Kembangkan Jejaring Kolaborasi, Wakil Rektor III UNIDA Hadiri Seminar Sosialisasi Invensi Layak Komersialisasi dari Riset GRS BPDPKS
Acara Seminar Sosialisasi Invensi Layak Komersialisasi dari Riset GRS BPDPKS
diselenggarakan oleh Asosiasi Inventor Indonesia (AII) bekerjasama dengan Badan
Pengelola Dana Perkebunan Kepala Sawit (BPDPKS) bertempat di Hotel Aston
Priority, Jakarta pada hari Selasa, 16 Mei 2023. Kegiatan seminar ini dihadiri oleh unsur
pemerintah, Dunia Usaha – Dunia Industri (DUDI), para inventor yang tergabung
dalam Asiosiasi Inventor Indonesia (AII), dan perguruan tinggi. Pada kegiatan ini, Wakil Rektor 3 Bidang
Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan
Institusi Universitas Djuanda, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si., hadir mewakili
Prof. Mohamd Ali Fulazzaky, Ph.D., sebagai representatif fasilitator inventor
dari Universitas Djuanda.
Sebagai narasumber dalam kegiatan seminar ini diantaranya adalah Direktur
Penyaluran Dana BPDPKS, Zaid Burhan Ibrahim yang menyampaikan materi terkait
”Arah dan Target Riset untuk Penguatan Industri Sawit”; Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Indonesia, Dr.Ir. Hariyadi BS Sukamdani, MM yang menyampaikan materi
terkait ”Peran Pelaku Usaha dalam Penguatan Industri Kelapa Sawit Nasional
Berbasis Teknologi Dalam Negeri”; serta Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia,
Prof (R). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D., INV yang menyampaikan materi
terkait ”Peran AII (Asosiasi Inventor Indonesia) dalam Memacu Komersialisasi
Invensi Teknologi”.
Direktur Penyaluran Dana BPDPKS memperkenalkan BPDPKS sebagai sebuah badan
layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang
memfasilitasi berbagai kegiatan yang ditujukan untuk turut serta
mensejahterakan masyarakat Indonesia.
Pada kesempatan ini, BPDPKS telah, sedang dan akan menyalurkan dana-dana
riset pengembangan berbasis perkebunan sawit melalui skema Grant Riset Sawit
(GRS) agar dapat menghasilkan invensi yang dapat dikomersialisasi dan
memberikan nilai guna dan nilai tambah untuk mendorong perekonomian nasional
dan pembangunan berkelanjutan. BPDPKS
juga menyalurkan bantuan berupa fasilitas produksi, seperti bibit sawit, yang
dapat diberikan kepada para kelompok produsen masyarakat sebagai upaya
peningkatan kualitas dan keberlanjutan produksi sawit, selain juga peningkatan
kualitas SDM melalui pelatihan terprogram dan beasiswa bagi anak-anak
pekebun/buruh sawit untuk dapat kuliah di perguruan tinggi, baik diploma 1-4
dan sarjana.
BPDPKS menyalurkan dana riset dengan beragam isu seperti lingkungan,
keberlanjutan, sosial ekonomi, produktivitas sawit, peningkatan nilai tambah,
perubahan iklim, dan isu terkait lainnya.
Riset ini harus menghasilkan invensi yang dapat dikomersialisasi
sehingga AII dapat menjadi media promosi dan matching media inventor dan
DUDI. Usulan riset biasanya dimulai pada
setiap akhir tahun (November) hingga penetapan ”fund awardee” pada sekitar awal
tahun (Februari). Seleksi riset ini
dilakukan oleh Komite Penelitian dan Pengembangan yang membantu BPDPKS dalam
setiap proses seleksi. Selain penelitian
dosen/peneliti, BPDPKS juga menyediakan beasiswa riset mahasiswa melalui
berbagai kompetisi sebagai ajang peminatan dan kreativitas mahasiswa untuk
dapat berkontribusi dalam kegiatan ini.
Semangatnya adalah setiap aktivitas yang dilakukan oleh BPDPKS adalah
kebermanfaatan hasil bagi perusahaan (swasta), pekebun (rakyat) dan
perekononian Indonesia (pemerintah).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyampaikan ketertarikannya
agar terjalin kolaborasi yang kuat antara dunia usaha dan dunia industri dengan
para inventor dan pemerintah agar dapat menghasilkan riset dan pengembangan
yang menghasilkan paten dan dapat dikomersialisasi. Hal ini tentu saja penting bagi para pelaku
usaha untuk memberdayakan setiap invensi untuk mendapatkan benefit bersama,
disamping juga dapat mendorong pelaku usaha untuk dapat memperoleh dukungan
berupa ”Support Tax Reduction”. Perlu
dibangun sebuah formula kolaborasi yang menghasilkan benefit bersama dan saling
memberikan manfaat secara proporsional.
