Memahami Nilai dan Merefleksi Narasi Lirik Hymne Universitas Djuanda
Oleh:
Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda/Dosen Program Studi Akuakultur
Tahun 2022 telah berakhir dan
rangkaian peristiwa diukir dan memberikan jejak mendalam bagi setiap unsur
insan Universitas Djuanda dan perguruan amaliyah. Pada kesempatan ini, memasuki awal tahun
2023, penulis memandang perlu untuk membuat sebuah refleksi dalam rangka
memahami, menghayati, menginternalisasi, mengkristalisasi dan mengamalkan
narasi lirik lagu pujian yang selama ini selalu dikumandangkan pada acara-acara
besar Universitas Djuanda, yaitu Hymne Universitas Djuanda. Penulis akan memulai pembahasan ini dengan
melakukan ulasan kilas balik dari apa yang telah, sedang dan akan dilakukan.
Refleksi Akhir Tahun
2022
Refleksi akhir tahun 2022 yang
dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Desember 2022 menunjukkan betapa pencapaian
kinerja tahun sebelumnya terrefleksi dan terevaluasi menjadi pekerjaan rumah
yang harus dijadikan referensi sehingga dapat teraktualisasi pada tahun 2023
dan yang akan datang. Pencapaian kinerja
tahun 2022 dapat dipotret dengan melihat status dan posisi unit kerja pada
tahun 2021, sehingga dapat dievaluasi dan dipilah kinerja mana yang telah
tercapai, yang belum dan yang tidak tercapai pada tahun 2022. Pergantian tahun 2023 ini diharapkan menjadi
momentum terbaik untuk dapat memotret bagaimana posisi dan status unit kerja
berdasarkan hasil refleksi akhir tahun 2022, sehingga arah, sasaran dan tujuan
perjuangan tahun ini dapat ditarget dengan baik, apa yang akan dicapai dapat
dipetakan, apa yang harus dilakukan dapat diprogramkan dan kontribusi apa yang
dapat diberikan dan/atau dikerjakan dapat disiapkan. Dan, tentu saja semua itu dapat ditentukan
dengan kembali berkaca pada hasil refleksi akhir tahun 2022 dan target rencana
strategis pada tahun 2023 yang ingin dicapai.
Refleksi akhir tahun 2022,
memotivasi penulis untuk memulai dengan melihat gambaran lebih besar pada apa
yang telah tersurat pada sebuah lirik dan sering dikumandangkan pada setiap
acara resmi setelah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (yang juga sarat
akan nilai dan norma kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia), yaitu Hymne
Universitas Djuanda. Hymne Universitas
Djuanda mengandung filosofi kuat akan pembangunan sumberdaya manusia yang
bertauhid dan dibangun dengan pondasi ketauhidan pada sistem pendidikan dan
edukasi ilmiah sebuah perguruan tinggi yang menyematkan label kata ”Kampus
Bertauhid” pada logo resmi universitasnya.
Nama yang dilekatkan pada
Universitas Djuanda adalah nama besar seorang pejuang berdarah Sunda dan merupakan
pahlawan ”Negara Kepulauan” yang juga sebuah deklarasi global dilabeli dan/atau
diabadikan atas dasar namanya ”Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja”, yaitu
Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa laut
Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan
Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Deklarasi Djuanda tahun 1957 ini kemudian menjadi tonggak perjuangan Indonesia
untuk melobi dan mensahkan narasi Negara Kepulauan agar dapat diakui dunia, hingga
pada akhirnya perjuangan itupun dapat dicapai pada tahun 1982 dengan lahirlah
kesepakatan global berbentuk konvensi hukum laut Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations Convention Law of the Sea,
UNCLOS). Tanggal 13 Desember sendiri
kemudian ditetapkan sebagai”Hari Nusantara” berdasarkan Surat Keputusan
Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 pada tanggal 11 Desember 2001, yang menyatakan
bahwa tanggal 13 Desember ditetapkan sebagai Hari Nusantara.
