Membangun Karakter Secara Qurani
Oleh Agung Muttaqien Ka.Prodi Pendidikan
Bahasa Arab Fakultas Agama Islam & Pendidikan Guru
Problematika Masyarakat dengan
krisis Karakter/Akhlak, isu kekerasan verbal maupun seksual, tidak sedikit
membanjiri kolom media sosial. Faktanya beberapa oknum Lembaga Pendidikan yang
ikut serta terjebak dengan kondisi yang mengkhwatirkan, minimnya edukasi
litersi yang harus dikampanyekan sebagai syiar citra Muslim yang Rahmatan Lil Aaalmin. Mari, kita untuk bertawashaubil haq wa tawaa saubisshabri.
Kata karakter (character) berasal dari bahasa Yunani “Charassein” maknanya mengukir “to mark”. Sehingga terbentuk sebuah pola.
Proses Pendidikan adalah Proses “pengukiran” dan “naturing” atau bahasa kitab
sucinya proses “Rabbany” yakni Proses Pengukiran dari sebuah Pembiasaan,
Keteladanan, Kedisiplinan, dsb. Sehingga terbentuklah sebuah pola tingkah laku
yang mulia. Kalau tidak, manusia akan berubah jadi binatang. Karakter sangat
erat kaitanya dengan personality (kepribadian) seseorang. Sesorang disebut
berkarakter (a person of character) apabila perilaku sesuai dengan kaidah
moral. Berkarakter adalah berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak.
Karakter yakni cerminan utuh dari seseorang : mentalitas, sikap dan perilaku.
Karakter adalah mustika hidup
yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia
yang sudah “mebinatang”.
Karakter : gambaran tingkah laku
yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun
implisit.
Singkatnya karakter : Sifat-sifat
kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang dapat terlihat berbeda dari orang lain.
Hubungan Karakter dengan Akhlak
Pendekatan etimologi “Akhlak”
berasal dari bahasa Arab Jama dari bentuk mufradnya “Khuluqun” خُلُقٌ maknaya: budi pekerti, perangai,
tingkah laku dan tabiat. Kalimat tsb mengandung segi persesuaian dgn perkataan
“Khalqun” خَلْقٌ maknanya
kejadian, serta erat hubungan dengan “Khaliq” خَالِقٌ
maknanya pencipta, dan “Makhluk” مَخْلُوْقٌ maknanya yang diciptakan.
Pola bentukan definsi “akhlak” di
atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara Khaaliq
(Pencipta) dengan Makhluk (yang diciptakan) secara timbal balik. Hal itu
disebut Habulum Minallah. Dari produk Hablum Minallah yang verbal lahirlah pola
hubungan antar sesama manusia dengan hablum minannas (pola hubungan antar
sesama makhluk). Dan Habul minal Alam sebagai aplikasi dalam lingkungan.
Ibnu Athir dalam kitabnya
an-Nihayah bahwa hakikat makna Khuluq itu gambaran Bathin manusia yang tepat
(Jiwa dan sifat-sifatnya). Sedangkan Khalqu gambaran Lahiriyah (raut muka,
kulit, tinggi rendah tubuh dll)
Al Ghazali :
"Akhlak adalah suatu perangai (watak/tabiat)
yang menetap dalam jiwa seseorang dan
merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu
dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa dipikirkan atau direncanakan."
Belajar Karakter pada Rasulullah SAW
“Sesungguhnya adalah bagi kamu
pada Rasullah itu teladan yang baik, barangsiapa yang mengharapkanAllah dan
Hari Kemudian dan yang banyak ingat kepada
Allah SWT. (QS. Al Ahzab : 21).
“Dan sesungguhnya kamu
benar-benar berbudi Pekerti yang Agung” (QS. Al Qalam : 4)
“Tuhan telah mendidikku, maka
sempurnakan Pendidikanku” (HR. al-Asykary dari Ali RA)
Mengapa perlu keteladanan, Karena ?
Manusia kecenderungan meniru (imitation), karena dalam Islam
digariskan kalau meniru, mencontoh, mengikut, dan meneladani sesuatu yang baik.
Ayat di atas berbicara mengenai kesetiaan, orang-orang mukmin yg kuat imannya,
yang dengan tegar meneladani Rasul meski dalam keadaan situasi sulit. Para
pengikutnya hanya akan terjadi jika orang yang bersangkutan Tidak sombong
(berharap Rahmat Allah), Memilki orientasi jangka Panjang (berharap kebagian akhirat), Memiliki pertautan dengan Allah (berdzikir).
Jika 3 ciri tdk melekat, maka iman akan sulit untuk meneladani Rasulullah SAW.