Kiprah Internasional Dosen UNIDA: Lolos Seleksi Nasional Pengajar BIPA Luar Negeri, Siap Perkenalkan Budaya Indonesia Lewat Bahasa
Siti Khumairotuzzahra, S.Pd., M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA) dinyatakan lolos sebagai Tenaga Pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) untuk Luar Negeri setelah melalui rangkaian seleksi nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dosen FAIPG UNIDA tersebut tercatat sebagai peserta yang telah lulus seleksi nasional dan mengikuti Pembekalan Pengajar BIPA untuk Luar Negeri pada 6–10 Februari 2026 di Hotel Wyndham Casablanca, Tebet, Jakarta
Diwawancarai Tim Humas UNIDA usai mengikuti pembekalan BIPA pada Jum’at (13/02/2026) Siti Khumairotuzzahra, S.Pd., M.Pd mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam seleksi BIPA dilandasi keinginan kuat untuk berkontribusi di tingkat global.
“Yang melatarbelakangi saya mengikuti seleksi Tenaga Pengajar BIPA adalah keinginan untuk berkontribusi memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia di tingkat internasional. Program ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kompetensi profesional sekaligus membawa manfaat akademik bagi institusi dan mahasiswa di Indonesia,” ujarnya.
Sebagai dosen Program Studi Bahasa Arab dengan latar belakang keilmuan bahasa dan pengajaran, ia melihat program BIPA sebagai ruang strategis untuk memperluas pengalaman global dan diplomasi kebahasaan.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa seleksi berlangsung dalam tiga tahap utama. Tahap pertama berupa seleksi administrasi melalui verifikasi dan validasi dokumen. Tahap kedua meliputi simulasi mengajar, wawancara, penilaian keterampilan seni dan budaya, tes pengetahuan ke-BIPA-an, serta kemampuan bahasa asing. Tahap ketiga merupakan penilaian capaian kompetensi melalui tes awal dan tes akhir serta evaluasi menyeluruh oleh narasumber dan fasilitator.
“Pada tahap ketiga, tantangannya sangat intens karena peserta yang lolos adalah mereka yang benar-benar kompeten dari berbagai latar belakang. Kami dinilai langsung oleh para pakar BIPA dari universitas ternama, sehingga kesiapan fisik, mental, dan akademik sangat diuji,” jelasnya.
Kompetensi yang diuji mencakup kemampuan pedagogis, penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, pemahaman metodologi BIPA, serta kesiapan menjadi duta budaya Indonesia.
Siti Khumairotuzzahra, S.Pd., M.Pd menuturkan keberhasilan lolos seleksi tidak terlepas dari persiapan matang, mulai dari kelengkapan administrasi hingga penguatan kompetensi kebahasaan. Ia menambahkan bahwa pengajar BIPA tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga membawa misi diplomasi budaya Indonesia.
“Saya memastikan semua berkas lengkap, mengikuti tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), serta mempersiapkan kemampuan bahasa melalui Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dan Test of Arabic as a Foreign Language (TOAFL). Selain itu, saya banyak belajar tentang strategi pengajaran BIPA dan melatih improvisasi diri dalam simulasi mengajar,” ungkapnya.
Dalam tahap pendaftaran, Siti Khumairotuzzahra, S.Pd., M.Pd memfokuskan pilihan negara tujuan di kawasan Timur Tengah, yakni Qatar dan Uni Emirat Arab, yang selaras dengan latar belakangnya sebagai pengajar bahasa Arab dan pengalaman mengajar diaspora Indonesia di Qatar.
“Saya memilih Qatar dan Uni Emirat Arab karena relevan dengan latar belakang akademik saya. Untuk durasi penugasan, saat ini masih menunggu jadwal resmi dari KBRI setempat. Berdasarkan informasi, umumnya masa tugas berkisar tiga hingga enam bulan dalam satu tahun,” tuturnya.
Dalam praktik pengajaran BIPA, ia menekankan pentingnya integrasi budaya dalam proses pembelajaran.
“Budaya Indonesia tidak hanya dikenalkan melalui materi, tetapi juga melalui sikap—keramahan, kesopanan, dan cara berinteraksi. Saya biasanya menggunakan pendekatan kontekstual seperti simulasi percakapan, pengenalan lagu, makanan khas, cerita rakyat, hingga praktik tradisi sederhana agar pembelajar merasakan pengalaman budaya secara langsung,” jelasnya.
Menutup wawancaranya Siti Khumairotuzzahra, S.Pd., M.Pd berharap program BIPA semakin berkembang secara strategis dan menjangkau lebih banyak negara. Secara khusus, ia juga mendorong agar Universitas Djuanda membuka kelas BIPA.
“Saya berharap ke depan dapat diadakan kelas BIPA di Universitas Djuanda. Saat ini sudah ada mahasiswa asing yang menempuh studi di kampus, sehingga kelas BIPA akan sangat membantu adaptasi akademik dan sosial mereka,” katanya.
Sebagai penutup, ia memberikan pesan inspiratif bagi dosen dan mahasiswa yang ingin terlibat dalam program serupa.
“Jangan ragu untuk mencoba dan mempersiapkan diri sejak dini. Program BIPA bukan hanya kesempatan mengajar, tetapi juga pengalaman berharga untuk menjadi duta bahasa dan budaya Indonesia di tingkat global,” pungkasnya.