[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Mahasiswa Santri PP MABIT UNIDA Sampaikan Adab Interaksi dengan Lawan Jenis dalam Kajian Rutin Tauhid Muslimah

Universitas Djuanda (UNIDA) kembali melaksanakan kegiatan rutin Kajian Muslimah yang pada kesempatan kali ini diisi oleh Mahasiswa Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Bina Tauhid (PP Mabit) UNIDA, Nur Avoy Sihotang dengan tema “Adab Interaksi dengan Lawan Jenis” pada Jumat, 10 November 2023 di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA.

Dalam pemaparannya, Nur Avoy Sihotang menyampaikan bahwa setiap manusia akan selalu berinteraksi satu sama lain. Salah satu bentuk interaksi ini adalah dengan berbicara atau berkomunikasi. Salah satu alat komunikasi yang sering kita gunakan adalah bahasa lisan. Dalam menggunakan bahasa lisan ini, tentu harus menggunakan bahasa yang baik, mudah dipahami dan dimengerti. Begitu juga dengan kaum muslimah. Seorang muslimah harus menggunakan tata krama dan tutur kata yang baik, jangan sampai bahasa lisan yang disampaikan menyakiti orang lain, ketus dan menimbulkan permusuhan karena pada dasarnya akhlak yang baik akan mengeluarkan bahasa yang baik.

Ada banyak adab dan cara berbicara yang dicontohkan Rasulullah yang bisa dilakukan oleh muslimah. Disarikan dari berbagai sumber, berikut beberapa adab atau cara berbicara muslimah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW :

 1. Jangan terlalu berceloteh, berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara. Jadikan ucapan yang disampaikan menjadi perkataan yang ringkas, jelas yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.

 2. Allah SWT berfiman yang artinya yaitu dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat maruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia (An nisa:114) Dan ketahuilah wahai muslimah, semoga Allah Taala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa di sana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.

3. Allah SWT berfirman seorang duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qaaf:17-18).

4. Berbicara dengan Hati-hati, berusahalah mengontrol lidah hanya untuk mengucapkan perkataan yang bernilai positif dan tidak menyinggung atau menyakiti. Berbicaralah dengan hati-hati, jangan sampai lepas kendali. Hendaknya kita pun senantiasa mengingat akan satu firman Allah SWT yang artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS. Qaaf : 18)

5. Berkata yang baik, jika tidak hendaknya diam Berkata yang baik juga merupakan salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah. Sekiranya tidak mampu untuk berbicara yang baik, atau merasa bibir ini gatal manakala mendengar orang bergosip, maka sebaiknya menjauhlah dari hal-hal tersebut. Jangan turut mendengarkan, yang akan memancing untuk turut serta. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang beriman Kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam,” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Tidak mencela Rasulullah, SAW bersabda, “Bukanlah seorang mukmin tidak suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji,” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih). Dengan kata lain, hadis di atas mengatakan bahwa orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang selalu berbicara dalam kebaikan.

7. Menghindari ghibah dan panggilan yang buruk, Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci, si penanya kembali bertanya Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya. Rasulullah saw menjawab kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan atau mengada-ada.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW juga berkata janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR. Muttafaq alaih).

8. Tidak memotong maupun memonopoli pembicaraan, memotong pembicaraan orang lain di saat berbicara bisa membuat orang tersinggung. Selain itu, dengan memotong pembicaraan orang lain, apa yang disampaikan orang lain belum tentu tersampaikan dengan baik apa yang dimaksud. Berilah kesempatan lawan bicara anda untuk menyelesaikan pembicaraan yang ingin dia sampaikan. Memonopoli pembicaraan berarti ingin menguasai pembicaraan tanpa memperdulikan orang lain. Secara alami, pembicaraan akan didominasi oleh satu orang jika memang apa yang disampaikannya berbobot dan ia punya kompeten, keahlian terhadap topik yang sedang dibicarakan. Jika anda tidak kompeten terhadap apa yang dibicarakan, jangan berusaha untuk mendominasi pembicaraan. Hal ini akan membuat psikologi komunikasi anda menjadi buruk.

9. Menjauhi debat kusir, tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat (HR Ahmad dan Tirmidzi) dan dalam hadist lain disebutkan sabda Nabi SAW bahwa Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya (HR Abu Daud).

10. Merasa Kagum pada diri sendiri, jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata, sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Nabi Muhammad SAW. Dimana Beliau bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa taajjub terhadap ucapannya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsalabah Al-Khusyani).

