[email protected] 0251-8240773
Informasi

Kepribadian Fatimah Az-Zahra dan Relevansinya dengan Pendidikan Muslimah Masa Kini

Di zaman yang serba modern dan maju seperti ini, tantangan untuk menjadi wanita Muslimah salihah jauh lebih besar dan berat. Bahkan, tidak jarang kita melihat ada sosok-sosok wanita yang mengaku sebagai Muslimah akan tetapi sikap dan perilakunya mencerminkan hal yang sebaliknya.

Muslimah merupakan komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat menentukan perannya dalam membentuk generasi dan menciptakan peradaban. Dengan pendidikan yang dimiliki, seorang wanita dapat memberikan kontribusi lebih. Tidak hanya sebagai ibu dan istri tapi juga bisa berkontribusi untuk masyarakat sehingga hidupnya akan lebih bermanfaat dan berkah.

Eksistensi  wamita dalam kehidupan masyarakat diakui sebagai bagian dari rahmatan lil alamin. Kemajuan dan kemunduran generasi-generasi Islam tidak terlepas dari kaum perempuan.

Salah satu generasi islam kaum muslimah yang bisa dijadikan teladan adalah anak bungsu kesayangan Nabi Muhammad SAW yakni Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Ia adalah salah satu wanita inspiratif yang patut kita teladani, ia adalah wanita shalihah yang berparas anggun yang memiliki sifat yang mulia yang diwariskan langsung oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Fathimah Az-Zahra memiliki karakter yang begitu kuat yang dapat kita jadikan contoh untuk menghadapi kerasnya zaman globalisasi modern ini.

Fatimah menjadi panutan dan contoh teladan dalam sifat-sifatnya yang agung. Dia menyandang secara sempurna sifat-sifat seperti rasa kemanusiaan, tanggung jawab, harga diri, kesucian, kepedulian sosial, kecerdasan dan berilmu pengetahuan yang luas. Hal ini sangatlah wajar karena ia adalah seorang yang lahir dari lingkungan keluarga Nabi, tumbuh di sekitar madrasah kenabian, dan langsung mendapat pendidikan dari ayahnya. Dari berbagai riwayat berkenaan dengan Fatimah kita bisa melihat betapa beliau senantiasa sibuk dengan kegiatan kegiatan ruhaniahnya dan tidak pernah melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa pada diri Fatimah terdapat keistimewaan akhlak yang menakjubkan.

Keutamaan Fatimah bukanlah hanya karena beliau adalah putri dari Rasulullah SAW semata, akan tetapi keutamaan dan kemuliaan beliau memang ditunjang beberapa hal penting seperti keutamaan Akhlaq yang mulia, ilmu pengetahuan yang tinggi, kefasihan yang mengungguli kaum pria sekalipun, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, kezuhudan, ketegaran hati dan lainya.

Ada banyak sisi dari sifat-sifat dan Kepribadian Fatimah yang patut dipelajari dan diteladani oleh kaum wanita muslimah masa kini dalam kehidupan kita, antara lain

1.       Perhatian Pada Orang Tua. Fatimah Az-Zahra memiliki kebranian sejak masa kanak-kanak, dalam usia dini, Fatimah telah memahami serangan yang dilancarkan kaum Quraisy kepada ayahnya. Jika ayahnya bepergian, Fatimah mengikuti dan menyertainya demi menyampaikan dan mempertahankan agama di jalan Allah. Pada malam yang sunyi dan penuh rahasia, Fatimah bersujud menyembah Tuhan.Tidak walau sedetik dan seketika pun ingatan Fatimah terpisah dari Tuhannya Fatimah adalah seorang anak yang sangat perhatian pada orang tuanya. Rasa hormat dan pengabdiannya kepada Nabi Saw. sebagai ayahnya sungguh sangat luar biasa sampai Nabi sendiri menjulukinya sebagai Ummu Abiha, yakni laksana ibu dari ayahnya.

