[email protected] 0251-8240773
Informasi

Memahami Nilai dan Merefleksi Narasi Lirik Hymne Universitas Djuanda

Oleh:

Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda/Dosen Program Studi Akuakultur

 

 

Tahun 2022 telah berakhir dan rangkaian peristiwa diukir dan memberikan jejak mendalam bagi setiap unsur insan Universitas Djuanda dan perguruan amaliyah.  Pada kesempatan ini, memasuki awal tahun 2023, penulis memandang perlu untuk membuat sebuah refleksi dalam rangka memahami, menghayati, menginternalisasi, mengkristalisasi dan mengamalkan narasi lirik lagu pujian yang selama ini selalu dikumandangkan pada acara-acara besar Universitas Djuanda, yaitu Hymne Universitas Djuanda.  Penulis akan memulai pembahasan ini dengan melakukan ulasan kilas balik dari apa yang telah, sedang dan akan dilakukan.

 

Refleksi Akhir Tahun 2022

 

Refleksi akhir tahun 2022 yang dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Desember 2022 menunjukkan betapa pencapaian kinerja tahun sebelumnya terrefleksi dan terevaluasi menjadi pekerjaan rumah yang harus dijadikan referensi sehingga dapat teraktualisasi pada tahun 2023 dan yang akan datang.  Pencapaian kinerja tahun 2022 dapat dipotret dengan melihat status dan posisi unit kerja pada tahun 2021, sehingga dapat dievaluasi dan dipilah kinerja mana yang telah tercapai, yang belum dan yang tidak tercapai pada tahun 2022.  Pergantian tahun 2023 ini diharapkan menjadi momentum terbaik untuk dapat memotret bagaimana posisi dan status unit kerja berdasarkan hasil refleksi akhir tahun 2022, sehingga arah, sasaran dan tujuan perjuangan tahun ini dapat ditarget dengan baik, apa yang akan dicapai dapat dipetakan, apa yang harus dilakukan dapat diprogramkan dan kontribusi apa yang dapat diberikan dan/atau dikerjakan dapat disiapkan.  Dan, tentu saja semua itu dapat ditentukan dengan kembali berkaca pada hasil refleksi akhir tahun 2022 dan target rencana strategis pada tahun 2023 yang ingin dicapai. 

 

Refleksi akhir tahun 2022, memotivasi penulis untuk memulai dengan melihat gambaran lebih besar pada apa yang telah tersurat pada sebuah lirik dan sering dikumandangkan pada setiap acara resmi setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (yang juga sarat akan nilai dan norma kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia), yaitu Hymne Universitas Djuanda.  Hymne Universitas Djuanda mengandung filosofi kuat akan pembangunan sumberdaya manusia yang bertauhid dan dibangun dengan pondasi ketauhidan pada sistem pendidikan dan edukasi ilmiah sebuah perguruan tinggi yang menyematkan label kata ”Kampus Bertauhid” pada logo resmi universitasnya. 

 

Nama yang dilekatkan pada Universitas Djuanda adalah nama besar seorang pejuang berdarah Sunda dan merupakan pahlawan ”Negara Kepulauan” yang juga sebuah deklarasi global dilabeli dan/atau diabadikan atas dasar namanya ”Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja”, yaitu Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Deklarasi Djuanda tahun 1957 ini kemudian menjadi tonggak perjuangan Indonesia untuk melobi dan mensahkan narasi Negara Kepulauan agar dapat diakui dunia, hingga pada akhirnya perjuangan itupun dapat dicapai pada tahun 1982 dengan lahirlah kesepakatan global berbentuk konvensi hukum laut Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations Convention Law of the Sea, UNCLOS).  Tanggal 13 Desember sendiri kemudian ditetapkan sebagai”Hari Nusantara” berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 pada tanggal 11 Desember 2001, yang menyatakan bahwa tanggal 13 Desember ditetapkan sebagai Hari Nusantara.

