Majelis Tasbih UNIDA: Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si Kaji Introduksi Parameter Zakat-Infaq-Shadaqah ke Dalam Model Bioekonomi Perikanan
Universitas
Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT)
selenggarakan kegiatan rutin Majelis Tasbih pada Jum’at, 18 Agustus 2023.
Kegiatan majelis tasbih ini dilaksanakan secara hybrid yaitu daring
melalui platform Zoom Cloud Meeting dan live streaming UNIDA TV
serta luring di Majelis Baitul Quran (MBQ) UNIDA. Pada kesempatan ini, Majelis Tasbih
diisi oleh Wakil Rektor III UNIDA, Dr. Yudi Wahyudin,
S.Pi., M.Si.
Dalam
pemaparannya, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si menyampaikan materi berjudul “Introduksi
Parameter Zakat-Infaq-Shadaqah ke Dalam Model Bioekonomi Perikanan”.
“Beberapa waktu
yang lalu kita sudah pernah membahas terkait dengan bagaimana kesejahteraan
manusia bisa diambil dari ekosistem pesisir, sekarang kita masuk kedalam
bagaimana perikanan bisa masuk dalam komponen yang bisa juga menghadirkan
kesejahteraan bagi manusia dimana kesejahteraan itu memang dihadirkan oleh
Allah SWT untuk bisa dimanfaatkan oleh manusia. Kemudian kita coba memasukan
parameter zakat-infaq-sodaqoh ini kedalam model bioekonomi perikanan yang
memang sudah bertumbuh kembang menjadi sebuah ilmu ekonomi perikanan didunia
dan digunakan oleh berbagai mahasiswa serta peneliti untuk bisa mengembangkan
bagaimana pengelolaan perikanan berkelanjutan itu bisa dilaksanakan,” ujarnya
mengawali pemaparan.
Dr. Yudi
Wahyudin, S.Pi., M.Si menuturkan, berdasarkan Q.S. Al-Baqarah ayat 164
disebutkan bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia dan apa yang Allah SWT turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara Langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebenaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
“Para hadirin,
disini terlihat bahwa memang disebutkan oleh Allah SWT dengan surah Al-Baqarah
Ayat 164 ini ada bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi
manusia baik langsung dari alam maupun juga setelah dilakukan proses
pengolahan. Ini menyatakan kepada kita bahwa sumber daya alam itu diperuntukan
bagi kesejahteraan manusia. Artinya bahwa memang segenap apa yang ada di dunia
ini memang untuk kesejahteraan manusia sebagai ciptaan Allah SWT,” terangnya.
Dr. Yudi
Wahyudin, S.Pi., M.Si kemudian menyampaikan Q.S. Al-Araf ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya
Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan kamu di muka
bumi (sumber) penghidupan, amat sedikitlah kamu bersyukur”.
“Sumber kehidupan
ini juga menyampaikan kepada kita semua berbagai macam yang bisa kita nikmati
oleh kita semua. Nah ini tentu saja kita coba ambil bahwa ayat-ayat Al-Quran
ini sudah dibuktikan oleh beberapa peneliti dan sudah di publikasi di
jurnal-jurnal internasional,” ungkapnya yang juga merupakan Dosen Fakultas
Pertanian UNIDA tersebut.
Dr. Yudi
Wahyudin, S.Pi., M.Si. menjelaskan bahwasanya kesejahteraan manusia itu bisa
diperoleh karena adanya ilmu pengetahuan yang timbul dan peran manusia yang
mengembangkan ilmu pengetahuannya untuk menemukan capital modal berupa
buatan.
“Sebagai contoh
dalam konteks perikanan yaitu perahu atau alat tangkap yang bisa digunakan
untuk menangkap ikan dilautan sehingga interaksi ini menghadirkan jasa
ekosistem dari alam untuk bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia,”
jelasnya.
Kemudian di dalam
Surah Al-Baqarah disebutkan juga bahwa diperlihatkan dalam konteks umumnya
yaitu di wilayah pesisir. Apabila kita berada di wilayah pesisir, kemudian
wilayah pesisir itu terdapat lautan, maka seluruh aktifitas yang ada disekitar
lautan ini, itu bisa menghadirkan sumber penghidupan dan pendapatan yang dapat
dimanfaatkan untuk membangun sebuah kesejahteraan bagi masyarakat.
Lebih jauh, di dalam
Q.S. Al-Maaidah ayat 96 disebutkan bahwa “dihalalkan bagimu binatang buruan
laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu,
dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap)
binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah
Yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”.
“Kemudian disitu
disebutkan bahwa “bagimu binatang buruan”, itu adalah aktivitas perikanan
sebetulnya dan yang dimaksud buruan dari laut itu adalah kegiatan perikanan,
kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumber daya
ikan yang ada dialam baik dengan cara memancing, menjaring, atau bahkan
dibeberapa tempat itu ada yang menggunakan perangkap,” tuturnya.
Dalam
simpulannya, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si. mengatakan bahwa sumberdaya ikan
merupakan nikmat dan karunia dari Allah SWT yang dapat dimanfaatkan oleh
nelayan untuk memperoleh benefit yang berguna bagi hidup, kehidupan dan
penghidupan keluarga. Setiap usaha perikanan berbasis syariah seharusnya
mengikuti perintah Allah SWT agar dikeluarkan infaknya sehingga kelak
zakat-infak-shadaqah (ZIS) yang dikeluarkannya akan diganti dengan secara
berlipatganda melalui berbagai rahmat dan karunia lain yang disediakan Allah
SWT di alam semesta.
“Model
pengelolaan perikanan yang memasukkan faktor ZIS ke dalam model bioekonomi
perikanan Gordon-Schaefer ini dapat dikembangkan menjadi model Pengelolaan
Perikanan Berbasis Syariah (Sharia Fisheries Management, SFM). Model ini semoga
dapat mendorong upaya pengelolaan berbasis ekosistem yang selama ini dikembangkan
dan dikombinasikan dengan dikeluarkannya zakat-infak-shadaqah sebagai infak
sebagaimana diperintahkan Allah SWT, sehingga pengelolaan perikanan yang
dilakukan dapat memberikan rahmat dan keberkahan bagi manusia secara
keseluruhan,” pungkasnya.
Pemaparan
mengenai “Introduksi Parameter Zakat-Infaq-Shadaqah ke Dalam Model Biokonomi
Perikanan” secara lebih jelas oleh Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si. dapat
disaksikan kembali melalui kanal YouTube UNIDA TV, atau dengan klik langsung
tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=OAIY_bGM6uI&t=200s