Universitas Djuanda
dan Hymne Unida
Pendirian Universitas Djuanda sendiri
dilakukan oleh sebuah yayasan yang didirikan atas prakarsa Letnan Jenderal TNI
Purn. H. Alamsjah Ratu Perwiranegara (alm) dan dibantu oleh karib kerabatnya sebagai
wujud tanggung jawab kepada kemajuan Umat Islam dalam rangka mendukung dan
berpartisipasi aktif untuk mewujudkan tujuan NKRI mencerdaskan kehidupan
bangsa, yaitu Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Indonesia pada tanggal 3
Juni 1983 di atas tanah wakaf di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dan, berdasarkan Keputusan Yayasan Pusat
Studi Pengembangan Islam Indonesia Nomor: 083/PSPI/III/87, pada tanggal 21
Maret 1987 didirikanlah Universitas Djuanda.
Universitas Djuanda benar-benar lahir dua tahun setelah Indonesia
meratifikasi UNCLOS 1982 dengan Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 1985 tentang
Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982
yang kemudian prinsip hukum internasional tentang negara kepulauan ini juga
ditegaskan kembali dalam Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan
Indonesia.
Sebagai sebuah perguruan tinggi,
Universitas Djuanda memiliki lagu pujian (hymne) bernuansa religi yang
ditujukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan dapat menggambarkan
nilai-nilai dasar pembentukan pondasi kelembagaan. Hymne Universitas Djuanda berisikan syair
yang dikarang oleh seorang pujangga komtemporer, Taufik Ismail, dan aransemen
lagunya dibuat oleh Syam Bimbo. Hymne
Unida benar-benar mengandung nilai-nilai religi Islam.
Berikut ini adalah bait-bait
narasi lagu pujian (hymne) yang terdapat pada lirik Hymne Universitas Djuanda:
Kampus kami tercinta
Universitas Djuanda
Mencerdaskan manusia Indonesia
Kampus kami tercinta
Universitas Djuanda
Mentaqwakan manusia Indonesia
Menuntut ilmu,
di dalam ibadah
Mengemban amanah,
jadi Khalifah
Rabbana.........
Rabbana.........
Anugerahi kami
Ilmu yang padat
Amal kreatif
Luas pandangan
Akrab lingkungan
Di dalam ridho Mu….. selalu
Di dalam ridho Mu….. selalu
Refleksi Narasi Lirik
Hymne Universitas Djuanda
Penulis mulai memahami isi
kandungan Hymne Universitas Djuanda adalah setelah diminta untuk menjabat
sebagai Pembina Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Djuanda pada tahun 2018,
kendati mulai bergabung menjadi dosen perikanan Fakultas Pertanian Universitas
Djuanda pada awal tahun 2016. Hymne
Unida sendiri mulai penulis dengarkan saat pertama kali ikut terlibat aktif
dalam kegiatan Universitas Djuanda pada akhir tahun 2017, yaitu saat pertama
kali menjadi Ketua Panitia Seminar Nasional dalam rangka Memperingati Hari
Nusantara. Dan saat itu, penulis
tergetar hati ketika memasuki lirik berupa pemanggilan nama Allah (Rabbana...
Rabbana...) dan kedua tanggan penulis refleks terangkat sebagaimana umumnya seseorang
berdoa kepada Rabb nya. Sungguh, doa
pujian tersebut telah menggugah dan menambatkan cinta sejati institusi pada
Universitas Djuanda, terlebih gurunda mursyid Syaikhona Abina KH. Drs. Muhammad
Thamrin Padmawidjaja Al Banjari (alm) telah berwasiat agar penulis jangan
pernah meninggalkan Universitas Djuanda sebagaimana Abina membanggakan dan
menyayangi Universitas Djuanda sebagai satu-satunya perguruan tinggi terbaik
yang berani dengan tegas dan nyata memproklamirkan diri sebagai Kampus
Bertauhid (dapat dilihat pada logo Universitas Djuanda).
Setelah kejadian itu, penulis
mulai mencoba untuk menghafal dan mempelajari isi lirik Hymne Universitas
Djuanda. Pada prosesnya, setelah terus
terlibat dalam berbagai kegiatan Universitas Djuanda, terutama setelah menjadi
Pembina Menwa Unida, akhirnya penulis mulai memahami isi kandungan yang
terdapat pada lirik Hymne Unida. Taufik
Ismail, kendati penulis tidak pernah bertemu dengannya, seolah memberikan pesan
bahwa Universitas Djuanda memang layak memproklamirkan diri menjadi Kampus
Bertauhid dan harus mempunyai nilai-nilai tauhid yang senantiasa diingatkan dan
diperdengarkan pada setiap acara-acara besar Unida. Setiap substansi lirik Hymne harus menggambarkan
kedekatan dan cita-cita kehidupan Kampus Bertauhid dan hal ini memang
benar-benar tercermin dalam lirik lagu pujian/religi (hymne) Universitas
Djuanda.
