[email protected] 0251-8240773
Informasi

Komunikasi dalam Islam

oleh

Sudrajat, S.I.Kom

(Kepala Bagian Keuangan Riset Biro Riset Universitas Djuanda)


Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Sebagai mahluk sosial, manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lainnya dengan berkomunikasi.  Mempelajari komunikasi berarti meningkatkan kemampuan berkomunikasi (menulis, berbicara, dan sebagainya). Di samping itu, ini juga berarti belajar menganalisis peristiwa komunikasi sebagai peristiwa sosial*).  

 

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin, communicatus, artinya berbagi atau menjadi milik bersama – hal ini mengacu pada upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan*).

*)https://katadata.co.id/safrezi/berita/61de8d9d4a987/komunikasi-adalah-definisi-unsur-dan tujuannya – Penulis: Husen Mulachela - Editor: Safrezi.

 

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, setiap manusia atau individu akan saling berinteraksi satu sama lain, untuk bekerjasama dalam mencapai tujuannya agar tercapai kesefahaman dan terhindar dari kesalahfahaman.

 

Secara umum fungsi komunikasi adalah menyampaikan informasi dan untuk mempengaruhi sehingga orang yang diajak berkomunikasi (komunikan) sehingga menunjukan perubahan sikap. Diantara jenis-jenis komunikasi, satu diantaranya adalah komunikasi verbal, (selain jenis komunikasi yang lain semisal komunikasi non verbal, komunikasi informal, komunikasi non formal, dll).

 

Pada bagian ini komunikasi yang dibahas adalah komunikasi verbal, lebih spesifiknya dengan menggunakan lisan (ucapan), sebab komunikasi verbal tidak hanya meliputi komunikasi lisan tetapi juga komunikasi tertulis.

 

Dalam Islam, sumber utama komunikasi adalah Al-Quran dan Hadist. Maka sejatinya manfaat komunikasi adalah mendekatkan kita kepada kebenaran Tuhan. Komunikasi haruslah disampaikan dengan cara dan bahasa yang baik atau cara yang maruf yang dalam Bahasa Al-quran disebut Qoulan Marufan. Di dalam Al-quran terdapat beberapa istilah mengenai ucapan/perkatan (komunikasi) ini. Dua diantaranya adalah disebut Qoulan Marufa dan Qoulan Syadida.

 

(QS. Al-Baqarah, ayat 263) : “Qoulun marufun wamagfirotun khoirun min shodaqotin yatsbauha adza, Wallahu ghoniyyun haliim” (Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun).


Ini berarti bahwa setiap  perkataan haruslah menggunakan kata dan kalimat yang baik. Tidak menggunakan kata-kata kotor dan kasar yang menyebabkan orang lain tersinggung dan sakit hati.


Dalam komunikasi kita juga harus selalu menyampaikan sesuatu dengan benar dan tegas, seperti yang diperintahkan Allah dalam  (QS. Al-Ahzab, Ayat 70) : “Yaa ayyuhalladzina amanuttaqulloha waaqulu qoulan syadida” (Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar).


Artinya bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk berperilaku dan berkata yang jujur. Bahwa segala apa yang kita ucapkan, yang kita sampaikan harus selalu dijaga dari sifat-sifat buruk/tidak terpuji bahkan sangat dilarang bohong, merekayasa, mengurangi atau melebih-lebihkan keadaan yang tidak sesuai sesungguhnya.


Rasulullah SAW  selalu mengingatkan kita untuk selalu mengatakan “Qulil haqqa walau kana murran,”  yang mengandung makna “Katakanlah yang benar walau itu pahit,”. Ini menegaskan karena memang kebenaran bagi sebagian orang  menjadi keadaan yang penuh dengan kepahitan itu sendiri - https://barometernews.id/qaulan-sadidan-perkataan-yang-tegas-dan-benar-langkah-komunikasi-efektif.


Ucapan bisa berbuah perdamaian, saling mengasihi dan saling menghormati. Tetapi ucapan juga bisa menjadi pertikaian dan bencana. Ingatlah..! Fitnah (akibat ucapan) dapat mengakibatkan perpecahan bahkan perang. Bahkan Allah SWT menyebut  fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan


Firman Allah dalam (QS. Al-Baqarah, ayat 191) : “Waaqtuluuhum haitsu tsaqiftumuuhum waakhrijuuhum min haitsu akhrajuukum wal fitnatu asyaddu minal qatli walaa tuqaatiluuhum indal masjidil haraami hatta yuqaatiluukum fiihi fa-in qaataluukum faaqtuluuhum kadzalika jazaa-ul kaafiriin; (Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir).


Kenapa demikian besar akibat fitnah? sebab jika seseorang (misal) melakukan tindakan pembunuhan, maka hanya akan berakibat kepada individu itu sendiri, sementara fitnah dapat menghancurkan seluruhnya, merusak tatanan kehidupan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

 

Wallahu alam bish-shawabi