Kepribadian Fatimah Az-Zahra dan Relevansinya dengan Pendidikan Muslimah Masa Kini
Di zaman yang
serba modern dan maju seperti ini, tantangan untuk menjadi wanita Muslimah salihah
jauh lebih besar dan berat. Bahkan, tidak jarang kita melihat ada sosok-sosok
wanita yang mengaku sebagai Muslimah akan tetapi sikap dan perilakunya
mencerminkan hal yang sebaliknya.
Muslimah merupakan
komponen dalam keluarga dan masyarakat yang sangat menentukan perannya dalam
membentuk generasi dan menciptakan peradaban. Dengan pendidikan yang dimiliki,
seorang wanita dapat memberikan kontribusi lebih. Tidak hanya sebagai ibu dan
istri tapi juga bisa berkontribusi untuk masyarakat sehingga hidupnya akan
lebih bermanfaat dan berkah.
Eksistensi wamita dalam kehidupan masyarakat diakui
sebagai bagian dari rahmatan lil alamin. Kemajuan dan kemunduran
generasi-generasi Islam tidak terlepas dari kaum perempuan.
Salah satu
generasi islam kaum muslimah yang bisa dijadikan teladan adalah anak bungsu
kesayangan Nabi Muhammad SAW yakni Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Ia adalah salah
satu wanita inspiratif yang patut kita teladani, ia adalah wanita shalihah yang
berparas anggun yang memiliki sifat yang mulia yang diwariskan langsung oleh
baginda Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Fathimah Az-Zahra memiliki karakter yang
begitu kuat yang dapat kita jadikan contoh untuk menghadapi kerasnya zaman
globalisasi modern ini.
Fatimah menjadi
panutan dan contoh teladan dalam sifat-sifatnya yang agung. Dia menyandang
secara sempurna sifat-sifat seperti rasa kemanusiaan, tanggung jawab, harga
diri, kesucian, kepedulian sosial, kecerdasan dan berilmu pengetahuan yang luas.
Hal ini sangatlah wajar karena ia adalah seorang yang lahir dari lingkungan
keluarga Nabi, tumbuh di sekitar madrasah kenabian, dan langsung mendapat
pendidikan dari ayahnya. Dari berbagai riwayat berkenaan dengan Fatimah kita
bisa melihat betapa beliau senantiasa sibuk dengan kegiatan kegiatan
ruhaniahnya dan tidak pernah melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan
dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa pada diri Fatimah terdapat keistimewaan
akhlak yang menakjubkan.
Keutamaan Fatimah
bukanlah hanya karena beliau adalah putri dari Rasulullah SAW semata, akan
tetapi keutamaan dan kemuliaan beliau memang ditunjang beberapa hal penting
seperti keutamaan Akhlaq yang mulia, ilmu pengetahuan yang tinggi, kefasihan
yang mengungguli kaum pria sekalipun, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan,
kezuhudan, ketegaran hati dan lainya.
Ada banyak sisi
dari sifat-sifat dan Kepribadian Fatimah yang patut dipelajari dan diteladani
oleh kaum wanita muslimah masa kini dalam kehidupan kita, antara lain
1.
Perhatian Pada Orang Tua. Fatimah Az-Zahra memiliki kebranian
sejak masa kanak-kanak, dalam usia dini, Fatimah telah memahami serangan yang
dilancarkan kaum Quraisy kepada ayahnya. Jika ayahnya bepergian, Fatimah
mengikuti dan menyertainya demi menyampaikan dan mempertahankan agama di jalan
Allah. Pada malam yang sunyi dan penuh rahasia, Fatimah bersujud menyembah
Tuhan.Tidak walau sedetik dan seketika pun ingatan Fatimah terpisah dari
Tuhannya Fatimah adalah seorang anak yang sangat perhatian pada orang tuanya.
Rasa hormat dan pengabdiannya kepada Nabi Saw. sebagai ayahnya sungguh sangat
luar biasa sampai Nabi sendiri menjulukinya sebagai Ummu Abiha, yakni laksana
ibu dari ayahnya.
2.