Dimulai dengan bait pertama Hymne
Unida, yang diawali dengan kalimat ”kampus kami tercinta Universitas Djuanda”
dan dilanjutkan dengan cita-cita institusi untuk ”mencerdaskan manusia” sebagai
manifestasi kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dengan memenuhi
salah satu rukun ibadah yaitu menuntut ilmu agar implementasi dan pengamalan
ibadah yang dilakukan dapat menjadi rahmatan lil aalamiin (tidak merusak dan
tidak sia-sia), sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu tanpa amal akan sia-sia,
sedangkan amal tanpa ilmu akan membawa kerusakan.
Bait kedua Hymne Unida, kembali
diawali dengan kalimat ”kampus kami tercinta Universitas Djuanda” lalu
dilanjutkan dengan cita-cita institusi yang melekat dan terintegrasi berupa
”mentaqwakan manusia" sebagai manifestasi kewajiban manusia untuk
beribadah kepada Allah SWT dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menjadi
orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa.
Bait pertama dan kedua tersebut
tentu saja memberikan sinyalemen bahwa Universitas Djuanda hadir untuk menjadi jembatan
dan/atau wadah institusi dalam rangka berproses bersama mencerdaskan dan
mentaqwakan manusia. Dan itu terangkum
dalam bait ketiga Hymne Unida yang mengandung substansi bahwa kedua proses
tersebut (menjadi cerdas dan bertaqwa) tentu saja sesuai dengan tugas utama
dari manusia yang diamanahkan Allah SWT di dunia ini, yaitu beribadah dan
menjadi Khalifah. Artinya bahwa,
menuntut ilmu harus dibarengi dengan niat untuk beribadah, sehingga para
penuntut ilmu tersebut termasuk ke dalam golongan orang-orang fii sabilillah
dan segenap proses dalam rangka menuntut ilmu yang dilakukan akan menghantarkan
kita menjadi orang yang sedang berjihad di jalan Allah dalam rangka menuntut
ilmu.
Selain itu, untuk menjadi
khalifah yang baik harus memiliki bekal ilmu dan referensi terbaik agar menjadi
rahmat bagi seluruh alam. Bekal ilmu
yang diperoleh pada prosesnya akan menjadi bekal untuk menjadi Khalifah di muka
bumi, sehingga ia tidak akan menimbulkan kerusakan pada proses pengamalannya,
karena ia memegang dan mengamalkan ilmu yang rahmatan lil aalamiin. Ilmu yang rahmatan lil aalamiin ini tentu
saja sesuai dengan sebagaimana diajarkan oleh manusia mulia, kekasih sejati
Allah SWT, yaitu baginda rasulallah Muhammad SAW sebagai suri tauladan sempurna
yang selalu berkata benar tidak pernah dusta, selalu bertanggungjawab tidak
pernah khianat, selalu menyampaikan kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan,
serta pribadi cerdas dan menjadi referensi sejati kebenaran tiada cela. Beliau telah membawa cahaya (hikmah,
pengetahuan, derajat) untuk mengeluarkan dan membawa manusia dari kegelapan
(kebodohan, dzalim, kehinaan) hingga akhir dunia dengan terus berpegang pada Al
Qur’an dan As Sunnah, dimana jika manusia berpegang pada kedua wasiat
rasulallah SAW tersebut, maka hidup, kehidupan dan penghidupannya tidak akan
pernah tersesat.
Bait keempat Hymne Unida mencerminkan
bagaimana manusia hanyalah lemah yang mengharuskan dirinya untuk hanya berserah
diri (menyembah) serta bergantung dan meminta pertolongan kepada Allah SWT
melalui doa yang dipanjatkan dengan selalu menyebut nama Nya, dan nama yang
paling disukai Allah SWT adalah ketika hamba Nya memanggil Nya dengan sebutan
”Rabbana...”. Doa adalah senjata orang
beriman, karena dengan doa sesungguhnya ia mempunyai keyakinan pasti bahwa
segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta seluruh isinya tidak akan
luput dari kuasa, rahmat, kasih, sayang, karunia, anugerah serta izin Allah
SWT. Yakin bahwa Allah SWT pasti
mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh hamba Nya merupakan manifestasi dari
bentuk berserah diri sejati kepada Allah SWT.