Selain itu, perlu juga dibangun tujuan utama kolaboratif yang bukan
hanya ada ”mutual benefit” antara inventor dan investor, melainkan yang paling
penting lagi adalah adanya sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat Indonesia
umumnya dan khususnya para pekebun sawit dan keluarganya. Keberlanjutan
usaha perkebunan sawit masih mempunyai ancaman yang perlu dicarikan
solusinya seperti misalnya masalah aspek legal dalam pembukaan lahan dan/atau
pendaftaran ulang konsesi lahan HGU serta konsolidasi data yang selalu menjadi
polemik dalam pengembangan lahan perkebunan sawit. Ketum APINDO menyampaikan keterbukaan untuk
menjadi jembatan ”Cross-Sector” dalam rangka komersialisasi invensi yang
dihasilkan dari riset GRS BPDPKS dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI)
yang tergabung dalam APINDO.
Pada sesi terakhir, Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII) menyajikan
video 17 invensi layak komersialisasi dari riset GRS BPDPKS. Video menyajikan profil masing-masing
invensi, keunggulan produknya, benefit dan harga perkiraan sendiri dari produk
yang dihasilkan. Profil ini diharapkan
dapat ditangkap oleh DUDI untuk dijadikan target produksi bagi para investor
yang berminat bekerjasama dengan inventor yang dipilihnya. 17 inventor berbasis hasil riset BPDPKS
berasal dari LPPM ITS (1 invensi), LPPM ITB (4 invensi), Universitas Lampung (1
invensi), UGM (2 invensi), Universitas Palarangkaraya (1 invensi), Universitas
Sriwijaya (1 invensi), LPPM UNS (1 invensi), LPPM IPB (2 invensi), LPPM
Universitas Lambung Mangkurat (1 invensi), Politeknik Media Kreatif (1
invensi), PPKS – RPN (1 invensi), dan MAKSI (1 invensi).
Selain itu, Ketua Umum AII juga menyampaikan perihal sejarah pendidikan
Asosiasi Inventor Indonesia yang dimulai sejak 18 Juli 2008, dimana lingkup
kegiatan AII diantaranya adalah (i) menghimpun, membina, mengembangkan, dan
mewujudkan kepribadian dan moral untuk dapat lebih berperan dalam meningkatkan
dan mengasilkan IPTEK Indonesia di dunia Internasional; (ii) melindungi
kepentingan anggota atas segala paten; (iii) meningkatkan kemampuan, pengetahuan
dan pembudayaan IPTEK; dan (iv) mempererat hubungan antar anggota AII.
Pada kesempatan ini, Wakil Rektor 3 Bidang Riset, Pengabdian Kepada
Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi dan Pengembangan Institusi Universitas Djuanda pada
kesempatan ini berusaha untuk membangun peluang kerjasama dan mengembangkan
jejaring kolaborasi antar inventor, dengan investor dan pengambil
kebijakan. Peluang kerjasama inventor
Universitas Djuanda dan investor sangat terbuka, karena para investor juga
melakukan berbagai upaya untuk melakukan pengembangan usaha/industri di
berbagai bidang. Bagi para investor,
mutual benefit dan profit menjadi hal yang paling menarik untuk ditargetkan,
karena biar bagaimanapun profit merupakan tujuan usaha, selama perusahaan dapat
memperoleh profit minimal 25 persen dari hasil invensi, maka investor akan
berlomba untuk mendapatkan kerjasama industri dengan para inventor potensial di
berbagai perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian lainnya. Beberapa peluang kerjasama bagi para inventor
berbasis ”natural science”, terutama Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu
Pangan Halal Universitas Djuanda, diharapkan dapat terjalin lebih luas dan
lebih baik. Peluang kerjasama pertama
semoga dapat segera dimulai dengan pemberdayaan Ponpes Bina Tauhid sebagai
media pengembangan usaha bagi salah satu inventor yang ingin menjadikan
pesantren di Indonesia sebagai media dakwah komersialisasi usaha
invensinya. Selain itu, salah satu
investor membuka kesempatan untuk memilah dan memilih beberapa invensi yang dimiliki
para inventor Universiras Djuanda. Untuk
riset khusus berbasis perkebunan sawit ini, Universitas Djuanda akan segera
membuat tim khusus lintas program studi dan fakultas agar dapat berperan serta
dalam program pendanaan riset dengan skema GRS dari BPDPKS Kemenkeu RI ini
mengingat peluang pendanaan yang besar dan durasi riset yang multi year.