Mahasiswa Santri PP MABIT UNIDA Sampaikan Adab Interaksi dengan Lawan Jenis dalam Kajian Rutin Tauhid Muslimah
Universitas
Djuanda (UNIDA) kembali melaksanakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang pada
kesempatan kali ini diisi oleh Mahasiswa Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Bina
Tauhid (PP Mabit) UNIDA, Nur Avoy Sihotang dengan tema “Adab Interaksi dengan
Lawan Jenis” pada Jumat, 10 November 2023 di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA.
Dalam
pemaparannya, Nur Avoy Sihotang menyampaikan bahwa setiap manusia akan selalu
berinteraksi satu sama lain. Salah satu bentuk interaksi ini adalah dengan
berbicara atau berkomunikasi. Salah satu alat komunikasi yang sering kita
gunakan adalah bahasa lisan. Dalam menggunakan bahasa lisan ini, tentu harus
menggunakan bahasa yang baik, mudah dipahami dan dimengerti. Begitu juga dengan
kaum muslimah. Seorang muslimah harus menggunakan tata krama dan tutur kata
yang baik, jangan sampai bahasa lisan yang disampaikan menyakiti orang lain,
ketus dan menimbulkan permusuhan karena pada dasarnya akhlak yang baik akan
mengeluarkan bahasa yang baik.
Ada
banyak adab dan cara berbicara yang dicontohkan Rasulullah yang bisa dilakukan
oleh muslimah. Disarikan dari berbagai sumber, berikut beberapa adab atau cara
berbicara muslimah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW :
1. Jangan terlalu berceloteh, berhati-hatilah
dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara. Jadikan ucapan
yang disampaikan menjadi perkataan yang ringkas, jelas yang tidak bertele-tele
yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.
2. Allah SWT berfiman yang artinya yaitu dan
tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat maruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia (An nisa:114) Dan
ketahuilah wahai muslimah, semoga Allah Taala merahmatimu dan menunjukimu
kepada jalan kebaikan, bahwa di sana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat
perkataanmu.
3.
Allah SWT berfirman seorang duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk
disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir (Qaaf:17-18).
4.
Berbicara dengan Hati-hati, berusahalah mengontrol lidah hanya untuk
mengucapkan perkataan yang bernilai positif dan tidak menyinggung atau
menyakiti. Berbicaralah dengan hati-hati, jangan sampai lepas kendali.
Hendaknya kita pun senantiasa mengingat akan satu firman Allah SWT yang
artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS. Qaaf : 18)
5.
Berkata yang baik, jika tidak hendaknya diam Berkata yang baik juga merupakan
salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah. Sekiranya tidak mampu untuk
berbicara yang baik, atau merasa bibir ini gatal manakala mendengar orang
bergosip, maka sebaiknya menjauhlah dari hal-hal tersebut. Jangan turut
mendengarkan, yang akan memancing untuk turut serta. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa
yang beriman Kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik
atau diam,” (HR. Bukhari dan Muslim).
6.
Tidak mencela Rasulullah, SAW bersabda, “Bukanlah seorang mukmin tidak suka
mencela, melaknat dan berkata-kata keji,” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih).
Dengan kata lain, hadis di atas mengatakan bahwa orang-orang yang beriman
adalah orang-orang yang selalu berbicara dalam kebaikan.
7.
Menghindari ghibah dan panggilan yang buruk, Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad
SAW bersabda bahwa ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu
yang ia benci, si penanya kembali bertanya Wahai Rasulullah, bagaimanakah
pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya. Rasulullah saw
menjawab kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar,
berarti engkau telah berbuat buhtan atau mengada-ada.” (HR. Muslim, Tirmidzi,
Abu Dawud, dan Ahmad).
Dalam
hadis yang lain, Rasulullah SAW juga berkata janganlah kalian saling mendengki,
dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata
keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling
meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang
bersaudara (HR. Muttafaq alaih).
8.
Tidak memotong maupun memonopoli pembicaraan, memotong pembicaraan orang lain
di saat berbicara bisa membuat orang tersinggung. Selain itu, dengan memotong
pembicaraan orang lain, apa yang disampaikan orang lain belum tentu
tersampaikan dengan baik apa yang dimaksud. Berilah kesempatan lawan bicara anda
untuk menyelesaikan pembicaraan yang ingin dia sampaikan. Memonopoli
pembicaraan berarti ingin menguasai pembicaraan tanpa memperdulikan orang lain.
Secara alami, pembicaraan akan didominasi oleh satu orang jika memang apa yang
disampaikannya berbobot dan ia punya kompeten, keahlian terhadap topik yang
sedang dibicarakan. Jika anda tidak kompeten terhadap apa yang dibicarakan,
jangan berusaha untuk mendominasi pembicaraan. Hal ini akan membuat psikologi komunikasi
anda menjadi buruk.
9.
Menjauhi debat kusir, tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah
untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat (HR Ahmad dan Tirmidzi)
dan dalam hadist lain disebutkan sabda Nabi SAW bahwa Aku jamin rumah di dasar
surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di
tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin
rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya (HR Abu Daud).
10.
Merasa Kagum pada diri sendiri, jauhilah sifat merasa kagum dengan diri
sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata, sebab ini
merupakan sifat yang sangat dibenci Nabi Muhammad SAW. Dimana Beliau bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh
majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok
fasih dengan ucapannya dan merasa taajjub terhadap ucapannya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu
Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsalabah Al-Khusyani).
