaknai secara luas yaitu dengan
berkorban dalam hal apapun di jalan Allah, seperti berkorban waktu,
berkorban harta dan lainnya. Dan bentuk rasa syukur kita akan nikmat Allah
tentu dengan memaksimalkan potensi dalam diri untuk menjalankan perintah Allah
dan menjauhkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah secara maksimal,” ungkap
Didin Syamsudin, S.Pd., M.Pd.