[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Majelis Tasbih UNIDA: Memahami Autisme dari Perspektif Islam dan Pembelajaran

Badan Pengkajian Penerapan Tauhid (BPPT) Universitas Djuanda (UNIDA) kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Majelis Tasbih pada Jumat (04/07/2025) di Masjid Baitul Hamdi (MBH) UNIDA. Kegiatan yang menjadi sarana penguatan nilai-nilai ketauhidan ini menghadirkan narasumber Wakil Rektor III UNIDA Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd, yang menyampaikan materi bertema “Penanganan Anak Autisme dalam Pembelajaran.”

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd memberikan penjelasan mendalam tentang spektrum autisme dan karakteristiknya. Ia menjelaskan bahwa anak autis memiliki ciri-ciri khusus dalam tiga aspek utama, yaitu komunikasi (kesulitan berbicara atau memahami bahasa, sering menggunakan gerakan nonverbal), interaksi sosial (kurang kontak mata, cenderung menyendiri), dan perilaku (gerakan berulang atau stimming).

“Berbagai jenis autisme, mulai dari Autis Klasik yang gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun dengan kesulitan komunikasi verbal dan nonverbal yang signifikan, hingga Asperger Syndrome yang memiliki kemampuan bahasa dan intelektual relatif normal namun mengalami kesulitan pada interaksi sosial dan empati,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menyoroti kesulitan yang dihadapi mahasiswa autis dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Tantangan tersebut meliputi kesulitan berpartisipasi dalam diskusi kelompok, tidak memahami norma komunikasi dosen-mahasiswa, sulit memprioritaskan tugas kuliah, sensitivitas terhadap lingkungan kampus yang ramai, serta tantangan dalam pengaturan diri dan kehidupan asrama.

Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam penanganan anak autis di tingkat sekolah dasar. Beberapa strategi yang disampaikan antara lain mengikuti pelatihan strategi pembelajaran dan pengelolaan perilaku, memberikan penguatan positif atas pencapaian di sekolah, komunikasi intensif dengan guru, serta menerapkan konsistensi rutinitas harian yang terstruktur di rumah.

"Orang tua harus konsisten dalam membuat rutinitas karena keunggulan anak autis lebih kepada instruksi visualnya. Ketika kita ingin anak autis berubah, misalnya dengan warna, dia harus tahu konsep perpindahannya terlebih dahulu," ungkapnya.

Dalam konteks nilai-nilai keislaman, Prof. Dr. Rasmitadila, M.Pd menegaskan bahwa autisme adalah bagian dari takdir Allah yang tidak mengurangi kemuliaan manusia. Orang tua wajib menerima, mendidik, dan mencintai anak autis dengan sabar. Islam mewajibkan pendidikan sesuai kemampuan, dan anak autis berhak atas perlakuan adil, penghormatan, serta pengasuhan penuh kasih.

"Kesabaran orang tua dan pendidik adalah jalan pahala dan keberkahan," tuturnya.