2.       Sangat Tinggi Rasa Hormatnya Pada Suami

 Sangat tinggi rasa hormatnya pada suami adalah sangat menarik mencermati kepribadian Fatimah sebagai seorang istri. Pengabdian yang luar biasa juga ditunjukkan oleh Fatimah sebagai seorang istri dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Fatimah senantiasa menunjukkan rasa hormat dan kepatuhan yang luar biasa. Rasa cintanya kepada Ali bin Abi Thalib melahirkan cerita-cerita yang menggetarkan sepanjang zaman. Kehidupan keluarganya yang serba kekurangan tak membuat cinta Fatimah kepada Ali berkurang sedikitpun. Bahkan hingga menjelang detik-detik wafatnya, Fatimah masih sempat mengungkapkan kecintaan dan rasa hormatnya kepada Ali bin Abi Thalib.

3.       Wanita diciptakan dengan dibekali sifat-sifat khas, diantaranya adalah sifat-sifat keibuan. Kelemahlembutan dan perasaan kasih sayang yang lebih dibanding laki-laki merupakan sifat-sifat unggul yang dikaruniakan Allah kepadanya karena ia mempunyai tugas dalam hidupnya yakni menjadi ibu. Fatimah mengetahui bahwa peran ibu dalam membentuk kepribadian anak sangatlah besar, karena antara ibu dan ayahyang paling dekat dengan anak sejak bayi adalah ibu. Dengan begitu, ibu banyak mempengaruhi perkembangan anak. Mengingat periode pertama anak sebagian besar dihabiskan dalam pelukan seorang ibu, maka bagi wanita shalihah yang menjadi ibu, kesempatan itu akan dimanfaatkan untuk merawat dan memberikan pengaruh positif pada anak. Termasuk memberikan perawatan yang terbaik adalah memenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya.

Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh ibunya. Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan ibunya. Bila ibunya sedih dan cemas, ia pun merasakan demikian. Sebaliknya, bila ibunya merasasenang, ia pun turut senang. Inilah diantara tanggung jawab para orang tua, harus berusaha semaksimal mungkin jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah dalam arti lemah iman, aqidah, moral, ilmu, ekonomi, fisik.

 

4.       Memiliki Sifat Malu dan Menjaga Kesucian.

 Sayyidah Zahra menjadi buah mulut semua orang, walaupun apabila berhadapan dengan orang buta dia tetap memelihara hijabnya. Fatimah berada pada puncak kesucian diri dan kejujuran. Ia seorang yang tak bernoda dan shaleh. Hawa nafsunya tak dapat mengalahkannya. Bahkan ia berada dalam kesucian dan kesalehan yang sangat tinggi yang telah disebutkan Allah dalam firman-Nya. Apabila ada seorang laki-laki yang ingin berbicara dengannya, maka ia akan melayaninya dari balik hijab yang memisahkannya dari orang tersebut agar dengan cara tersebut ia bisa terpelihara dengan pandangan laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Fatimah tidak seperti gadis-gadis lainnya yang sibuk memperhatikan pertumbuhan kecantikannya, sibuk dengan urusan-urusan kecil kewanitaan, cuek dengan lingkungannya. Fatimah tumbuh menjadi perempuan muda yang peduli dengan perjuangan ayahnya menyampaikan kebenaran Ilahiah, dan meleburkan diri sepenuhnya menjadi seorang perempuan muda yang sangat sempurna seperti yang diinginkan oleh misi Islam di dalam memperbaiki moral generasi muda.

 

Kemerosotan akhlak juga dialami oleh muslimah remaja, seakan kehilangan rasa malu dan sopan santun. Islam sangat memulyakan dan menghargai wanita. Namun sayang, kebanyakan dari wanita tidak menyadari betapa berharga dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan meninggalkan rasa malu yang menjadi mahkota kemuliannya. Sedangkan malu merupakan salah satu sifat yang bisa mengendalikan seseorang dari akhlak-akhlak yang tidak sepantasnya, apabila malu telah hilang berarti kendali pada diri orang tersebut juga telah hilang.

