Majelis Tasbih UNIDA: Fenomena Galat dalam Kehidupan
Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali adakan kegiatan mingguan Majelis Tasbih di Majelis Baitul Quran (MBQ) UNIDA pada Jumat, 5 Januari 2024. Majelis Tasbih kali ini diisi oleh Dosen Fakultas Pertanian (FAPERTA) UNIDA, Dr. Ir. Setyono, M.Si dengan paparan bertemakan "Aksiomatika Ilmiah Ilahiah" dengan materi berjudul Fenomena Galat Dalam Kehidupan.

Dr. Ir. Setyono, M.Si dalam paparannya menuturkan bahwa sebenarnya selama hidup manusia tidak pernah bebas dari kesalahan. Kesalahan pada prinsipnya adalah perbedaan. Misalnya perbedaan antara jawaban ujian dengan kunci yang dibuat dosen, perbedaan antara waktu kedatangan dan kepulangan dengan jam kerja, perbedaan antara pelaksanaan dengan perencanaan, dan sebagainya. Dalam hal ibadah secara prinsip terdapat 4 kemungkinan kategori kesalahan. Kesalahan ini dibagi menjadi 4 kategori, yaitu meninggalkan yang diperintah, mengerjakan yang dilarang, mengerjakan yang tidak diperintah, dan meninggalkan yang tidak dilarang.
Ustadz Nabiel Fuad Almusawa pernah memberikan tausiah. Selesai tausiah ada seorang peserta yang bertanya, “Di tempat kami yang biasa kami lakukan begini. Bagaimana ustadz?”. Ustadz Nabiel menjawab, “Tidak apa-apa, hanya saja itu berbeda dari sunah”. Begitu santunnya beliau, tanpa menyebut bahwa itu bid’ah, melainkan dengan istilah berbeda dari sunah. Statistika juga memberikan istilah sopan untuk perbedaan antara statistik contoh dengan parameter populasi, bukan menyebutnya sebagai kesalahan melainkan mengistilahkannya dengan galat (error).
Galat bisa terjadi kapan pun, seperti galat dalam statistik, galat pertanyaan dalam debat Cawapres yang lalu, galat dalam pilihan berbasis pemungutan suara, galat informasi, galat pemahaman, galat antara perbuatan dengan ucapan, galat dalam perasaan dan ucapan mengubah hukum.
Allah menakdirkan bahwa manusia pernah bersalah bukan sesuatu yang sia-sia, melainkan ada manfaatnya. Adanya komponen stokastik menyadarkan manusia bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia bersifat relatif. Pengujian hipotesis menggunakan uji statistik dengan taraf nyata tertentu memberikan kesadaran kepada peneliti bahwa kesimpulannya mungkin saja salah. Pengujian hipotesis tanpa uji statistik bagaikan janji tanpa insya Allah.
“Pengetahuan manusia bersifat relatif, kebenaran pengetahuan manusia berbatas waktu dan berbatas tempat, oleh sebab itu manusia hendaknya sadar bahwa pengetahuannya mungkin saja salah, manusia tidak luput dari kesalahan, oleh sebab itu hendaknya segera bertobat ketika melakukan kesalahan, kesalahan dapat berupa tidak mengerjakan yang diperintahkan, tidak meninggalkan yang dilarang, mengerjakan yang tidak diperintahkan, dan meninggalkan yang tidak dilarang serta sebagai manusia hendaknya berlaku jujur, baik ketika mengungkapkan pengetahuan maupun ketika mengungkapkan perasaan,” ungkapnya.
Pemaparan
lebih jelas mengenai "Fenomena Galat Dalam Kehidupan" oleh Dr. Ir.
Setyono, M.Si dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube UNIDA TV, atau
dengan klik tautan berikut:
https://www.youtube.com/live/0ZX3r8heJa4?si=_OCy-Bsr6vBhjL3J