Majelis Dhuha UNIDA: Wakil Rektor IV Paparkan Model Audit Ruang Laut sebagai Upaya Perlindungan Rezeki Nelayan Tangkap
Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan Majelis Dhuha yang rutin dilaksanakan di Masjid Baitul Hamdi pada setiap hari Jum’at pagi minggu kedua di setiap bulannya. Dalam pelaksanaan kali ini, Jum’at (20/6/2025) hadir sebagai narasumber Wakil Rektor IV UNIDA sekaligus dosen Fakultas Pertanian (FAPERTA), Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si menyampaikan kajian bertema "Audit Ruang Laut, Rejeki Nelayan Tangkap, dan Karakter Tauhid."
Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si menjelaskan mengenai pentingnya audit ruang laut sebagai proses evaluasi terhadap implementasi rencana tata ruang laut. Hal ini bertujuan untuk mencegah konflik antar pengguna, memastikan pemanfaatan ruang laut berjalan sesuai aturan, dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
“Audit ruang laut merupakan kebutuhan mendesak untuk memastikan pemanfaatan ruang laut sesuai dengan peraturan, berkelanjutan, dan tidak menimbulkan konflik antar pengguna ruang,” jelasnya.
Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si kemudian merinci lima komponen utama dalam audit ruang laut, yaitu inventarisasi data untuk mengumpulkan data spasial dan non-spasial, analisis kepatuhan untuk menilai apakah kegiatan di laut sudah sesuai dengan rencana zonasi ruang laut (RZWP3K/Perda), penilaian dampak untuk mengevaluasi dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi, kemudian identifikasi konflik penggunaan untuk mndeteksi tumpang tindih atau konflik antara sektor dan rekomendasi untuk mendeteksi tumpang tindih atau konflik antara sektor.
Lebih lanjut, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si menjelaskan bahwa pendekatan audit ruang laut dapat dilakukan melalui tiga metode, yakni GIS-based Auditing, Checklist & Matriks Penilaian, serta Pendekatan Partisipatif.
“GIS-based auditing menggunakan sistem informasi geografis untuk membandingkan antara rencana dan realisasi pemanfaatan ruang laut,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si juga membahas mengenai konsep rejeki nelayan tangkap, yaitu pendapatan yang diperoleh nelayan dari aktivitas menangkap ikan atau biota laut lainnya. Ia menyebutkan sejumlah faktor yang memengaruhi hasil tangkapan, antara lain kondisi cuaca dan musim, ketersediaan sumber daya ikan, teknologi dan peralatan tangkap, dinamika harga pasar, serta persaingan dengan kapal besar atau aktivitas penangkapan ilegal.
Menariknya, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si menekankan pendekatan khas UNIDA dalam memandang rezeki nelayan yang tidak hanya bertumpu pada aspek teknis, melainkan juga pada nilai-nilai spiritual. Ia memperkenalkan konsep DUIT SaJuTa, akronim yang mencerminkan karakter tauhid yaitu Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal, Sabar, Jujur, dan Takwa.
“Karakter tauhid inilah yang membentuk keyakinan bahwa rezeki adalah ketetapan Allah, yang harus diiringi dengan usaha maksimal dan sikap spiritual yang kuat,” pungkasnya.