 

Universitas Djuanda dan Hymne Unida

 

Pendirian Universitas Djuanda sendiri dilakukan oleh sebuah yayasan yang didirikan atas prakarsa Letnan Jenderal TNI Purn. H. Alamsjah Ratu Perwiranegara (alm) dan dibantu oleh karib kerabatnya sebagai wujud tanggung jawab kepada kemajuan Umat Islam dalam rangka mendukung dan berpartisipasi aktif untuk mewujudkan tujuan NKRI mencerdaskan kehidupan bangsa, yaitu Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Indonesia pada tanggal 3 Juni 1983 di atas tanah wakaf di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  Dan, berdasarkan Keputusan Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Indonesia Nomor: 083/PSPI/III/87, pada tanggal 21 Maret 1987 didirikanlah Universitas Djuanda.  Universitas Djuanda benar-benar lahir dua tahun setelah Indonesia meratifikasi UNCLOS 1982 dengan Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 yang kemudian prinsip hukum internasional tentang negara kepulauan ini juga ditegaskan kembali dalam Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. 

 

Sebagai sebuah perguruan tinggi, Universitas Djuanda memiliki lagu pujian (hymne) bernuansa religi yang ditujukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan dapat menggambarkan nilai-nilai dasar pembentukan pondasi kelembagaan.  Hymne Universitas Djuanda berisikan syair yang dikarang oleh seorang pujangga komtemporer, Taufik Ismail, dan aransemen lagunya dibuat oleh Syam Bimbo.  Hymne Unida benar-benar mengandung nilai-nilai religi Islam. 

 

Berikut ini adalah bait-bait narasi lagu pujian (hymne) yang terdapat pada lirik Hymne Universitas Djuanda:

 

Kampus kami tercinta

Universitas Djuanda

Mencerdaskan manusia Indonesia

 

Kampus kami tercinta

Universitas Djuanda

Mentaqwakan manusia Indonesia

 

Menuntut ilmu,

di dalam ibadah

Mengemban amanah,

jadi Khalifah

 

Rabbana.........

Rabbana.........

Anugerahi kami

 

Ilmu yang padat

Amal kreatif

Luas pandangan

Akrab lingkungan

 

Di dalam ridho Mu….. selalu

Di dalam ridho Mu….. selalu

 

Refleksi Narasi Lirik Hymne Universitas Djuanda

 

Penulis mulai memahami isi kandungan Hymne Universitas Djuanda adalah setelah diminta untuk menjabat sebagai Pembina Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Djuanda pada tahun 2018, kendati mulai bergabung menjadi dosen perikanan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda pada awal tahun 2016.  Hymne Unida sendiri mulai penulis dengarkan saat pertama kali ikut terlibat aktif dalam kegiatan Universitas Djuanda pada akhir tahun 2017, yaitu saat pertama kali menjadi Ketua Panitia Seminar Nasional dalam rangka Memperingati Hari Nusantara.  Dan saat itu, penulis tergetar hati ketika memasuki lirik berupa pemanggilan nama Allah (Rabbana... Rabbana...) dan kedua tanggan penulis refleks terangkat sebagaimana umumnya seseorang berdoa kepada Rabb nya.  Sungguh, doa pujian tersebut telah menggugah dan menambatkan cinta sejati institusi pada Universitas Djuanda, terlebih gurunda mursyid Syaikhona Abina KH. Drs. Muhammad Thamrin Padmawidjaja Al Banjari (alm) telah berwasiat agar penulis jangan pernah meninggalkan Universitas Djuanda sebagaimana Abina membanggakan dan menyayangi Universitas Djuanda sebagai satu-satunya perguruan tinggi terbaik yang berani dengan tegas dan nyata memproklamirkan diri sebagai Kampus Bertauhid (dapat dilihat pada logo Universitas Djuanda). 

 

Setelah kejadian itu, penulis mulai mencoba untuk menghafal dan mempelajari isi lirik Hymne Universitas Djuanda.  Pada prosesnya, setelah terus terlibat dalam berbagai kegiatan Universitas Djuanda, terutama setelah menjadi Pembina Menwa Unida, akhirnya penulis mulai memahami isi kandungan yang terdapat pada lirik Hymne Unida.  Taufik Ismail, kendati penulis tidak pernah bertemu dengannya, seolah memberikan pesan bahwa Universitas Djuanda memang layak memproklamirkan diri menjadi Kampus Bertauhid dan harus mempunyai nilai-nilai tauhid yang senantiasa diingatkan dan diperdengarkan pada setiap acara-acara besar Unida.  Setiap substansi lirik Hymne harus menggambarkan kedekatan dan cita-cita kehidupan Kampus Bertauhid dan hal ini memang benar-benar tercermin dalam lirik lagu pujian/religi (hymne) Universitas Djuanda.

