[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Kewajiban Mencari Ilmu Bagi Muslimah

Disampaikan dalam Kajian Kemuslimahan oleh Maria Fitriah, S.Sos., M.Si (Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Ilmu Komputer)

Assalamualaikum Wr.Wb

Allah Swt berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mencari ilmu merupakan perkara wajib dalam ajaran agama Islam, baik bagi muslim maupun muslimah. Namun belajarnya dalam berilmu bagi seorang muslimah bukanlah untuk dirinya sendiri. Rasululullah SAW bersabda: Barang siapa yang melalui jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan melewatkannya pada satu jalan dari jalan-jalan (ke) surga, dan bahwasanya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena senang terhadap apa yang dia lakukan.” (Hadist Riwayat Ahmad)

Ilmu akan kekal dan bermanfaat walaupun kita telah meninggal dunia. HR. Muslim menyebutkan: “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan orangtuanya.”

Ilmu laksana cahaya yang menyinari. Dapat dikatakan, “al ilmu nurun artinya ilmu itu cahaya. Ilmu diibaratkan cahaya yang dapat menerangi kegelapan. Perempuan memiliki peranan yang besar dalam kehidupannya. Maka berilmulah secara formal maupun informal yang dapat mengembangkan potensi diri untuk bekal dalam rumah tangga dan keturunannya. Seorang muslimah kelak memiliki peran sebagai istri dan ibu. 

Sebagai seorang istri, perempuan perlu ilmu dalam peranan istri terhadap suami. Perempuan hendaknya menghormati suami setinggi apa pun kita di luar rumah, menjaga kehormatan keluarga, memberikan pelayanan dalam kebutuhan keluarga, izin lebih dulu ketika ke luar rumah, dan sebagainya. Hal ini membutuhkan ilmu dalam rumah tangga yang tidak lepas dari cara berkomunikasinya agar tetap adanya saling menghormati dan menghargai. Tentunya kita mencari ridho Allah. 

Allah Swt berfirman Qs. An-Nisa: 34

 فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ 

"Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat (kepada Allah dan kepada suami) serta memelihara diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara (mereka).” 

Banyak di kalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim yaitu hanya dibesarkan dari seorang ibu. Mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Di antaranya Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al-Bukhori adalah para ulama yang dibesarkan hanya dari seorang ibu. Adanya kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan karena kasih sayang, pendidikan yang baik, dan doa dari seorang ibu.

Peranan muslimah bagi anak-anaknya, seorang ibu adalah sekolah (madrasah) yang merupakan pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Di sinilah pentingnya mempersiapkan generasi yang hebat. Cara pendidikan ibu mempengaruhi karakter anak. Ibarat anak adalah cerminan orangtua, terutama dari seorang ibu. Perilaku dan tutur bicara seorang ibu merupakan contoh bagi anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan jasmani dan rohani yang sehat dari peranan ibu. Jika kita tidak ingin anak yang suka tidak beraturan dalam berbicara (misal membentak), maka kita tanamkan ilmu berkomunikasi dalam keluarga yang lemah lembut. 

Kita mengajarkan kepada anak untuk taat kepada Allah Swt, ikhlas, dan bersyukur. Seorang ibu mengajarkan anak-anak dari dalam kandungan, ketika beranjak baligh, hingga dewasa. Kita diajarkan berbicara, berdiri, berjalan saat balita. Kita sebagai ibu menyampaikan kewajiban menutup aurat seorang muslimah. Anak beranjak dewasa kita pun memberikan ilmu pengetahuan ketika mendapatkan haid dan tata cara pergaulan.  Ibu yang bijaksana mampu menciptakan kondisi rumah tangga yang damai dan dicintai anaknya.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Kesempurnaan hanya milik Allah Swt dan kekurangan datangnya dari diri saya sendiri.

Wassalam Wr. Wb