Lahirnya Hari Radio Nasional Bersama RRI
Radio adalah salah satu
bentuk media massa, karena potensi untuk mengkomunikasikan sesuatu sangat besar
kesetiap rumah, desa, kota, negara bahkan antar negara (melalui satelit). Tetapi
radio lebih dari itu merupakan barang pribadi dibanding TV (yang umumnya
ditonton orang banyak). Siaran radio berbicara langsung secara pribadi kepada
pendengar, sehingga reaksi atas program seringkali dipengaruhi oleh reaksi
individu. Jadi radio memiliki keuntungan memperoleh hubungan langsung dengan
seseorang dan beribu-ribu individu. “Radio adalah media untuk orang perorang
dan untuk saat ini” radio adalah tentang manusia, berfokus pada bahasa lisan
dan bunyi suara manusia mengarahkannya secara terus-menerus kepada berbagai
kisah dari sudut pandang manusia. Seorang penyiaran bisa mengurangi perasaan
kesepian pendengar sambil menciptakan rasa persahabatan (Prilani, 2010: 20).
Setiap tanggal 11 September diperingati sebagai Hari
Radio Nasional. Ditanggal yang sama itu juga diperingati sebagai hari kelahiran
Radio Republik Indonesia (RRI) yang didirikan pada 11 September 1945, maka tak
heran jika tanggal 11 September juga sering disebut sebagai Hari RRI.
RRI didirikan sebulan setelah siaran radio Hoso Kyoku
dihentikan tanggal 19 Agustus 1945. Saat itu, masyarakat menjadi buta akan
informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia merdeka.
Apalagi, radio-radio luar negeri saat itu mengabarkan bahwa tentara Inggris
yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera. Menanggapi hal tersebut,
orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari
radio merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk
berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus
dilakukan. Wakil-wakil
dari 8 bekas radio Hosu Kyoku mengadakan pertemuan bersama pemerintah di
Jakarta.
Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delegasi
radio sudah berkumpul di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon dan diterima
sekretaris negara. Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah
Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita,
Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi. Abdulrahman Saleh yang
menjadi ketua delegasi menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut.
Salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat
komunikasi antara pemerintah dengan rakyat mengingat tentara sekutu akan
mendarat di Jakarta akhir September 1945. Radio dipilih sebagai alat komunikasi
karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.
Untuk modal operasional, delegasi radio
menyarankan agar pemerintah menutut Jepang supaya bisa menggunakan studio dan
pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku.
Mendengar hal itu, sekretaris negara dan para
menteri keberatan karena alat-alat tersebut sudah terdaftar sebagai barang
inventaris sekutu. Para delegasi pun mengambil sikap meneruskan rencana mereka
dengan memperhitungkan risiko peperangan.
Pada akhir pertemuan, Abdulrachman Saleh membuat
simpulan antara lain, dibentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia yang akan
meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa, mempersembahkan RRI kepada
Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta
mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui
Abdulrachman Saleh.
Pemerintah menyanggupi simpulan tersebut dan
siap membantu RRI meski mereka tidak sependapat dalam beberapa hal. Pada pukul 24.00, delegasi
dari 8 stasiun radio di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Para
delegasi yang ikut rapat saat itu adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad
dan Soedomomarto dari Yogyakarta, Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan
Soetardi Hardjolukito dari Surakarta, serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus
Marahsutan dari Bandung. Dua daerah lainnya, Surabaya dan Malang tidak ikut
serta karena tidak adanya perwakilan. Hasil akhir dari rapat itu adalah
didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Menanggapi hal tersebut,
orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari
radio merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk
berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus
dilakukan. Wakil-wakil
dari 8 bekas radio Hosu Kyoku mengadakan pertemuan bersama pemerintah di
Jakarta. Pada
11 September 1945 pukul 17.00, delegasi radio sudah berkumpul di bekas gedung
Raad Van Indje Pejambon dan diterima sekretaris negara. Delegasi radio yang
saat itu mengikuti pertemuan adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman,
Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi. Abdulrahman Saleh yang
menjadi ketua delegasi menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut.
Salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat
komunikasi antara pemerintah dengan rakyat mengingat tentara sekutu akan
mendarat di Jakarta akhir September 1945. Radio dipilih sebagai alat komunikasi
karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.
Untuk modal operasional, delegasi radio
menyarankan agar pemerintah menutut Jepang supaya bisa menggunakan studio dan
pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku.
Mendengar hal itu, sekretaris negara dan para
menteri keberatan karena alat-alat tersebut sudah terdaftar sebagai barang
inventaris sekutu. Para delegasi pun mengambil sikap meneruskan rencana mereka
dengan memperhitungkan risiko peperangan.
Pada akhir pertemuan, Abdulrachman Saleh membuat
simpulan antara lain, dibentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia yang akan
meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa, mempersembahkan RRI kepada
Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta
mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman
Saleh.
Pemerintah menyanggupi simpulan tersebut dan
siap membantu RRI meski mereka tidak sependapat dalam beberapa hal.
Pada pukul 24.00, delegasi dari 8 stasiun radio
di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Para delegasi yang ikut rapat
saat itu adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad dan Soedomomarto dari
Yogyakarta, Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan Soetardi Hardjolukito
dari Surakarta, serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung.
Dua daerah lainnya, Surabaya dan Malang tidak ikut serta karena tidak adanya
perwakilan. Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan
Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya.
Daftar Pustaka
Prilani.
2010. Radio Kampus. Yogyakarta: STAIN Kediri
Romli,
Asep Syamsul M. 2009. Dasar-dasar Siaran Radio Basic Announcing. Bandung:
Nuansa
Effendy, Onong U. 1990. Radio Siaran Teori dan
Praketk. Bandung: Mandar Maju
Triartanto,
A. Ius. Y. 2010. Broadcasting Radio. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
Http://id.m.wikipedia.org/wiki/Produksi
diunduh pada tanggal 31 Mei 2015 Pukul 01:00 WIB
Http://id.m.wikipedia.org/wiki/Perasatuan_Radio_Siaran_Nasional_Indonesia.
Diunduh pada tanggal 06 Juni 2015 Pukul 15:00 WIB
Komisi Penyiaran Indonesia.
Antara news.