 

Dimulai dengan bait pertama Hymne Unida, yang diawali dengan kalimat ”kampus kami tercinta Universitas Djuanda” dan dilanjutkan dengan cita-cita institusi untuk ”mencerdaskan manusia” sebagai manifestasi kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dengan memenuhi salah satu rukun ibadah yaitu menuntut ilmu agar implementasi dan pengamalan ibadah yang dilakukan dapat menjadi rahmatan lil aalamiin (tidak merusak dan tidak sia-sia), sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu tanpa amal akan sia-sia, sedangkan amal tanpa ilmu akan membawa kerusakan.

 

Bait kedua Hymne Unida, kembali diawali dengan kalimat ”kampus kami tercinta Universitas Djuanda” lalu dilanjutkan dengan cita-cita institusi yang melekat dan terintegrasi berupa ”mentaqwakan manusia" sebagai manifestasi kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menjadi orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. 

 

Bait pertama dan kedua tersebut tentu saja memberikan sinyalemen bahwa Universitas Djuanda hadir untuk menjadi jembatan dan/atau wadah institusi dalam rangka berproses bersama mencerdaskan dan mentaqwakan manusia.  Dan itu terangkum dalam bait ketiga Hymne Unida yang mengandung substansi bahwa kedua proses tersebut (menjadi cerdas dan bertaqwa) tentu saja sesuai dengan tugas utama dari manusia yang diamanahkan Allah SWT di dunia ini, yaitu beribadah dan menjadi Khalifah.  Artinya bahwa, menuntut ilmu harus dibarengi dengan niat untuk beribadah, sehingga para penuntut ilmu tersebut termasuk ke dalam golongan orang-orang fii sabilillah dan segenap proses dalam rangka menuntut ilmu yang dilakukan akan menghantarkan kita menjadi orang yang sedang berjihad di jalan Allah dalam rangka menuntut ilmu. 

 

Selain itu, untuk menjadi khalifah yang baik harus memiliki bekal ilmu dan referensi terbaik agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.  Bekal ilmu yang diperoleh pada prosesnya akan menjadi bekal untuk menjadi Khalifah di muka bumi, sehingga ia tidak akan menimbulkan kerusakan pada proses pengamalannya, karena ia memegang dan mengamalkan ilmu yang rahmatan lil aalamiin.  Ilmu yang rahmatan lil aalamiin ini tentu saja sesuai dengan sebagaimana diajarkan oleh manusia mulia, kekasih sejati Allah SWT, yaitu baginda rasulallah Muhammad SAW sebagai suri tauladan sempurna yang selalu berkata benar tidak pernah dusta, selalu bertanggungjawab tidak pernah khianat, selalu menyampaikan kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan, serta pribadi cerdas dan menjadi referensi sejati kebenaran tiada cela.  Beliau telah membawa cahaya (hikmah, pengetahuan, derajat) untuk mengeluarkan dan membawa manusia dari kegelapan (kebodohan, dzalim, kehinaan) hingga akhir dunia dengan terus berpegang pada Al Qur’an dan As Sunnah, dimana jika manusia berpegang pada kedua wasiat rasulallah SAW tersebut, maka hidup, kehidupan dan penghidupannya tidak akan pernah tersesat.