11. Menjaga Suara Muslimah harus menjaga suara yang dikeluarkannya. Nabi Muhammad SAW juga telah bersabda Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah) (HR. At Tirmidzi). Karena itu, sebagai muslimah harus menjaga suara saat berbicara dalam batas kewajaran bukan sengaja dibikin mendesah-desah, mendayu-dayu, atau merayu. dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari. (QS. Qaf Ayat 16-19)

Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, sebenarnya tidak dilarang. Hanya syaratnya, pembicaraan yang dilakukan memenuhi ketentuan secara syara. Pembicaraan boleh dilakukan jika tidak berkhalwat, tidak menimbulkan fitnah, isi pembicaraan mengandung kebaikan, serta tetap menjaga adab-adab kesopanan yang berlaku. Pada zaman Rasululullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sahabat, banyak kisah istri-istri Rasulullah yang berbicara dengan para shahabat. Misalnya ketika memberi jawaban atas suatu pertanyaan tentang Islam. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah radhiyallahuanha atau sang Ummul Mukminin juga menjadi guru bagi para sahabat.

Dalam melakukan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, kita bisa meneladani sikap para istri nabi. Sebagaimana firman Allah SWT, Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik (QS Al-Ahzab : 32). Ayat itu menjelaskan tentang adab saat berbicara dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Baik secara langsung, maupun via teks atau media sosial. Untuk menjaga diri dari fitnah, hendaknya perempuan dan laki-laki yang berdialog atau berkirim pesan dengan lawan jenis bukan muhrim bisa menjaga diri.

Ada batasan dan adab dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslimah juga tidak lepas dari interaksi dan berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram ini. Ketika saat berbelanja, sekolah, kuliah, bekerja dan aktivitas lainnya. Ustadzah Ummi Fairuz Ar-Rahbini menjelaskan, ada aturan-aturan dalam muamalah antara seorang laki-laki dan perempuan. Menurut istri Buya Yahya ini, dalam pembicaraan dengan lawan jenis, intinya jangan merasa nyaman, jangan dinikmati dan hati-hatilah karena memang awalnya ketertarikan itu tidak serta merta.

Biasanya dimulai dari obrolan santai, pembahasan tugas dan seterusnya lalu berlanjut dengan candaan yang menjadikan kita semakin lebih nyaman dan senang untuk meneruskan komunikasi sampai akhirnya akan menjurus kearah yang lebih privasi. Artinya jangan sampai kita merasa aman dan merasa yakin bahwa hal tersebut tidak membawa pengaruh untuk kita karena dalam menggoda manusia, setan punya seribu satu cara dan yang namanya lawan jenis itu ada daya tariknya seperti positif dan negatif. Maka antara lawan jenis ada tarik-menariknya dan itu pun tidak bisa dipungkiri. Jika hanya sekedar bercanda, Ummi Fairuz menuturkan untuk masalah canda, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bercanda. Mungkin kita sudah pernah mendengar bagaimana Nabi pernah bercanda dengan seorang wanita tua dan dia bertanya kepada Nabi, apakah dia masuk Surga. Nabi pun menjawab di dalam surga tidak ada wanita tua. Dan Nabi tidak berdusta karena memang didalam Surga semua wanita tua akan menjadi muda. Candaan Nabi tidak mengandung unsur kebohongan tidak juga menyakiti. Candaan Nabi pun sangat terhormat. Lalu bagaimana dengan candaan kita, apa yang kita obrolkan, apa yang kita jadikan guyon itu semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

“Jika candaan berkaitan dengan obrolan antara lawan jenis itu pasti ada daya tariknya. Obrolan biasa akan menjadi istimewa jika setan sudah ikut campur didalamnya, sehingga tetaplah waspada dan jangan sampai lengah karena setan menjerumuskan kita secaraa langsung akan tetapi dengan cara perlahan-lahan. Dalam urusan berbicara saja Nabi pernah bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka berkatalah yang baik atau diamlah. Intinya dalam berkomunikasi dengan lawan jenis, ada adab yang harus diperhatikan terutama oleh kaum perempuan muslimah, antara lain tidak melembutkan suara, tidak berkhalwat, mengucapkan perkataan yang baik dan tundukkan pandangan,” ungkapnya.

“Sedangkan dalam berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram melalui media sosial (medsos) seperti chatting misalnya, memang digunakan syarat-syarat yang hanya bisa diukur oleh diri sendiri. Seperti bahasa yang digunakan termasuk merayu atau tidak, isi pembicaraan merupakan hal penting atau tidak dan sebagainya. Karena itu, dibutuhkan kejujuran masing-masing pribadi dalam mengukurnya, dan sejauh mana kita merasa diawasi oleh Allah. Semakin kuat iman seseorang, maka semakin takut ia untuk melanggar hal-hal yang telah dibatasi Allah, dan rasa diawasi oleh Allah juga semakin kuat,” tambahnya.