Sangat Tinggi Rasa Hormatnya Pada Suami
Sangat tinggi rasa hormatnya pada suami adalah
sangat menarik mencermati kepribadian Fatimah sebagai seorang istri. Pengabdian
yang luar biasa juga ditunjukkan oleh Fatimah sebagai seorang istri dari
sahabat Ali bin Abi Thalib. Fatimah senantiasa menunjukkan rasa hormat dan
kepatuhan yang luar biasa. Rasa cintanya kepada Ali bin Abi Thalib melahirkan
cerita-cerita yang menggetarkan sepanjang zaman. Kehidupan keluarganya yang serba
kekurangan tak membuat cinta Fatimah kepada Ali berkurang sedikitpun. Bahkan
hingga menjelang detik-detik wafatnya, Fatimah masih sempat mengungkapkan
kecintaan dan rasa hormatnya kepada Ali bin Abi Thalib.
3.
Wanita diciptakan dengan dibekali sifat-sifat khas,
diantaranya adalah sifat-sifat keibuan. Kelemahlembutan dan perasaan kasih
sayang yang lebih dibanding laki-laki merupakan sifat-sifat unggul yang
dikaruniakan Allah kepadanya karena ia mempunyai tugas dalam hidupnya yakni
menjadi ibu. Fatimah mengetahui bahwa peran ibu dalam membentuk kepribadian
anak sangatlah besar, karena antara ibu dan ayahyang paling dekat dengan anak
sejak bayi adalah ibu. Dengan begitu, ibu banyak mempengaruhi perkembangan
anak. Mengingat periode pertama anak sebagian besar dihabiskan dalam pelukan
seorang ibu, maka bagi wanita shalihah yang menjadi ibu, kesempatan itu akan
dimanfaatkan untuk merawat dan memberikan pengaruh positif pada anak. Termasuk
memberikan perawatan yang terbaik adalah memenuhi kebutuhan fisik dan
psikisnya.
Wanita
adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak ruh
ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat
itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh
ibunya. Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan ibunya. Bila ibunya
sedih dan cemas, ia pun merasakan demikian. Sebaliknya, bila ibunya
merasasenang, ia pun turut senang. Inilah diantara tanggung jawab para orang
tua, harus berusaha semaksimal mungkin jangan sampai meninggalkan keturunan
yang lemah dalam arti lemah iman, aqidah, moral, ilmu, ekonomi, fisik.
4.
Memiliki Sifat Malu dan Menjaga
Kesucian.
Sayyidah Zahra menjadi buah mulut semua orang,
walaupun apabila berhadapan dengan orang buta dia tetap memelihara hijabnya.
Fatimah berada pada puncak kesucian diri dan kejujuran. Ia seorang yang tak
bernoda dan shaleh. Hawa nafsunya tak dapat mengalahkannya. Bahkan ia berada
dalam kesucian dan kesalehan yang sangat tinggi yang telah disebutkan Allah
dalam firman-Nya. Apabila ada seorang laki-laki yang ingin berbicara dengannya,
maka ia akan melayaninya dari balik hijab yang memisahkannya dari orang tersebut
agar dengan cara tersebut ia bisa terpelihara dengan pandangan laki-laki lain
yang bukan muhrimnya. Fatimah tidak seperti gadis-gadis lainnya yang sibuk
memperhatikan pertumbuhan kecantikannya, sibuk dengan urusan-urusan kecil
kewanitaan, cuek dengan lingkungannya. Fatimah tumbuh menjadi perempuan muda
yang peduli dengan perjuangan ayahnya menyampaikan kebenaran Ilahiah, dan
meleburkan diri sepenuhnya menjadi seorang perempuan muda yang sangat sempurna
seperti yang diinginkan oleh misi Islam di dalam memperbaiki moral generasi
muda.
Kemerosotan
akhlak juga dialami oleh muslimah remaja, seakan kehilangan rasa malu dan sopan
santun. Islam sangat memulyakan dan menghargai wanita. Namun sayang, kebanyakan
dari wanita tidak menyadari betapa berharga dirinya. Sehingga banyak dari kaum
wanita merendahkan dirinya dengan meninggalkan rasa malu yang menjadi mahkota
kemuliannya. Sedangkan malu merupakan salah satu sifat yang bisa mengendalikan
seseorang dari akhlak-akhlak yang tidak sepantasnya, apabila malu telah hilang
berarti kendali pada diri orang tersebut juga telah hilang.