11.
Menjaga Suara Muslimah harus menjaga suara yang dikeluarkannya. Nabi Muhammad
SAW juga telah bersabda Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka
syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia
terfitnah) (HR. At Tirmidzi). Karena itu, sebagai muslimah harus menjaga suara
saat berbicara dalam batas kewajaran bukan sengaja dibikin mendesah-desah,
mendayu-dayu, atau merayu. dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak
kamu hindari. (QS. Qaf Ayat 16-19)
Berbicara
antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, sebenarnya tidak dilarang.
Hanya syaratnya, pembicaraan yang dilakukan memenuhi ketentuan secara syara.
Pembicaraan boleh dilakukan jika tidak berkhalwat, tidak menimbulkan fitnah,
isi pembicaraan mengandung kebaikan, serta tetap menjaga adab-adab kesopanan
yang berlaku. Pada zaman Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sahabat,
banyak kisah istri-istri Rasulullah yang berbicara dengan para shahabat.
Misalnya ketika memberi jawaban atas suatu pertanyaan tentang Islam. Setelah
Rasulullah wafat, Aisyah radhiyallahuanha atau sang Ummul Mukminin juga menjadi
guru bagi para sahabat.
Dalam
melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita
bisa meneladani sikap para istri nabi. Sebagaimana firman Allah SWT, Hai
istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik (QS
Al-Ahzab : 32). Ayat itu menjelaskan tentang adab saat berbicara dengan lawan
jenis yang bukan muhrim. Baik secara langsung, maupun via teks atau media
sosial. Untuk menjaga diri dari fitnah, hendaknya perempuan dan laki-laki yang
berdialog atau berkirim pesan dengan lawan jenis bukan muhrim bisa menjaga
diri.
Ada
batasan dan adab dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah juga tidak lepas
dari interaksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram ini.
Ketika saat berbelanja, sekolah, kuliah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Ustadzah Ummi Fairuz Ar-Rahbini menjelaskan, ada aturan-aturan dalam muamalah
antara seorang laki-laki dan perempuan. Menurut istri Buya Yahya ini, dalam
pembicaraan dengan lawan jenis, intinya jangan merasa nyaman, jangan dinikmati
dan hati-hatilah karena memang awalnya ketertarikan itu tidak serta merta.
Biasanya
dimulai dari obrolan santai, pembahasan tugas dan seterusnya lalu berlanjut
dengan candaan yang menjadikan kita semakin lebih nyaman dan senang untuk
meneruskan komunikasi sampai akhirnya akan menjurus kearah yang lebih privasi.
Artinya jangan sampai kita merasa aman dan merasa yakin bahwa hal tersebut
tidak membawa pengaruh untuk kita karena dalam menggoda manusia, setan punya
seribu satu cara dan yang namanya lawan jenis itu ada daya tariknya seperti
positif dan negatif. Maka antara lawan jenis ada tarik-menariknya dan itu pun
tidak bisa dipungkiri. Jika hanya sekedar bercanda, Ummi Fairuz menuturkan untuk
masalah canda, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bercanda. Mungkin kita
sudah pernah mendengar bagaimana Nabi pernah bercanda dengan seorang wanita tua
dan dia bertanya kepada Nabi, apakah dia masuk Surga. Nabi pun menjawab di dalam
surga tidak ada wanita tua. Dan Nabi tidak berdusta karena memang didalam Surga
semua wanita tua akan menjadi muda. Candaan Nabi tidak mengandung unsur kebohongan
tidak juga menyakiti. Candaan Nabi pun sangat terhormat. Lalu bagaimana dengan
candaan kita, apa yang kita obrolkan, apa yang kita jadikan guyon itu semua
akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
“Jika
candaan berkaitan dengan obrolan antara lawan jenis itu pasti ada daya
tariknya. Obrolan biasa akan menjadi istimewa jika setan sudah ikut campur
didalamnya, sehingga tetaplah waspada dan jangan sampai lengah karena setan
menjerumuskan kita secaraa langsung akan tetapi dengan cara perlahan-lahan.
Dalam urusan berbicara saja Nabi pernah bersabda barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari kiamat maka berkatalah yang baik atau diamlah. Intinya
dalam berkomunikasi dengan lawan jenis, ada adab yang harus diperhatikan
terutama oleh kaum perempuan muslimah, antara lain tidak melembutkan suara,
tidak berkhalwat, mengucapkan perkataan yang baik dan tundukkan pandangan,”
ungkapnya.
“Sedangkan
dalam berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram melalui media sosial
(medsos) seperti chatting misalnya, memang digunakan syarat-syarat yang
hanya bisa diukur oleh diri sendiri. Seperti bahasa yang digunakan termasuk
merayu atau tidak, isi pembicaraan merupakan hal penting atau tidak dan
sebagainya. Karena itu, dibutuhkan kejujuran masing-masing pribadi dalam
mengukurnya, dan sejauh mana kita merasa diawasi oleh Allah. Semakin kuat iman
seseorang, maka semakin takut ia untuk melanggar hal-hal yang telah dibatasi
Allah, dan rasa diawasi oleh Allah juga semakin kuat,” tambahnya.