Mem-publish Karya Ilmiah sebagai Ibadah
Disampaikan pada Kajian Muslimah
oleh Dr. Agustina Multi Purnomo, SP.,M.Si
Sebagai
insan akademika, meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya ilmiah telah menjadi
kewajiban seorang dosen. Itu disebut Tri Dharma perguruan tinggi bersama-sama
dengan tugas mengajar dan pengabdian kepada masyarakat. Pada praktiknya,
menulis baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun artikel di media massa dapat
secara bersama-sama merupakan aktualisasi aktivitas pengabdian sekaligus sarana
pengajaran. Menulis dan mepublikasikan tulisan merupakan paket lengkap sarana
aktualisasi Tri Dharma perguruan tinggi.
Universitas
Djuanda memiliki keistimewaan dibanding dengan perguruan tinggi lain. Tidak
hanya Tri Dharma, Unida memiliki Panca Dharma. Selain harus mengajar, meneliti
dan melakukan pengabdian, civitas akademika Unida perlu meningkatkan
profesionalitas dan ketauhidan. Nilai-nilai ketauhidan tercermin dari 21 Nilai
Karakter Ketauhidan yang harus menjadi karakter civitas akademika Unida.
Nilai-nilai yang bermuara pada ketaqwaan kepada Allah SWT.
Publikasi
karya ilmiah merupakan bagian dari profesionalitas civitas akademika. Namun,
menjadikan karya-karya ilmiah sebagai sarana syiar merupakan perwujudan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sebelum
menyusun karya ilmiah, sesorang harus belajar, memperdalam ilmu dan kemudian menuliskannya.
Menjadi hamba yang berilmu merupakan jalan mendekatkan diri pada Allah dan
meraih cinta-Nya.
Keutamaan orang berilmu ini disebutkan dalam
Al-Quran surah Fathir ayat 28. Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ - ٢٨
Artinya: "Dan demikian (pula) di antara
manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha
Pengampun."
Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang
dimaksud ulama pada ayat tersebut adalah mereka yang mengetahui tentang Allah
SWT. "Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang
Allah SWT, Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui lagi menyandang semua
sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, maka makin bertambah
sempurnalah ketakutannya kepada Allah SWT," terangnya. Diriwayatkan dari
Nabi SAW beliau bersabda: "Allah SWT memberi wahyu kepada Ibrahim AS:
sesungguhnya Aku (Allah Maha) mengetahui, Aku (Allah) mencintai orang-orang
yang berilmu." Keutamaan yang digambarkan nabi bagi orang yang suka
mencari ilmu dibandingkan dengan yang ahli beribadah adalah seperti keutamaan
bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.
وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ
Nabi saw. bersabda, "Keutamaan orang yang
berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti
utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya." (HR.
At-Tirmidzi).
Posisi penting orang yang berilmu dibanding
dengan ahli ibadah menunjukkan Allah sangat menghargai proses belajar. Seorang
dosen harus terus belajar karena selain untuk dirinya sendiri sebagai hamba
Allah dia juga harus berbagi kepada mahasiswa dan masyarakat. Di sini letak syiar melalui publikasi menjadi penting.
Ilmu yang dikuasai menjadi bermanfaat untuk orang lain. Ilmu yang disebarkan
melalui tulisan akan mendorong orang lain untuk mempelajari ilmu tersebut.
Melakukan
publikasi ilmiah akan berhenti sebagai kewajiban seorang dosen tanpa disertai
praktik yang mendukung penyebaran syiar
agama. Kiranya seorang dosen dalam mempublikasikan karya ilmiah tetap dalam
kerangka syiar. Apakah
langkah-langkah yang dapat digunakan untuk mengkerangkai publikasi ilmiah
menjadi sarana ibadah?
Pertama,
seluruh langkah hidup termasuk publikasi ilmiah harus disertai niat dan praktik
men-syiar-kan Islam. Belajar akan mendorong untuk mengetahui dan selanjutnya
membangun kesadaran akan luasnya ilmu Allah. Semakin belajar maka seharusnya
semakin terbangun kerendahan hati bahwa semakin tinggi ilmu manusia semakin
tidak terjangkau ilmu Allah. Manusia hanya dapat memperdalam satu sisi ilmu
kehidupan. Dapat diamati, bagaimana seorang professor hanya akan dikukuhkan
sebagai guru besar dalam satu bagian ilmu yang sangat spesifik. Jika gelar
tertinggi akademik pun hanya dapat mendalami satu bagian kecil keilmuan, apalah
arti dosen yang baru belajar.
Kedua,
keberpihakan kepada Islam harus menjadi semangat dan tertera dalam publikasi.
Tentunya ini tidak terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan. Bagi ilmuwan sosial,
berpihak pada kaum yang tidak diuntungkan untuk mengkontribusikan keilmuannya
dalam mendorong kesejahteraan ummat dapat menjadi pilihan. Pun mendorong
keadilan sosial dalam pembangunan guna memberikan counter power pada pemerintah dan pengusaha yang tidak adil dapat
menjadi sarana perjuangan syiar agama. Kesungguhan islam dalam
membangun keberpihakan kepada kaum dhuafa (lemah fisik)
dan mustadhafin (terlemahklan oleh struktur), bisa dilihat
dari beberapa ayat di dalam Al-Quran. Hal tersebut bisa dilihat, salah satunya
di dalam QS Al-Mudatsir ayat 38-44 :
Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka saling menanyakan, tentang orang-orang yang berdosa “apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqor? Mereka menjawab, dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat dan kami tidak juga memberikan makanan orang miskin.” (QS Al-Mudatsir 38-44).
Ketiga, memiliki sikap untuk menjadi produktif
dengan terus-menerus menulis serta mempublikasikan karya ilmiah. Keterlekatan
antara publikasi karya ilmiah dengan kewajiban seorang dosen janganlah menjadi
pembatas semata pada pemenuhan kewajiban. Semangat syiar dan menjadikan publikasi sebagai ibadah menjadikan menulis
dan publikasi tidak hanya menjadi kewajiban dosen namun kewajiban sebagai
seorang muslim. Ini akan menjadikan seorang dosen produktif dengan terus
menerus menulis.
Pada akhirnya, civitas akademika Unida tentunya
memahami semangat Unida untuk senantiasa meraih dunia dan menggenggam akhirat.
Publikasi ilmiah memberikan jalan keduanya. Tidak hanya memposisikan diri di
dalam Sinta atau Scopus, namun memposisikan diri sebagai muslim yang mendorong
kejayaan Islam dalam dunia ilmiah.