[email protected] 0251-8240773
Berita

Mahasiswa Baru UNIDA Dibekali Pendidikan Anti Korupsi, Bangun Generasi Cerdas Bertauhid Anti Korupsi

Sebagai bagian dari upaya untuk membangun generasi anti korupsi, para Mahasiswa Baru Universitas Djuanda (UNIDA) dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiwa Baru (PKKMB) Universitas Djuanda (UNIDA) Tahun Akademik 2022/2023 pada hari kedua, Selasa (13/9/2022), diberikan materi mengenai pendidikan anti korupsi dengan menghadirkan langsung narasumber tokoh nasional yang juga merupakan Ketua Umum Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI) Dr. H. Bambang Widjojanto, S.H., M.Sc, adapun moderator ialah Dekan Fakultas Pertanian (FAPERTA) UNIDA Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.

Dalam kesempatan ini, Dr. H. Bambang Widjojanto, S.H., M.Sc mengawali pembahasan dengan memutarkan film pendek berjudul “Selamat Siang, Risa!” karya sutradara Ine Febriyanti. Film ini merupakan sosialisasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai bentuk kampanye anti korupsi.

“Apa yang menarik dari film ini, yaitu yang pertama adalah kamu adalah dari mana kamu berasal. Disini Kampus Bertauhid, kamu bisa sukses di dunia, insyaAllah sukses di akhirat, tanamkan di dalam jiwa 21 Nilai Karakter Tauhid. Kedua, pemuda harus menjadi pemutus tindakan korupsi. Anak muda bisa memutus tradisi buruk ini. Pergerakan indonesia modern tidak akan mengalami perubahan apapun jika tidak melibatkan mahasiswa dan anak muda. Anak-anak muda adalah satu genarasi yang akan mewujudkan cita-cita indonesia. Anak muda mungkin tidak punya pengalaman, tapi memiliki masa depan,” tuturnya.

“Film tadi menceritakan, anda akan menjadi orang hebat kalau keluarga mendukung. Kami disini, akan menjadi bagian keluarga anda untuk mendampingi dan mendukung kesuksesan anda itu. Kemudian, karakter Risa yang menolak suap itu belajar dari tradisi keluarga. Jadi, jangan begitu takut dengan keluarga sederhana. Kesederhanaan tidak mencerminkan kebodohan. Justru ini akan menjadi dasar untuk kita bisa memacu kehebatan kita,” tambahnya.

Dr. H. Bambang Widjojanto, S.H., M.Sc menuturkan, korupsi seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan di dalam sistem kehidupan masyarakat, dikhawatirkan tindakan korupsi akan semakin permisif sehingga potensial menjadi mata uang dalam seluruh transaksi sosial kehidupan. Laporan Global Corruption Baromater 2020 menyebutkan, hampir seluruh koruptor justru adalah para lulusan dari kampus dan perguruan tinggi. Maka, tantangannya hari ini ialah apakah kampus dapat menjadi embrio dan kekuatan organik untuk mendorong gerakan anti korupsi.

“Peran perguruan tinggi harus menjadi pusat gerakan akademis pemberantasan korupsi dan mendorong gerakan pemberantasan korupsi baik secara lokal maupun nasional. Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Mendikbudristek harus diberi makna substansif, yakni kampus harus memperbanyak hadirnya orang yang punya keteladanan dan teruji rekam jejaknya, kampus harus membangun “genealogis” dengan menegakkan kebaikan tertinggi bukan yang paling sedikit keburukannya. Oleh karenanya sukses ditentukan oleh integritas, karakter dan kreatifitas serta persistensi. Untuk itu dalam mewujudkan generasi anti korupsi yakni harus dengan membangun karakter individu yang baik,” pungkasnya.