[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Majelis Tasbih UNIDA: Kaidah Kodifikasi Al-Quran serta Implikasinya Terhadap Makna

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Tasbih. Pada minggu ini, Jum’at (21/07/2023), kegiatan majelis tasbih diisi oleh Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd.

Dalam paparannya, Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd menyampaikan materi berjudul “Kaidah Kodifikasi Al-Quran Serta Implikasinya Terhadap Makna”.

“Pada pagi ini saya akan membahas materi tentang Kaidah Kodifikasi Al-Quran Serta Implikasinya Terhadap Makna. Kodifikasi ini bisa dimaknai dengan 2 makna yaitu Pertama, mengumpulkan dari berbagai media dan lain sebagainya dikodifikasikan didalam lembaran-lembaran yang kemudian dijadikan menjadi satu buku yang dikenal sebagai istilah kitab. yang kedua yaitu tentang penulisan artinya mengumpulkan huruf, mengumpulkan kata sehingga menjadi sebuah kalimat sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW,” tuturnya.

“Kemudian yang akan kita bahas terkait kaidah kodifikasinya yang mana kaidah ini ada beberapa hal yang sepertinya bertentangan dengan kaidah penulisan bahasa arab secara umum yang dikenal dengan kaidah Imlah sehingga ada karakteristik tertentu, karakteristik khusus yang mana ini perlu pengalaman melaui pendekatan kaidah penulisan Al-Quran sehingga nanti akan ditemukan rahasia yang terkandung didalamnya,” tambahnya.

Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang tafsir Al-Quran itu harus dibarengi dengan seperangkat ilmu yang wajib dikuasai untuk mampu menafsirkan Al-Quran sehingga layak dikatakan sebagai seorang Mufassir.

Didalam buku Mazahib Al-Tafsir Al-Islam sebagaimana dijelaskan oleh Al-Syirbasyi, ditemukan kenyataan bahwa pekerjaan menafsirkan Al-Quran dipandang sebagai hal yang luar biasa dan sebagai sesuatu yang menakutkan juga karena terdapat ancaman apabila seseorang sembarangan mentafsirkan maka akan mendapatkan laknat dari Allah SWT.

“Apabila kita ingin mencoba mentafsirkan Al-Quran minimal ada 15 macam ilmu yang harus kita kuasai. Oleh karena itu, maka bahasa arab ini sebagai jalan agar kita mampu untuk menguasai ilmu-ilmu itu sehingga kita mampu untuk memahami Al-Quran. Namun secara sederhana, kita bisa memahami Al-Quran melalui tulisan dan bacaan yang terdapat didalam Al-Quran,” tuturnya.

Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd menjelaskan bahwa sejarah penulisan mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan (masa penyeragaman) itu ditentukan dalam 2 sisi yaitu dipilih dari hafalan yang paling banyak diamalkan oleh para qari, dan dari sisi bahasa dipilih yang paling fasih. Kemudian Al-Quran disalin lagi kedalam bebrapa naskah diantaranya yaitu Mushaf Imam, Mushaf Hijazi (Madinah dan mekah), Mushaf Iraqi (Kufah dan Bashrah), dan Mushaf Syamy (Syam).

Kemudian, Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd menyatakan bahwa hukum dalam menyentuh Al-Quran ada 2 pendapat menurut sebagian ulama yaitu diperbolehkan walaupun tidak memiliki wudhu dan wajib memiliki wudhu terlebih dahulu sebelum menyentuh Al-Quran.

“Tentang menyentuh Al-Quran ada 2 pendapat yakni ada yang diperbolehkan walaupun kita tidak mempunyai wudhu dan ada yang tidak boleh, artinya kita wajib memiliki wudhu terlebih dahulu sebelum menyentuh Al-Quran. Para ulama sepakat apabila ada orang yang haid dan orang yang junub itu hukumnya haram menyentuh alquran. Tapi apabila batal wudhu atau lain sebagainya, ada 2 pendapat para ulama yang pertama Jumhur ulama mengharamkannya menyentuh dan membawa Mushaf (menurut Madzhab Malik dan Syafi i) dan yang kedua, sebagian ulama memperbolehkannya (menurut Imam Abu Hanifah),” tuturnya.

Sebagai informasi, kegiatan Majelis Tasbih merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada hari Jumat di setiap minggunya sebagai salah satu implementasi darma ketauhidan yang dimiliki oleh UNIDA. Kegiatan Majelis Tasbih ini dilaksanakan secara luring di Majelis Baitul Quran (MBQ) dan daring melalui platform Zoom Cloud Meeting. Disiarkan juga secara live streaming melalui kanal YouTube UNIDA TV.

Pemaparan mengenai “Meraih Asa Melalui Pengembangan Penyulingan dan Produk Hilirisasi Minyak Atsiri yang Islami” secara lebih jelas oleh Didin Syamsudin, S.Pd., M.M.Pd dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube UNIDA TV, atau dengan klik disini.