Memahami Eksistensi Tuhan Melalui Pendekatan Teori Peluang
MAJELIS TASBIH 17-06-2022: AKSIOMATIKA ILMIAH ILAHIAH Oleh Dr. Ir. Setyono, M.Si
Aksioma Ilmiah Ilahiah
Terdapat perbedaan antara ceramah fiqih dengan aksioma. Menurut Dr. Ir. Setyono, M.Si, penceramah fiqih disebut ustadz ori sedangkan penceramah aksioma disebutnya sebagai utadz KW. Tentunya ini sebuah kiasan, untuk menggambarkan materi, sumber, sifat dan outcome ceramah. Ceramah fiqih menyasar audiens muslim untuk menjadikan muslim bertauhid menjadi taat, sedangkan ceramah aksioma menyasar audiens umum untuk menjadikan orang awam menjadi bertauhid. Materi pada ceramah fiqih wajib ada tuntunan, jika tidak merujuk tuntunan maka dapat berarti bid?ah. Materi pada ceramah aksioma dikiaskan sebagai ?baru saja bosan, apa lagi mengulang,? yang berarti merujuk pada beragam hal yang harus selalu menarik. Sumber ceramah fiqih adalah guru dan kitab, sedangkan sumber ceramah aksioma adalah alam semesta yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan. Sifat ceramah fiqih adalah tidak boleh salah dan tidak boleh bohong, sedangkan sifat ceramah aksioma adalah boleh salah tetapi tidak boleh bohong. Jika audiens bingung di saat mendapatkan ceramah fiqih maka ustadz akan berusaha menjelaskan, namun dalam ceramah aksioma ada kemungkinan audiens dan ustadz berpikir bersama untuk kebingungan berikutnya.
Masalah Terkait Ketauhidan
Menggali dari pertanyaan dan pernyataan yang pernah ditemui, terdapat empat masalah terkait ketauhidan. Pertama Anonim. Pernyataan teman kuliah, ?Tuhan itu tidak ada, kalaupun saya berbuat baik karena seharusnya manusia itu berbuat baik.? Kedua, agama adalah buatan manusia. Ini diperoleh dari pernyataan seorang teman SMP/SMA. Ketiga, dapatkah Allah menciptakan Allah? yang merupakan pertanyaan seorang siswa SD Amaliah. Keempat, Apa perbedaan Allah, Ilaah, dan Rabb?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita mengkaji teori peluang bersyarat. Jika A = kejadian acak (kebetulan) ? p(A)=p(A?)=0.5. B = kejadian acak setelah diketahui terjadi A ? p(B|A)=P(B?|A)=0.5 ? p(A?B)=0.5x0.5=0.25. Jika kemudian juga diikuti dengan kejadian C yang juga kebetulan, maka peluang kejadian A yang diikuti B, kemudian diikuti C adalah 0.5x0.5x0.5=0.125. Kalau ada 10 kejadian berurutan yang semuanya kebetulan, maka peluangnya 0.5^10= 0,0009765625.

Sejak Nabi Adam turun ke bumi hingga kita menghadiri Majelis Tasbih terdapat tak terhingga kejadian. Jika semuanya bersifat kebetulan maka peluangnya sebesar 0.5?=0. Karena peluang kebetulan sama dengan nol, maka peluang tidak kebetulan (ada yang mengatur) sama dengan satu.
Yang mengatur tadi tentu punya sifat antara lain: ada, dahulu, berkuasa, dan tidak mungkin tidak ada, tidak mungkin lebih belakangan dibandingkan yang diatur, dan tidak mungkin lebih lemah dari yang diatur. Itulah yang disebut Tuhan. Jadi tidak mungkin Tuhan itu tidak ada. Permasalahan ketauhidan pertama terjawab.
Siapa Tuhan Itu?
Tuhan dalam pewayangan adalah Sang Hyang Wenang. Umat Nabi Ibrahim menganggap Tuhan itu berhala. Umat Hindu menganggap Tuhan itu Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Umat Budha menganggap Tuhan itu Sidharta Gautama, dan bagi umat Kristen Tuhan itu Yesus. Karena tiap agama beda versi mengenai siapa Tuhan, pantas saja ada yang berpendapat bahwa agama itu bikinan manusia. Dengan akalnya manusia tahu bahwa Tuhan itu ada, tetapi dengan akalnya tidak cukup untuk mengetahui siapa Tuhan itu.
