[email protected] 0251-8240773
Berita

Kembangkan Jejaring Kolaborasi, Wakil Rektor III UNIDA Hadiri Seminar Sosialisasi Invensi Layak Komersialisasi dari Riset GRS BPDPKS

Acara Seminar Sosialisasi Invensi Layak Komersialisasi dari Riset GRS BPDPKS diselenggarakan oleh Asosiasi Inventor Indonesia (AII) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kepala Sawit (BPDPKS) bertempat di Hotel Aston Priority, Jakarta pada hari Selasa, 16 Mei 2023.   Kegiatan seminar ini dihadiri oleh unsur pemerintah, Dunia Usaha – Dunia Industri (DUDI), para inventor yang tergabung dalam Asiosiasi Inventor Indonesia (AII), dan perguruan tinggi.  Pada kegiatan ini, Wakil Rektor 3 Bidang Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan Institusi Universitas Djuanda, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si., hadir mewakili Prof. Mohamd Ali Fulazzaky, Ph.D., sebagai representatif fasilitator inventor dari Universitas Djuanda.

Sebagai narasumber dalam kegiatan seminar ini diantaranya adalah Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, Zaid Burhan Ibrahim yang menyampaikan materi terkait ”Arah dan Target Riset untuk Penguatan Industri Sawit”; Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Dr.Ir. Hariyadi BS Sukamdani, MM yang menyampaikan materi terkait ”Peran Pelaku Usaha dalam Penguatan Industri Kelapa Sawit Nasional Berbasis Teknologi Dalam Negeri”; serta Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia, Prof (R). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D., INV yang menyampaikan materi terkait ”Peran AII (Asosiasi Inventor Indonesia) dalam Memacu Komersialisasi Invensi Teknologi”.

Direktur Penyaluran Dana BPDPKS memperkenalkan BPDPKS sebagai sebuah badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang memfasilitasi berbagai kegiatan yang ditujukan untuk turut serta mensejahterakan masyarakat Indonesia.  Pada kesempatan ini, BPDPKS telah, sedang dan akan menyalurkan dana-dana riset pengembangan berbasis perkebunan sawit melalui skema Grant Riset Sawit (GRS) agar dapat menghasilkan invensi yang dapat dikomersialisasi dan memberikan nilai guna dan nilai tambah untuk mendorong perekonomian nasional dan pembangunan berkelanjutan.  BPDPKS juga menyalurkan bantuan berupa fasilitas produksi, seperti bibit sawit, yang dapat diberikan kepada para kelompok produsen masyarakat sebagai upaya peningkatan kualitas dan keberlanjutan produksi sawit, selain juga peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan terprogram dan beasiswa bagi anak-anak pekebun/buruh sawit untuk dapat kuliah di perguruan tinggi, baik diploma 1-4 dan sarjana. 

BPDPKS menyalurkan dana riset dengan beragam isu seperti lingkungan, keberlanjutan, sosial ekonomi, produktivitas sawit, peningkatan nilai tambah, perubahan iklim, dan isu terkait lainnya.  Riset ini harus menghasilkan invensi yang dapat dikomersialisasi sehingga AII dapat menjadi media promosi dan matching media inventor dan DUDI.  Usulan riset biasanya dimulai pada setiap akhir tahun (November) hingga penetapan ”fund awardee” pada sekitar awal tahun (Februari).  Seleksi riset ini dilakukan oleh Komite Penelitian dan Pengembangan yang membantu BPDPKS dalam setiap proses seleksi.  Selain penelitian dosen/peneliti, BPDPKS juga menyediakan beasiswa riset mahasiswa melalui berbagai kompetisi sebagai ajang peminatan dan kreativitas mahasiswa untuk dapat berkontribusi dalam kegiatan ini.  Semangatnya adalah setiap aktivitas yang dilakukan oleh BPDPKS adalah kebermanfaatan hasil bagi perusahaan (swasta), pekebun (rakyat) dan perekononian Indonesia (pemerintah).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyampaikan ketertarikannya agar terjalin kolaborasi yang kuat antara dunia usaha dan dunia industri dengan para inventor dan pemerintah agar dapat menghasilkan riset dan pengembangan yang menghasilkan paten dan dapat dikomersialisasi.  Hal ini tentu saja penting bagi para pelaku usaha untuk memberdayakan setiap invensi untuk mendapatkan benefit bersama, disamping juga dapat mendorong pelaku usaha untuk dapat memperoleh dukungan berupa ”Support Tax Reduction”.  Perlu dibangun sebuah formula kolaborasi yang menghasilkan benefit bersama dan saling memberikan manfaat secara proporsional.  Selain itu, perlu juga dibangun tujuan utama kolaboratif yang bukan hanya ada ”mutual benefit” antara inventor dan investor, melainkan yang paling penting lagi adalah adanya sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat Indonesia umumnya dan khususnya para pekebun sawit dan keluarganya.  Keberlanjutan  usaha perkebunan sawit masih mempunyai ancaman yang perlu dicarikan solusinya seperti misalnya masalah aspek legal dalam pembukaan lahan dan/atau pendaftaran ulang konsesi lahan HGU serta konsolidasi data yang selalu menjadi polemik dalam pengembangan lahan perkebunan sawit.  Ketum APINDO menyampaikan keterbukaan untuk menjadi jembatan ”Cross-Sector” dalam rangka komersialisasi invensi yang dihasilkan dari riset GRS BPDPKS dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang tergabung dalam APINDO.

