MANUSIA ITU SIAPA DAN BAGAIMANA?
Mengenal kecerdasan adversity
Oleh Hj. Dr. Rita Rahmawati, Dra.,M.Si pada Kajian Majelis Tasbih
Dalam
Al- Qur`an ada tiga hakekat manusia:
1. Basyar, bahwa manusia adalah makhluk biologis
Basyar, bahwa
manusia adalah makhluk biologis, dijelaskan pada Alquran “Dan di antara
ayat-ayat-Nya adalah ia menciptakan
kamu dari tanah
(turab) kemudian kamu menjadimanusia (basyar) yang bersebar”.” QS. Al
Rum (30):20.
Makna
BasyarKata “بشر” yang terdiri dari
huruf huruf رشب yang arti dasarnya tampaknya sesuatu baik dan indah.
Kata
“basyar” juga berarti menggembirakan, menguliti, memperlihatkan dan
mengurus sesuatu.
Al Raghib
Al Ashfahani mengatakan bahwa “basyar” berarti
al-jild(kulit).
Manusia
disebut basyar karena kulitnya terlihat
jelas, berbeda dengan
binatang, kulitnya tidak
tampak karena tertutup
oleh bulu.
Basyar
yang menunjuk pada makna kulit, anggota tubuh dan fungsi-fungsinya
Sebagai
basyar manusia hanyalah kumpulan dari organ-organ tubuh yang memiliki fungsi
fisiologis semata dan memiliki kaitan dengan tindakan-tindakan yang memerlukan
topangan organ-organ fisik.
2. Al- Insan, bahwa manusia adalah khalifah atau
pemikul amanah, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di
bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa (QS Al An am (6): 165). Makna
al-Insan/al-ins/al-nas (الناس-الانس-الانسان)Kataانسانانس berakar kata انسان) ) segala sesuatu
yang berlawanan dengan cara
liar, tidak biadab,
tidak liar, jinak,
dinamis, harmonis, dan bersahabat. Kata al-ins biasanya berdampingan
dengan kata al-jin
الجن) Manusia “al-ins” makhluk
yang nampak secara fisik ini sedangkan jin makhluk yang tidak nampak
(metafisik) Kata ini lebih menekankan pada aspek psikologis manusia yang
dapat berpikir dan merasakan apa yang dialaminya.
3. Al-Nas, bahwa manusia adalah
makhluk sosial
Manusia dalam aktualnya di muka bumi dengan segala
sepak terjangnya, apakah negatip ataupun positip. Manusia ini adalah manusia
yang berada dalam ruang dan waktu yang aktual. Artinya: "Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (surat Al Hujurat ayat 13)
Siklus
Manusia “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat,
kemudian
Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat
itu lemah (kembali)
dan beruban.
Dia menciptakan
apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha
Kuasa” (QS. Al Rum (30): 54) yakni masa kanak-kanak yang polos, masa dewasa
yang prima dan kembali ke masa tua yang
renta dan selanjutnya
kembali ke asal
penciptaannya tanah.
Manusia
Diberi Masalah Sesuai Kemampuan
"Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka
berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami,
maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286)
Apakah Masalah Itu Ujian Atau
Hukuman?
"Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami
telah beriman," dan mereka tidak diuji?" (QS Al-Ankabut: Ayat 2)
"Ataukah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.
Mereka
ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan),
sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah
datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
dekat." (QS Al-Baqarah Ayat 214)
Artinya:
"Manusia yang paling dashyat ujiannya adalah para Anbiya (Nabi dan Rasul)
kemudian orang-orang serupa lalu orang-orang yang serupa. Seseorang itu diuji
menurut ukuran (dalam suatu riwayat kadar) agamanya. Jika agamanya kuat, maka
cobaannya pun dashyat. Dan jika agamanya lemah, maka ia diuji menurut agamanya.
Maka cobaan akan selalu menimpa seseorang sehingga membiarkannya berjalan di
muka bumi, tanpa tertimpa kesalahan lagi." (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu
Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Hakim). Maka kaitannya dengan ADVERSITY atau
KELENTINGAN yaitu Pantang Menyerah/Bekerja keras, Berdamai dengan situasi,
Bersyukur dan Mengendalikan Diri, Memiliki Daya Tahan yang tinggi, Memiliki
Kemantapan Hati, Selalu Berpikir Positif(Buku 21 Nilai karakter Tauhid)
Imam Ali bin Musa ar-Ridha
as berkata: “Iman berada
satu derajat di atas Islam sedang takwa berada satu derajat di atas iman dan
yakin berada satu derajat di atas takwa dan tidak ada sesuatu pun bisa dibagi
dalam diri manusia yang ukurannya lebih kecil dari yakin”.
REFERENSI
• Aminatuz Zahro,
2017. Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam. Volume 10, Nomor 1, Februari 2017;
p-ISSN: 2085-6539, e-ISSN: 2242-4579; 79-93
• Dudung Abdullah,
2017. Konsep Manusia Dalam Al-quran (Telaah Kritis tentang Makna dan
Eksistensi). Jurnal Al-Daulah Vol.6/ No.2/ Desember 2017
• Darusman D, dkk.
2001. Resiliensi kehutanan, Masyarakat di Indonesia. Yogyakarta: Debut press.
• Grotberg E.
1999. The lnternational Resilience Project. In R. Roth (ed.), Psychologists
Pacing the Challenge ola Global Culture with Human Rights and Mental Health,
Pabst: 239-256.
• Jackson S. 2002.
Reducing Risk and Promoting Resilience in Vulnerable Children. the I.U.C.
Journal of Social Work Theory and Practice.Journal Issue 4.
• Reivich K,
Shatte A. 2002. The resilience factor. New York: Broadway Books
• Siebert A. 2005.
The Resiliency Advantage. Bennett-Koehler Pu.blishers.
• Siti Pupu
Fauziah dkk, Buku 21 Nilai karakter Tauhid