 

1.       Menjaga Ibadah Tidak sedikit di antara wanita Muslimah masa kini, khususnya Muslimah remaja, justru banyak menghabiskan waktunya untuk begadang bersama teman-teman mereka tanpa mengindahkan kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Padahal, masa muda tidak selamanya indah sebagaimana banyak didengungkan oleh beberapa kalangan. Masa muda justru akan menjadi indah apabila dilalui dengan berbagai torehan prestasi, baik prestasi intelektual maupun prestasi spiritual. Jangan sampai menyepelekan anjuran atau perintah tersebut. Dengan dalih sibuk, tidak sedikit muslimah yang kerap telat mengerjakan salat.

2.       Menjaga Pergaulan.

Menjaga pergaulan juga merupakan syarat mutlak yang harus kita penuhi bila ingin menjadi muslimah salihah. Karenanya, berhati-hatilah dalam bergaul, terutama dalam memilih teman. Saat ini, kita sering dikejutkan oleh berita-berita mengenai persoalan yang banyak menimpa kaum muslimah. Ada yang mengalami kasus hamil diluar nikah, narkoba, pelecehan seksual, selingkuh, seks bebas dan sebagainya. Selain disebabkan oleh kesalahan dalam bergaul, kejadian seperti itu juga disebabkan oleh hilangnya rasa malu. Sebagai seorang muslimah, harusnya kita merasa malu kalau sampai pergaulan kita tidak terjaga. Penting sekali bagi kita muslimah untuk merawat rasa malu dalam hati. Seorang wanita yang masih memiliki rasa malu menandakan bahwa mereka masih memiliki mental yang sehat serta pendidikan yang bagus.

3.       Menjaga Ilmu

Untuk menjadi muslimah salihah, jelas kita butuh ilmu. Tidak mungkin seseorang akan menggapai suatu prestasi besar kalau tidak menguasai ilmunya. Tetapi ilmu itu sendiri tidak akan banyak berguna kalau hanya dibiarkan begitu saja, tidak dijaga dan tidak dirawat dengan baik. Anjuran menjaga Ilmu inilah yang juga banyak dilupakan, khususnya oleh kaum wanita muslimah masa kini, terutama ilmu agama, akhlak atau etika. Tidak sedikit kaum wanita masa kini yang memperoleh pendidikan yang baik. Mereka disekolahkan, mondok di pesantren dan ada juga yang kuliah di berbagai perguruan tinggi. Banyak ilmu yang mereka pelajari selama berada di bangku pendidikan. Namun, ketika mereka keluar dari bangku pendidikan, apa yang dulu mereka pelajari bisa dengan mudah dilupakan. Boleh jadi kita telah mempelajari penting dan perlunya menutup aurat, mengenakan jilbab dan sebagainya. Tapi, setetlah lulus dari bangku sekolah atau pesantren, kita justru melakukan kebalikan dari apa yang telah kita pelajari. Jilbab tak lagi dikenakan, aurat dibiarkan terbuka tanpa merasa berdosa sedikitpun.

4.       Menjaga Aurat Menjaga aurat adalah kewajiban bagi muslimah yang sudah mencapai tahap dewasa. Syari’at fiqih menentukan dengan jelas batasan aurat antara laki-laki dan perempuan. Namun persoalannya, seberapa banyak dari wanita muslimah yang benar-benar peduli kepada auratnya, saat ini banyak muslimah membiarkan auratnya terbuka atau bahkan sengaja dibuka di depan publik. Mereka tergoda untuk mengikuti trend fashion yang membuat rancangan pakaian terbuka sehingga tidak lagi memperdulikan aurat. Perlu kita pahami bahwa berjilbab atau berhijab itu adalah saran untuk menjaga kehormatan tubuh kita. Menutup aurat atau menjaga aurat merupakan perbuatan yang dpat kita lakukan sebagai salah satu cara mengupayakan kesalihan melalui cara berpakaian. Karenanya, perhatikan bagaimana cara kita berpakaian. Jangan sampai bagianbagian tubuh kita ini jadi santapan mata-mata liar yang sesungguhnya tidak pantas dan tidak halal melihatnya. Kalau kita tidak menghormati aurat kita sendiri, bagaimana mungkin Allah akan memberikan penghormatan kepada kita