Pada sesi terakhir, Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII) menyajikan video 17 invensi layak komersialisasi dari riset GRS BPDPKS.  Video menyajikan profil masing-masing invensi, keunggulan produknya, benefit dan harga perkiraan sendiri dari produk yang dihasilkan.  Profil ini diharapkan dapat ditangkap oleh DUDI untuk dijadikan target produksi bagi para investor yang berminat bekerjasama dengan inventor yang dipilihnya.  17 inventor berbasis hasil riset BPDPKS berasal dari LPPM ITS (1 invensi), LPPM ITB (4 invensi), Universitas Lampung (1 invensi), UGM (2 invensi), Universitas Palarangkaraya (1 invensi), Universitas Sriwijaya (1 invensi), LPPM UNS (1 invensi), LPPM IPB (2 invensi), LPPM Universitas Lambung Mangkurat (1 invensi), Politeknik Media Kreatif (1 invensi), PPKS – RPN (1 invensi), dan MAKSI (1 invensi).

Selain itu, Ketua Umum AII juga menyampaikan perihal sejarah pendidikan Asosiasi Inventor Indonesia yang dimulai sejak 18 Juli 2008, dimana lingkup kegiatan AII diantaranya adalah (i) menghimpun, membina, mengembangkan, dan mewujudkan kepribadian dan moral untuk dapat lebih berperan dalam meningkatkan dan mengasilkan IPTEK Indonesia di dunia Internasional; (ii) melindungi kepentingan anggota atas segala paten; (iii) meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan pembudayaan IPTEK; dan (iv) mempererat hubungan antar anggota AII.

Pada kesempatan ini, Wakil Rektor 3 Bidang Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan Institusi Universitas Djuanda pada kesempatan ini berusaha untuk membangun peluang kerjasama dan mengembangkan jejaring kolaborasi antar inventor, dengan investor dan pengambil kebijakan.  Peluang kerjasama inventor Universitas Djuanda dan investor sangat terbuka, karena para investor juga melakukan berbagai upaya untuk melakukan pengembangan usaha/industri di berbagai bidang.  Bagi para investor, mutual benefit dan profit menjadi hal yang paling menarik untuk ditargetkan, karena biar bagaimanapun profit merupakan tujuan usaha, selama perusahaan dapat memperoleh profit minimal 25 persen dari hasil invensi, maka investor akan berlomba untuk mendapatkan kerjasama industri dengan para inventor potensial di berbagai perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian lainnya.  Beberapa peluang kerjasama bagi para inventor berbasis ”natural science”, terutama Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda, diharapkan dapat terjalin lebih luas dan lebih baik.  Peluang kerjasama pertama semoga dapat segera dimulai dengan pemberdayaan Ponpes Bina Tauhid sebagai media pengembangan usaha bagi salah satu inventor yang ingin menjadikan pesantren di Indonesia sebagai media dakwah komersialisasi usaha invensinya.  Selain itu, salah satu investor membuka kesempatan untuk memilah dan memilih beberapa invensi yang dimiliki para inventor Universiras Djuanda.  Untuk riset khusus berbasis perkebunan sawit ini, Universitas Djuanda akan segera membuat tim khusus lintas program studi dan fakultas agar dapat berperan serta dalam program pendanaan riset dengan skema GRS dari BPDPKS Kemenkeu RI ini mengingat peluang pendanaan yang besar dan durasi riset yang multi year.