Melihat umatnya menuhankan berhala, sedangkan ayahnya pengrajin berhala, Nabi Ibrahim yakin berhala itu bukan Tuhan. Tetapi siapa? Dalam QS Al An?am: 76-78 Nabi Ibrahim pernah berpikir keras untuk mengetahui siapa Tuhan itu. Proses Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan tergambar dalam proses ini. Ayat 76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Ayat 77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Ayat 78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Kemudian Tuhan memperkenalkan diri. QS Thaahaa: 14.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Sifat wajib Allah adalah Wujud (Ada), Qidam (Awal/Terdahulu), Baqa? (Kekal), Mukhalafatu Lil Hawaditsi (Berbeda Dengan Makhluk Ciptaannya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Wahdaniyah (Esa/Tunggal), Qudrat (Berkuasa), Iradat (Berkehendak), Ilmun (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama? (Mendengar), Bashar (Melihat), Qalam (Berfirman), Qadiran (Yang Berkuasa), Muridan (Yang Menghendaki), Aliman (Yang Mengetahui), Hayyan (Yang Hidup), Sami?an (Yang Mendengar), Bashiran (Melihat), dan Mutakalliman (Yang Berfirman/Berkata-Kata). Sedangkan Sifat mustahil Allah adalah Adam (Tiada), Huduts (Ada yang Mendahului), Fana (Musnah), Mumatsalatu Lil Hawaditsi (Ada yang Menyamai), Ta?adud (Berbilang), Ajzun (Lemah), Ihtiyaju Lighairihi (Memerlukan yang Lain), Karahah (Terpaksa), Jahlun (Bodoh), Mautun (Mati), Shamamun (Tuli), Ama (Buta), Bakamun (Bisu), Kaunuhu ?ajiyan (Zat yang Lemah), Kaunuhu karihan: (Zat yang Terpaksa), Kaunuhu jahilan (Zat yang Bodoh), Mayyitan (Zat Mati), Kaunuhu ashamma (Zat yang Tidak Bisa Mendengar), Kaunuhu ?ama (Zat yang Tidak Bisa Melihat), dan Kaunuhu abkama (Zat yang Tidak Bisa Berbicara).
Tuhan Membuat Tuhan?
Jika pertanyaan ini dijawab tak mampu, maka akan muncul pertanyaan berikutnya, masak Tuhan tidak kuasa? Jika dijawab mampu, maka akan muncul pertanyaan susulan, masak Tuhan dapat dibikin?
Di sini bukan masalah Allah mampu atau tidak mampu membuat Tuhan, melainkan ketidakmampuan Tuhan buatan-Nya untuk memenuhi uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) menjadi Tuhan. Syarat yang tidak dipenuhi antara lain Qidam (Dahulu) dan Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri).
Rabb, Ilaah, Allah
Bahasan dari sisi bahasa dipersilakan para ustadz yang menjelaskan, di sini dibahas dari sisi lain. Rabb dan Ilaah adalah jabatan, sedangkan Allah adalah pemegang jabatan Rabb dan Ilaah. Rabb (Rabbul Alamin) adalah jabatan dengan job description menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan memelihara semesta alam. Jabatan Rabb tidak tergantung pengakuan dan ketundukan manusia. Manusia mau taat atau membangkang, Allah tetap Rabbul Alamin. Jabatan Rabb tidak berkonsekuensi pada pemberian tugas kepada manusia, melainkan justru membekali manusia dengan sifat dan sikap yang mendukung aktivitasnya dalam meng-Ilaah-kan Allah.
Sebagai ilustrasi, ketika seseorang sakit, kemudian ia mengatakan ?Mengapa ini terjadi pada saya? Saya sudah berusaha hidup sehat kenapa masih sakit?? berarti ia lupa bahwa Allah adalah Rabb, bahwa tidak ada kejadian di muka bumi di luar kendali Allah. Ketika seseorang ditimpa masalah, kemudian ia berputus asa, berarti ia lupa bahwa Allah adalah Rabb, yang menjadi tempat meminta. Ketika malam sulit tidur manusia kesal berarti ia lupa bahwa Allah adalah Rabb, yang menghidupkan dan yang mematikan. Bukankah sebelum tidur sudah berkata (berdo?a) bahwa dengan nama-Mu saya hidup dan dengan nama-Mu saya mati? Jangankan dibuat sulit tidur, dimatikan pun seharusnya ikhlas.
Ilaah berarti sesuatu yang disembah, sesuatu yang yang menjadi orientasi segala aktivitas, sesuatu yang aturannya dijadikan dasar beraktivitas. Ilaah merupakan jabatan tanpa job description, tetapi berkonsekuansi dengan pemberian tugas kepada manusia untuk meng-Ilaah-kan Allah. Jabatan Rabb tergantung pada ketundukan manusia. Ketika manusia tidak mentaati Allah berarti manusia tersebut tidak meng-Ilaah-kan Allah Allah. Allah tetap Rabbul Alamin, tetapi tidak di-Ilaah-kan oleh manusia tersebut. Saat manusia tidak mentaati Allah, maka posisi manusia tidak jauh berbeda dengan Iblis. Iblis divonis sebagai menjadi makhluk yang pasti masuk neraka bukan karena tidak mengakui bahwa Allah adalah Rabb, melainkan karena tidak meng-Ilaah-kan Allah, menolak sujud kepada Adam.
Simpulan
Manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan adalah atheis sedangkan manusia yang tidak mengakui Allah sebagai Rabb adalah kafir. Manusia yang mengakui Allah sebagai Rabb tetapi tidak meng-Ilaah-kan Allah justru meng-Ilaah-kan yang lain adalah musyrik. Kalaulah tidak meng-Ilaah-kan yang lain pada prinsipnya ia telah meng-Ilaah-kan dirinya sendiri.
Untuk menjadi muslim seorang manusia harus mengakui Allah sebagai Rabb dan menjadikan Allah sebagai Ilaah. Keimanan kepada Allah sebagai Rabb akan melahirkan sifat sabar, syukur, dan ikhlas. Keimanan kepada Allah sebagai Ilaah akan melahirkan sifat taat.