[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Majelis Tasbih UNIDA: Keajaiban Kolostrum sebagai Tanda Kekuasaan Allah

Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) Universitas Djuanda (UNIDA) kembali selenggarakan kegiatan rutin mingguan Majelis Tasbih pada Jumat, (10/04/2026) yang berlangsung di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA.

Kegiatan Majelis Tasbih kali ini diisi oleh Ketua Majelis Guru Besar sekaligus Dosen Fakultas Pertanian (FAPERTA) UNIDA,  Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si yang menyampaikan materi dengan tema "Dari Susu, Daging hingga Kulit pada Ternak: Tanda Kekuasaan Allah".

Kegiatan ini menghadirkan kajian tadabbur Qur’ani yang dipadukan dengan pendekatan ilmiah, khususnya membahas kolostrum sebagai “makanan pertama” manusia.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si menjelaskan bahwa kolostrum air susu pertama yang dihasilkan ibu setelah melahirkan bukan hanya sekadar nutrisi, melainkan juga merupakan manifestasi rahmat dan tanda kekuasaan Allah SWT. Kajian ini menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan biologi modern, sehingga memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

Kolostrum dijelaskan memiliki kandungan nutrisi makro dan mikro, serta komponen imunologis penting seperti imunoglobulin, laktoferin, dan lisozim yang berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh bayi sejak dini. Selain itu, terdapat pula hormon, faktor pertumbuhan, serta sel hidup yang berkontribusi pada perkembangan dan perlindungan kesehatan bayi.

Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si menegaskan bahwa Al-Qur’an telah lebih dahulu memberikan isyarat tentang keistimewaan susu sebagai pelajaran (ibrah), sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 66 dan QS. Al-Mu’minun ayat 21.

“Kolostrum bukan sekadar cairan biologis, tetapi merupakan rahmat Allah SWT yang sangat istimewa bagi awal kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat sistem perlindungan alami yang luar biasa, yang jika ditadabburi akan menambah keimanan kita,” ujar narasumber dalam penyampaian materinya.

Lebih lanjut, dijelaskan pula bahwa kolostrum berperan dalam transfer imunitas dari ibu kepada anak, serta memiliki mekanisme kerja kompleks yang mendukung pembentukan sistem kekebalan tubuh bayi. Bahkan, kandungan mikroRNA dan sel punca dalam ASI dapat memengaruhi ekspresi gen melalui mekanisme epigenetik.

Kegiatan ini juga mengaitkan konsep persusuan dalam Islam, seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 233 mengenai anjuran menyusui selama dua tahun, serta implikasi hukum terkait hubungan sepersusuan.

Menutup kajian, Prof. Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si mengajak peserta untuk tidak berhenti pada kekaguman semata, melainkan menjadikannya sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab.

“Ibrah dari penciptaan ini harus diwujudkan dalam bentuk syukur dan tindakan nyata, salah satunya dengan mendukung pemberian ASI, terutama kolostrum sejak dini, karena di situlah terdapat kebaikan besar bagi generasi mendatang,” pungkasnya.