 

Bait keempat Hymne Unida mencerminkan bagaimana manusia hanyalah lemah yang mengharuskan dirinya untuk hanya berserah diri (menyembah) serta bergantung dan meminta pertolongan kepada Allah SWT melalui doa yang dipanjatkan dengan selalu menyebut nama Nya, dan nama yang paling disukai Allah SWT adalah ketika hamba Nya memanggil Nya dengan sebutan ”Rabbana...”.  Doa adalah senjata orang beriman, karena dengan doa sesungguhnya ia mempunyai keyakinan pasti bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta seluruh isinya tidak akan luput dari kuasa, rahmat, kasih, sayang, karunia, anugerah serta izin Allah SWT.  Yakin bahwa Allah SWT pasti mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh hamba Nya merupakan manifestasi dari bentuk berserah diri sejati kepada Allah SWT.  Tiada daya upaya yang dapat dilakukan manusia dan seorang hamba selain atas izin dari Yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Besar, Maha Berkuasa lagi Maha Berkehendak, Allah SWT, yang pasti selalu menganugerahi hamba-hamba Nya dengan berbagai macam rahmat yang dibutuhkan dan dicukupkan kepadanya.

 

Pada bagian ini, penulis merasakan bahwa dengan mengangkat tangan sebagai tanda doa mulai dari kalimat lirik Hymne Unida ”Rabbana... Rabbana...” hingga akhir lirik ”di dalam ridho Mu... selalu”, maka kekhusuan memahami nilai ini dapat diresapi.  Nilai ini penulis rasakan dan lakukan selama kurun waktu akhir tahun 2017 hingga pertengahan tahun 2022, tepatnya pada tanggal 31 Mei 2022 pada saat Rapat Majelis Tinggi Universitas Diperluas.  Seperti biasa, pada saat lagu Hymne Unida dinyanyikan memasuki kalimat lirik berupa doa ”Rabbana...”, kedua tangan terangkat hingga akhir lagu dinyanyikan.  Setelah selesai, ibu Direktur Eksekutif YPSPIAI, Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd., M.Pd., memberikan komentar terhadap apa yang penulis lakukan dan selanjutnya Chancellor Universitas Djuanda, Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH., kemudian menginstruksikan agar pada saat lagu Hymne Unida dinyanyikan dan memasuki kalimat doa ”Rabbana...”, maka secara oral dihimbau agar setiap insan Unida meletakkan tangan kanan di dada sebelah kiri sebagaimana umumnya dilakukan sebagai salam Pancadarma Universitas Djuanda.  Kendati hal tersebut disampaikan secara oral, namun penulis merasakan bahwa dengan menyimpan tangan kanan di dada sebelah kiri dapat merefleksikan bahwa doa tersebut meresapi dan menggetar dada sebelah kiri hingga detak jantung seperti semakin berdebar dan darah mengalir lebih deras pada setiap pembuluh nadi di dalam tubuh.  Kebiasaan ini kemudian penulis mulai dibiasakan dan disebarluaskan kepada minimal mahasiswa Fakultas Pertanian pada setiap kesempatan, baik di kelas maupun pada ruang acara-acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, disamping tentunya tetap penulis lakukan pada setiap acara-acara formal yang diselenggarakan oleh Insan Universitas Djuanda saat menyanyikan Hymne Universitas Djuanda.

 

Bait kelima Hymne Unida ini berisi tentang substansi doa yang dipanjatkan oleh para penuntut ilmu dan penyelenggara institusi ilmiah yang menjadi insan Universitas Djuanda (dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni dan seluruh keluarga besar).  Insan Unida berdoa agar setiap proses pendidikan, pembelajaran dan penelitian yang dilakukan, pengabdian kepada masyarakat yang diberikan, profesionalitas yang dijunjung dan dikejewantahkan serta ketauhidan yang menjadi karakter insan Unida sebagaimana dikenal sebagai Pancadarma Universitas Djuanda, dapat diinternalisasi, dikristalitasi dan diaktualisasi berdasarkan empat tujuan dari fungsi pancadarma Universitas Djuanda tersebut, yaitu: (i) memperoleh ”ilmu yang padat”, (ii) mengaktualisasikan ilmu yang padat dengan ”amal kreatif” yang berguna dan dibutuhkan sesama makhluk, (iii) mengamalkan ilmu dengan ”luas pandangan” agar dapat disebarluaskan pada dunia dan menjadi manfaat bagi semua, serta (iv) memberdayakan ilmu yang padat, amal kreatif, dan luasnya pandangan  dengan tetap mengedepankan keberlanjutan ekologi, sosial dan ekonomi (akrab lingkungan) agar terus dapat dinikmati oleh sesama makhluk Allah SWT di muka bumi.