Tiada daya upaya yang dapat dilakukan manusia dan seorang hamba selain
atas izin dari Yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Besar, Maha Berkuasa lagi
Maha Berkehendak, Allah SWT, yang pasti selalu menganugerahi hamba-hamba Nya
dengan berbagai macam rahmat yang dibutuhkan dan dicukupkan kepadanya.
Pada bagian ini, penulis merasakan
bahwa dengan mengangkat tangan sebagai tanda doa mulai dari kalimat lirik Hymne
Unida ”Rabbana... Rabbana...” hingga akhir lirik ”di dalam ridho Mu... selalu”,
maka kekhusuan memahami nilai ini dapat diresapi. Nilai ini penulis rasakan dan lakukan selama
kurun waktu akhir tahun 2017 hingga pertengahan tahun 2022, tepatnya pada
tanggal 31 Mei 2022 pada saat Rapat Majelis Tinggi Universitas Diperluas. Seperti biasa, pada saat lagu Hymne Unida
dinyanyikan memasuki kalimat lirik berupa doa ”Rabbana...”, kedua tangan
terangkat hingga akhir lagu dinyanyikan.
Setelah selesai, ibu Direktur Eksekutif YPSPIAI, Dr. Hj. R. Siti Pupu
Fauziah, S.Pd., M.Pd., memberikan komentar terhadap apa yang penulis lakukan
dan selanjutnya Chancellor Universitas Djuanda, Dr. H. Martin Roestamy, SH.,
MH., kemudian menginstruksikan agar pada saat lagu Hymne Unida dinyanyikan dan
memasuki kalimat doa ”Rabbana...”, maka secara oral dihimbau agar setiap insan
Unida meletakkan tangan kanan di dada sebelah kiri sebagaimana umumnya
dilakukan sebagai salam Pancadarma Universitas Djuanda. Kendati hal tersebut disampaikan secara oral,
namun penulis merasakan bahwa dengan menyimpan tangan kanan di dada sebelah
kiri dapat merefleksikan bahwa doa tersebut meresapi dan menggetar dada sebelah
kiri hingga detak jantung seperti semakin berdebar dan darah mengalir lebih
deras pada setiap pembuluh nadi di dalam tubuh.
Kebiasaan ini kemudian penulis mulai dibiasakan dan disebarluaskan
kepada minimal mahasiswa Fakultas Pertanian pada setiap kesempatan, baik di
kelas maupun pada ruang acara-acara yang diselenggarakan oleh Fakultas
Pertanian, disamping tentunya tetap penulis lakukan pada setiap acara-acara
formal yang diselenggarakan oleh Insan Universitas Djuanda saat menyanyikan
Hymne Universitas Djuanda.
Bait kelima Hymne Unida ini
berisi tentang substansi doa yang dipanjatkan oleh para penuntut ilmu dan
penyelenggara institusi ilmiah yang menjadi insan Universitas Djuanda (dosen,
tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni dan seluruh keluarga besar). Insan Unida berdoa agar setiap proses
pendidikan, pembelajaran dan penelitian yang dilakukan, pengabdian kepada
masyarakat yang diberikan, profesionalitas yang dijunjung dan dikejewantahkan
serta ketauhidan yang menjadi karakter insan Unida sebagaimana dikenal sebagai
Pancadarma Universitas Djuanda, dapat diinternalisasi, dikristalitasi dan
diaktualisasi berdasarkan empat tujuan dari fungsi pancadarma Universitas
Djuanda tersebut, yaitu: (i) memperoleh ”ilmu yang padat”, (ii)
mengaktualisasikan ilmu yang padat dengan ”amal kreatif” yang berguna dan
dibutuhkan sesama makhluk, (iii) mengamalkan ilmu dengan ”luas pandangan” agar
dapat disebarluaskan pada dunia dan menjadi manfaat bagi semua, serta (iv)
memberdayakan ilmu yang padat, amal kreatif, dan luasnya pandangan dengan tetap mengedepankan keberlanjutan
ekologi, sosial dan ekonomi (akrab lingkungan) agar terus dapat dinikmati oleh
sesama makhluk Allah SWT di muka bumi.
