Media Sosial dan Adu Domba, Mengapa Kita Mudah Terpengaruh?
Menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2019, sebagai tahun politik, dan (menurut saya) tahun fitnah dan kebohongan, sebaiknya kita (termasuk saya) belajar sedikit mengenai psikologi massa. Sudah banyak, bahkan tak terhitung teman-teman kita di media sosial yang mengingatkan teman yang lain untuk berpikir sebelum bicara, tabayyun sebelum menulis suatu hal, klarifikasi sebelum share status. Namun status-status ngawur-ngawuran, komen fitnah maupun yang mendekati fitnah, tudingan-tudingan kanan-kiri, ad hominem, share berita bohong, atau berita yang ternyata bohong, maksudnya tadinya haqul yakin beritanya benar, eh ternyata berita bohong, atau pernyataan tidak benar, lalu terlanjur gengsi untuk mengklarifikasi. Tentu saja termasuk dari saya sendiri.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Media Sosial dan Adu Domba, Mengapa Kita Mudah Terpengaruh?
Sumber berita Universitas Djuanda : http://edukasi.kompas.com/read/2018/02/26/07325541/media-sosial-dan-adu-domba-mengapa-kita-mudah-terpengaruh