[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Mem-publish Karya Ilmiah sebagai Ibadah

Disampaikan pada Kajian Muslimah

oleh Dr. Agustina Multi Purnomo, SP.,M.Si

Sebagai insan akademika, meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya ilmiah telah menjadi kewajiban seorang dosen. Itu disebut Tri Dharma perguruan tinggi bersama-sama dengan tugas mengajar dan pengabdian kepada masyarakat. Pada praktiknya, menulis baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun artikel di media massa dapat secara bersama-sama merupakan aktualisasi aktivitas pengabdian sekaligus sarana pengajaran. Menulis dan mepublikasikan tulisan merupakan paket lengkap sarana aktualisasi Tri Dharma perguruan tinggi.

Universitas Djuanda memiliki keistimewaan dibanding dengan perguruan tinggi lain. Tidak hanya Tri Dharma, Unida memiliki Panca Dharma. Selain harus mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian, civitas akademika Unida perlu meningkatkan profesionalitas dan ketauhidan. Nilai-nilai ketauhidan tercermin dari 21 Nilai Karakter Ketauhidan yang harus menjadi karakter civitas akademika Unida. Nilai-nilai yang bermuara pada ketaqwaan kepada Allah SWT.

Publikasi karya ilmiah merupakan bagian dari profesionalitas civitas akademika. Namun, menjadikan karya-karya ilmiah sebagai sarana syiar merupakan perwujudan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebelum menyusun karya ilmiah, sesorang harus belajar, memperdalam ilmu dan kemudian menuliskannya. Menjadi hamba yang berilmu merupakan jalan mendekatkan diri pada Allah dan meraih cinta-Nya.

Keutamaan orang berilmu ini disebutkan dalam Al-Quran surah Fathir ayat 28. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ - ٢٨

Artinya: "Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun."


Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang dimaksud ulama pada ayat tersebut adalah mereka yang mengetahui tentang Allah SWT. "Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah SWT, Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui lagi menyandang semua sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, maka makin bertambah sempurnalah ketakutannya kepada Allah SWT," terangnya. Diriwayatkan dari Nabi SAW beliau bersabda: "Allah SWT memberi wahyu kepada Ibrahim AS: sesungguhnya Aku (Allah Maha) mengetahui, Aku (Allah) mencintai orang-orang yang berilmu." Keutamaan yang digambarkan nabi bagi orang yang suka mencari ilmu dibandingkan dengan yang ahli beribadah adalah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.

وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Nabi saw. bersabda, "Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya." (HR. At-Tirmidzi).

Posisi penting orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah menunjukkan Allah sangat menghargai proses belajar. Seorang dosen harus terus belajar karena selain untuk dirinya sendiri sebagai hamba Allah dia juga harus berbagi kepada mahasiswa dan masyarakat. Di sini letak syiar melalui publikasi menjadi penting. Ilmu yang dikuasai menjadi bermanfaat untuk orang lain. Ilmu yang disebarkan melalui tulisan akan mendorong orang lain untuk mempelajari ilmu tersebut. 

Melakukan publikasi ilmiah akan berhenti sebagai kewajiban seorang dosen tanpa disertai praktik yang mendukung penyebaran syiar agama. Kiranya seorang dosen dalam mempublikasikan karya ilmiah tetap dalam kerangka syiar. Apakah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk mengkerangkai publikasi ilmiah menjadi sarana ibadah?

Pertama, seluruh langkah hidup termasuk publikasi ilmiah harus disertai niat dan praktik men-syiar-kan Islam. Belajar akan mendorong untuk mengetahui dan selanjutnya membangun kesadaran akan luasnya ilmu Allah. Semakin belajar maka seharusnya semakin terbangun kerendahan hati bahwa semakin tinggi ilmu manusia semakin tidak terjangkau ilmu Allah. Manusia hanya dapat memperdalam satu sisi ilmu kehidupan. Dapat diamati, bagaimana seorang professor hanya akan dikukuhkan sebagai guru besar dalam satu bagian ilmu yang sangat spesifik. Jika gelar tertinggi akademik pun hanya dapat mendalami satu bagian kecil keilmuan, apalah arti dosen yang baru belajar.

Kedua, keberpihakan kepada Islam harus menjadi semangat dan tertera dalam publikasi. Tentunya ini tidak terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan. Bagi ilmuwan sosial, berpihak pada kaum yang tidak diuntungkan untuk mengkontribusikan keilmuannya dalam mendorong kesejahteraan ummat dapat menjadi pilihan. Pun mendorong keadilan sosial dalam pembangunan guna memberikan counter power pada pemerintah dan pengusaha yang tidak adil dapat menjadi sarana perjuangan syiar agama. Kesungguhan islam dalam membangun keberpihakan kepada kaum dhuafa (lemah fisik) dan mustadhafin (terlemahklan oleh struktur), bisa dilihat dari beberapa ayat di dalam Al-Quran. Hal tersebut bisa dilihat, salah satunya di dalam QS Al-Mudatsir ayat 38-44 :

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka saling menanyakan, tentang orang-orang yang berdosa “apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqor? Mereka menjawab, dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak juga memberikan makanan orang miskin.” (QS Al-Mudatsir 38-44).


Ketiga, memiliki sikap untuk menjadi produktif dengan terus-menerus menulis serta mempublikasikan karya ilmiah. Keterlekatan antara publikasi karya ilmiah dengan kewajiban seorang dosen janganlah menjadi pembatas semata pada pemenuhan kewajiban. Semangat syiar dan menjadikan publikasi sebagai ibadah menjadikan menulis dan publikasi tidak hanya menjadi kewajiban dosen namun kewajiban sebagai seorang muslim. Ini akan menjadikan seorang dosen produktif dengan terus menerus menulis.

Pada akhirnya, civitas akademika Unida tentunya memahami semangat Unida untuk senantiasa meraih dunia dan menggenggam akhirat. Publikasi ilmiah memberikan jalan keduanya. Tidak hanya memposisikan diri di dalam Sinta atau Scopus, namun memposisikan diri sebagai muslim yang mendorong kejayaan Islam dalam dunia ilmiah.