Laut Nafas Bumi Kita
Fadly Fadilah
NIM A.2410314
(Mahasiswa Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Djuanda)
Laut adalah adalah salah satu ciptaan Allah yang luar biasa, lebih dari dua pertiga permukaan bumi ditutupi oleh lautan yang menyimpan keanekaragaman hayati, sumber makanan dan kekayaan alam yang tak ternilai. Dalam laut terdapat berjuta-juta makhluk hidup mulai dari organisme mikroskopis hingga organisme ukuran besar seperti paus. Semua makhluk hidup tersebut hidup dalam keseimbangan ekosistem yang komplek dan indah, dalam konteks kehidupan manusia, laut berperan penting sebagai sumber protein hewani, mineral, dan bahan baku industri. Data dari Ditjen Perikanan Tangkap yang tertuang dalam LKJ tahun 2023 Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan menyebutkan bahwa sektor perikanan menyumbang lebih dari 50% kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia, selain itu keberadaan fitoplankton laut juga mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Keberadaan fitoplankton yang beragam juga penting untuk dasar jaring makanan di laut, dan akan berdampak terhadap keberlanjutan dan ketersediaan organisme laut lain. Dengan kata lain keberadaan laut tidak hanya penting bagi nelayan atau masyarakat pesisir, tetapi juga seluruh makhluk hidup di bumi. Dibalik semua manfaat itu, laut juga menghadirkan pelajaran besar tentang tanda-tanda kebesaran Allah, dalam Al Qur’an surat An-Nahl: 14 Allah berfirman yang artinya:
”Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat kapal berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)
Ayat ini menjelaskan bahwa laut bukan hanya sekedar sumber makanan tetapi juga simbol kekuasaan kasih sayang Allah kepada manusia, Allah menundukkan laut agar manusia dapat mengambil manfaat darinya mencari rezeki, berdagang, mengenal kebesaran sang pencipta, melalui tanda-tanda alam, jika dilihat dari sisi biologi laut ayat ini menggambarkan sistem kehidupan yang teratur dan berkelanjutan, semua unsur di laut saling bergantung : fitoplankton menjadi produsen, kemudian dimakan zooplankton yang selanjutnya dimakan ikan kecil dan ikan besar sehingga membentuk rantai makanan yang seimbang. Keseimbangan ini mencerminkan kosep “Tadbir Allah“ pengaturan sempurna atas alam semesta, dalam Tafsir Assa’di yang dapat diakses di https://tafsirweb.com/4362-surat-an-nahl-ayat-14.html disebutkan bahwa “Dialah Dzat yang sendiri, tidak ada sekutu bagiNya “yang menundukkan lautan (untukmu)” dan menyediakannya demi kemanfaatan kemanfaatan kalian yang variatif. Ayat ini menjadi bukti nikmat Allah yang besar kepada manusia, karena Allah memudahkan laut agar bisa di manfaatkan tanpa manusia perlu menaklukannya dengan kekuatan sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dan teknologi yang manusia miliki sebenarnya adalah bagian dari ke Mahakuasaan Allah. Bukan hasil kekuasaan manusia semata, selain menjadi sumber pangan, laut juga berperan dalam menjaga kehidupan di darat. Seperti halnya terumbu karang yang berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir dengan mengurangi kekuatan ombak dan menyediakan sumber pendapatan bagi manusia. Terumbu karang juga berperan sebagai penjaga keanekaragaman hayati, bahkan dalam Natural History Museum disebutkan Great Barrier Reef berisi lebih dari 400 spesies ikan karang, 1500 spesies ikan dan 4000 spesies moluska. Selain terumbu karang ekosistem penting lainnya adalah ekosistem mangrove. Ekosistem ini menjadi pelindung daratan dari ombak dan tsunami. Ekosistem mangrove juga merupakan nursery dan feeding ground bagi biota di perairan sekitarnya. Biota laut tanpa laut yang sehat, dapat menyebabkan keseimbangan alam/ekosistem laut terganggu dan berdampak langsung pada manusia. Sayangnya saat ini laut mulai mengalami kerusakan akibat ulah manusia pencemaran plastik, limbah industri, serta penangkapan ikan secara berlebihan menjadi ancaman serius bagi berkelanjutan ekosistem laut, padahal Allah telah mengingatkan dalam surat Al-A’raf: 56. Allah berfirman :
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada seorang yang berbuat kebaikan (Al-A’raf: 56)
Dari sini kita belajar bahwa menjaga laut bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga bentuk ibadah dan rasa Syukur kepada Allah, menjaga laut berarti menjaga rezeki, kehidupan, dan Amanah yang Allah titipkan kepada manusia. Semoga kita semua dapat berperan dalam menjaga Amanah menjaga laut dengan baik, aamiin. Wallahu a'lam bishawab. (AQU.biola125)