 

Bait terakhir, yaitu bait keenam Hymne Unida, juga mengandung doa pamungkas yang merupakan tujuan utama dari setiap ibadah dan yang diamanahkan kepada insan Unida dengan satu ukuran hakiki, yaitu mendapatkan ridho Allah SWT.  Karena hanya dengan ridho Allah SWT, maka datangnya rahmat pamungkas di akhirat kelak adalah surga Nya Allah SWT untuk bertemu dan bercengkrama dalam kebahagiaan sejati tiada tara dengan kekasih mulia baginda khalifah sejati, rasulallah Muhammad SAW.

 

Pada akhirnya, penulis mengajukan sebuah kerangka pemikiran nilai Hymne Unida dalam sebuah diagram alir iteratif hubungan antara sasaran/tujuan institusi (target/objective), proses pencapaian (process), hasil yang diharapkan (outcome), tujuan paling akhir (ultimate goal). 


Universitas Djuanda sebagai sebuah institusi perguruan tinggi didesain menjadi wadah dan/atau jembatan publik dalam rangka upaya mencapai target/sasaran/tujuan kelembagaan untuk secara kolaboratif dan partisipatif mencerdaskan dan mentaqwakan manusia.  Target/sasaran/tujuan kelembagaan tersebut memerlukan proses pencapaian, dimana dalam prosesnya dilakukan dengan mengedepankan fungsi Pancadarma Universitas Djuanda (pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, profesionalitas dan ketauhidan) melalui berbagai proses tematik bertujuan khusus sebagaimana disebutkan dalam refleksi bait kelima, yaitu: (i) pembelajaran ilmu yang padat, (ii) pembelajaran dan aktualisasi amal kreatif, (iii) pembinaan dan pemahaman keluasan pandangan, dan (iv) pemahaman dan penerapan akrab lingkungan.

 

Tujuan dan proses tersebut diharapkan dapat menghasilkan individu yang dapat mengemban amanah sebagai khalifah yang bertauhid yang selalu menempatkan setiap aktivitas, baik pada saat sebagai mahasiswa maupun setelah menjadi alumni, dengan niat ibadah kepada Allah SWT sehingga bernilai ”fii sabilillah”.  Dan hal ini dapat dilakukan dengan mengenal, memahami, menghayati, menginternalisasi dan mengkristalisasi 21 karakter tauhid agar bertumbuhkembang dan diaktualisasi menjadi “rahmatan lilalamiin”.  Pada akhirnya, semua yang dilakukan harus dikarakterisasi untuk mendapatkan ridho Allah SWT dan husnul khatimah di akhir hayat setiap individu Insan Universitas Djuanda.

 

Penutup

 

Refleksi narasi lirik Hymne Universitas Djuanda ini merupakan iteratif pemahaman dan penghayatan pribadi penulis yang belum tentu akan sama atau mungkin jauh dari kata sepakat dari pemikiran semua manusia, wabil khusus insan Unida.  Keterbatasan penulis tentu menjadi faktor kuncinya, sehingga perlu disinkronisasi dan/atau dikomparasi dengan pendapat para pendahulu dan/atau refleksi utama penulis lirik Hymne Unida itu sendiri.  Namun demikian, penulis berharap tulisan ini dapat setidaknya memberikan warna dan jembatan pemahaman tersendiri bagi penulis khusus dan para mahasiswa dan kolega junior insan Unida yang memerlukan katalis pemahaman terhadap visi, misi, tujuan, kebijakan, strategi dan indikator keberhasilan untuk turut serta berkolaborasi, berkontribusi dan berpartisipasi di dalam menjalankan fungsi Pancadarma Universitas Djuanda (pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, profesionalitas dan ketauhidan) pada masa kini dan akan datang.  Penulis berharap bahwa insan Unida dapat terus menjaga dan mengawal motto Universitas Djuanda sebagai Kampus Bertauhid dengan slogan terbaik ”menggenggam dunia meraih akhirat” serta mewujudkan visi Universitas Djuanda menjadi perguruan tinggi riset yang menyatu dalam tauhid dan diakui dunia.