Bait terakhir, yaitu bait keenam
Hymne Unida, juga mengandung doa pamungkas yang merupakan tujuan utama dari
setiap ibadah dan yang diamanahkan kepada insan Unida dengan satu ukuran
hakiki, yaitu mendapatkan ridho Allah SWT.
Karena hanya dengan ridho Allah SWT, maka datangnya rahmat pamungkas di
akhirat kelak adalah surga Nya Allah SWT untuk bertemu dan bercengkrama dalam
kebahagiaan sejati tiada tara dengan kekasih mulia baginda khalifah sejati,
rasulallah Muhammad SAW.
Universitas Djuanda sebagai
sebuah institusi perguruan tinggi didesain menjadi wadah dan/atau jembatan
publik dalam rangka upaya mencapai target/sasaran/tujuan kelembagaan untuk
secara kolaboratif dan partisipatif mencerdaskan dan mentaqwakan manusia. Target/sasaran/tujuan kelembagaan tersebut
memerlukan proses pencapaian, dimana dalam prosesnya dilakukan dengan
mengedepankan fungsi Pancadarma Universitas Djuanda (pendidikan, penelitian,
pengabdian kepada masyarakat, profesionalitas dan ketauhidan) melalui berbagai
proses tematik bertujuan khusus sebagaimana disebutkan dalam refleksi bait
kelima, yaitu: (i) pembelajaran ilmu yang padat, (ii) pembelajaran dan
aktualisasi amal kreatif, (iii) pembinaan dan pemahaman keluasan pandangan, dan
(iv) pemahaman dan penerapan akrab lingkungan.
Tujuan dan proses tersebut
diharapkan dapat menghasilkan individu yang dapat mengemban amanah sebagai
khalifah yang bertauhid yang selalu menempatkan setiap aktivitas, baik pada
saat sebagai mahasiswa maupun setelah menjadi alumni, dengan niat ibadah kepada
Allah SWT sehingga bernilai ”fii sabilillah”.
Dan hal ini dapat dilakukan dengan mengenal, memahami, menghayati,
menginternalisasi dan mengkristalisasi 21 karakter tauhid agar bertumbuhkembang
dan diaktualisasi menjadi “rahmatan lilalamiin”. Pada akhirnya, semua yang dilakukan harus
dikarakterisasi untuk mendapatkan ridho Allah SWT dan husnul khatimah di akhir
hayat setiap individu Insan Universitas Djuanda.
Penutup
Refleksi narasi lirik Hymne
Universitas Djuanda ini merupakan iteratif pemahaman dan penghayatan pribadi
penulis yang belum tentu akan sama atau mungkin jauh dari kata sepakat dari
pemikiran semua manusia, wabil khusus insan Unida. Keterbatasan penulis tentu menjadi faktor
kuncinya, sehingga perlu disinkronisasi dan/atau dikomparasi dengan pendapat
para pendahulu dan/atau refleksi utama penulis lirik Hymne Unida itu
sendiri. Namun demikian, penulis
berharap tulisan ini dapat setidaknya memberikan warna dan jembatan pemahaman
tersendiri bagi penulis khusus dan para mahasiswa dan kolega junior insan Unida
yang memerlukan katalis pemahaman terhadap visi, misi, tujuan, kebijakan,
strategi dan indikator keberhasilan untuk turut serta berkolaborasi, berkontribusi
dan berpartisipasi di dalam menjalankan fungsi Pancadarma Universitas Djuanda (pendidikan,
penelitian, pengabdian kepada masyarakat, profesionalitas dan ketauhidan) pada
masa kini dan akan datang. Penulis
berharap bahwa insan Unida dapat terus menjaga dan mengawal motto Universitas
Djuanda sebagai Kampus Bertauhid dengan slogan terbaik ”menggenggam dunia
meraih akhirat” serta mewujudkan visi Universitas Djuanda menjadi perguruan
tinggi riset yang menyatu dalam tauhid dan diakui dunia.