1. Menjaga
Ibadah Tidak sedikit di antara wanita Muslimah masa kini, khususnya Muslimah
remaja, justru banyak menghabiskan waktunya untuk begadang bersama teman-teman
mereka tanpa mengindahkan kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Padahal, masa
muda tidak selamanya indah sebagaimana banyak didengungkan oleh beberapa
kalangan. Masa muda justru akan menjadi indah apabila dilalui dengan berbagai
torehan prestasi, baik prestasi intelektual maupun prestasi spiritual. Jangan
sampai menyepelekan anjuran atau perintah tersebut. Dengan dalih sibuk, tidak
sedikit muslimah yang kerap telat mengerjakan salat.
2. Menjaga
Pergaulan.
Menjaga pergaulan juga merupakan syarat mutlak yang harus
kita penuhi bila ingin menjadi muslimah salihah. Karenanya, berhati-hatilah
dalam bergaul, terutama dalam memilih teman. Saat ini, kita sering dikejutkan
oleh berita-berita mengenai persoalan yang banyak menimpa kaum muslimah. Ada
yang mengalami kasus hamil diluar nikah, narkoba, pelecehan seksual, selingkuh,
seks bebas dan sebagainya. Selain disebabkan oleh kesalahan dalam bergaul,
kejadian seperti itu juga disebabkan oleh hilangnya rasa malu. Sebagai seorang
muslimah, harusnya kita merasa malu kalau sampai pergaulan kita tidak terjaga.
Penting sekali bagi kita muslimah untuk merawat rasa malu dalam hati. Seorang
wanita yang masih memiliki rasa malu menandakan bahwa mereka masih memiliki
mental yang sehat serta pendidikan yang bagus.
3. Menjaga
Ilmu
Untuk menjadi muslimah salihah, jelas kita butuh ilmu. Tidak
mungkin seseorang akan menggapai suatu prestasi besar kalau tidak menguasai
ilmunya. Tetapi ilmu itu sendiri tidak akan banyak berguna kalau hanya
dibiarkan begitu saja, tidak dijaga dan tidak dirawat dengan baik. Anjuran menjaga
Ilmu inilah yang juga banyak dilupakan, khususnya oleh kaum wanita muslimah
masa kini, terutama ilmu agama, akhlak atau etika. Tidak sedikit kaum wanita
masa kini yang memperoleh pendidikan yang baik. Mereka disekolahkan, mondok di
pesantren dan ada juga yang kuliah di berbagai perguruan tinggi. Banyak ilmu
yang mereka pelajari selama berada di bangku pendidikan. Namun, ketika mereka
keluar dari bangku pendidikan, apa yang dulu mereka pelajari bisa dengan mudah
dilupakan. Boleh jadi kita telah mempelajari penting dan perlunya menutup
aurat, mengenakan jilbab dan sebagainya. Tapi, setetlah lulus dari bangku
sekolah atau pesantren, kita justru melakukan kebalikan dari apa yang telah
kita pelajari. Jilbab tak lagi dikenakan, aurat dibiarkan terbuka tanpa merasa
berdosa sedikitpun.
4. Menjaga
Aurat Menjaga aurat adalah kewajiban bagi muslimah yang sudah mencapai tahap
dewasa. Syari’at fiqih menentukan dengan jelas batasan aurat antara laki-laki
dan perempuan. Namun persoalannya, seberapa banyak dari wanita muslimah yang
benar-benar peduli kepada auratnya, saat ini banyak muslimah membiarkan
auratnya terbuka atau bahkan sengaja dibuka di depan publik. Mereka tergoda
untuk mengikuti trend fashion yang membuat rancangan pakaian terbuka sehingga
tidak lagi memperdulikan aurat. Perlu kita pahami bahwa berjilbab atau berhijab
itu adalah saran untuk menjaga kehormatan tubuh kita. Menutup aurat atau
menjaga aurat merupakan perbuatan yang dpat kita lakukan sebagai salah satu
cara mengupayakan kesalihan melalui cara berpakaian. Karenanya, perhatikan
bagaimana cara kita berpakaian. Jangan sampai bagianbagian tubuh kita ini jadi
santapan mata-mata liar yang sesungguhnya tidak pantas dan tidak halal
melihatnya. Kalau kita tidak menghormati aurat kita sendiri, bagaimana mungkin Allah
akan memberikan penghormatan kepada kita