Ketua Senat Akademik UNIDA Isi Majelis Tasbih, Bahas Peternakan dalam Peradaban Islam
Universitas
Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT)
selenggarakan kegiatan
rutin ketauhidan Majelis Tasbih pada Jumat, 16 Juni
2023 secara hybrid, yakni daring via Zoom Cloud Meetings dan
luring di Majelis Baitul Quran (MBQ) UNIDA.
Dalam kesempatan ini, Majelis Tasbih diisi oleh Ketua Senat Akademik UNIDA, Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya,
M.Si. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Rektor UNIDA, Prof. Mohamad Ali
Fulazzaky, Ph.D beserta jajaran dan diikuti oleh insan UNIDA.
Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si dalam
paparan materinya menyampaikan mengenai peternakan dalam peradaban Islam.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat
Al-Imran ayat 14 yang artinya, dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat
kembali yang baik (surga).
Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si mengatakan,
ayat tersebut memiliki kesamaan dengan tagline UNIDA yaitu menggenggam
dunia, meraih akhirat. Dalam memahaminya perlu berbagai pendekatan yang digali
dari berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah menggali sejarah perkembangan
peternakan (pertanian) dalam peradaban islam.
Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si
mengungkapkan bahwa telah ditemukan gambar hewan di gua yang diperkirakan dari
tahun 30.000 SM. Hal ini diidentifikasikan bahwa sejak lama manusia sudah
berdampingan dengan hewan. Sejak tahun 10.000 SM maka dimulailah masa awal
domestika yang dimana manusia mulai hidup di suatu tempat dan bercocok tanam
serta beternak. Sejak saat itu, manusia menyesuaikan perilaku hewan sesuai
dengan kebutuhan.
“Banyak kontribusi ternak dalam peradaban Islam,
dahulu di Jazirah Arab hewan ternak utamanya yaitu unta, kuda, domba dan
kambing. Bahkan sebelum peradaban Islam di Arab, unta dijadikan alat
transportasi dan juga dijadikan alat tukar seperti mas kawin, harga tebusan,
hasil perjudian bahkan kekayaan itu dihitung dalam jumlah unta, dan juga unta
sebagai teman orang badawi karena air susunya diminum sebagai pengganti air,
sebab air pada musim kering hanya diberikan untuk unta saja,”
“Bisa kita ekstraksi, dalam peradaban
Islam, penting untuk menghormati dan menjaga kesejahteraan hewan, etika memperlakukan
hewan menjadi perhatian penting, sehingga hubungan antara manusia dan hewan
dapat terjalin secara seimbang dan bertanggung jawab,” pungkas Prof. Dr. Ir.
Dede Kardaya, M.Si.
Pemaparan materi lebih lengkap dapat
disaksikan melalui kanal YouTube “UNIDA TV”, atau dengan klik langsung tautan berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=VMmPl5IsK1Q