Mengambil Hikmah Isra' Mi'raj untuk Menguatkan 21 Karakter Tauhid dalam Diri
Oleh: Dr. Saddam Husein Rangkuti, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Hukum/Kepala Bidang Penerapan Tauhid Universitas Djuanda)
Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra' dan Mi'raj. Seringkali, kita hanya melihatnya sebagai mukjizat yang spektakuler dan mengagumkan. Namun, jauh di balik kisah perjalanan malam Rasulallah Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke Sidratul Muntaha, terdapat kurikulum ilahi yang lengkap. Kurikulum ini merupakan panduan komprehensif untuk mengembangkan karakter manusia seutuhnya, yang sepenuhnya selaras dengan 21 Nilai Karakter Tauhid yang menjadi semangat pendidikan di Universitas Djuanda.
Sebelum Isra' (Isra'), Rasulallah Muhammad (saw) mengalami satu tahun kesedihan yang mendalam ('am al-huzn). Dalam kondisi inilah beliau bawa dalam perjalanan spiritual ini, dimulai dengan penyucian hati yang menjadi landasan pertama dan terpenting. Nilai iman dan ketakwaan diperkuat melalui keyakinan mutlak pada kekuasaan Allah SWT. Perintah untuk melakukan perjalanan di malam hari mengajarkan disiplin (An-Nidzam) dan ketaatan (At-Tha'ah) kepada perintah Ilahi, meskipun sulit dari sudut pandang manusia. Keteguhan Rasulallah dalam melaksanakannya mencerminkan keteguhan (Al-Istiqamah) dan keberanian (As-Syaja'ah) yang luar biasa.
Puncak Mi'raj adalah menerima perintah shalat lima waktu sehari. Ini adalah anugerah sekaligus tanggungjawab besar. Shalat adalah Mi'raj bagi orang beriman, momen dialog langsung dengan Allah. Di dalamnya, kita menemukan nilai-nilai Keikhlasan, Ketaatan, dan Tanggungjawab untuk menjaga hubungan vertikal. Negosiasi jumlah shalat dari 50 menjadi 5 yang disarankan Nabi Musa A.S menunjukkan Kebijaksanaan (Al-Hikmah) dan Rahmat (Ar-Rahmah) Allah. Namun, Rasulallah Muhammad (saw) dengan penuh syukur menerima shalat lima waktu sehari, mengajarkan kita nilai-nilai positif Kesabaran dan Ketundukan setelah melakukan usaha maksimal.
Setelah mencapai puncak spiritualnya, Rasulallah Muhammad (saw) tidak tinggal di langit. Beliau kembali ke bumi, menyampaikan pesan kepada masyarakat. Ini adalah pelajaran terpenting bagi Insan akademisi. Kepemimpinan Rasulallah dalam memimpin salat para nabi di Baitul Maqdis adalah simbol kepemimpinan berdasarkan tauhid. Perjalanan yang melampaui waktu dan ruang ini menginspirasi nilai-nilai Visioner dan Kreatif-Inovatif dalam mencari solusi. Kembalinya Rasulallah ke Mekah dengan pesan universal mengajarkan Komunikasi yang Efektif, Kejujuran, dan Kepercayaan dalam menyampaikan kebenaran, meskipun ditolak dan dihina.
Sebagai civitas akademik Universitas Djuanda, kita diarahkan untuk meniru pola perjalanan agung ini. Pertama, lakukan "Isra' Intelektual-Spiritual" sebuah perjalanan untuk memperdalam pengetahuan berdasarkan landasan fondasi tauhid yang kokoh (Iman, Ketakwaan, Kejujuran, dan Integritas). Kedua, alami "Mi'raj Kapasitas" tingkatkan kompetensi dan karakter ke tingkat tertinggi melalui Disiplin, Ketekunan (Al-Mujahadah), dan Visioner. Ketiga, yang terpenting, "Cinta UNIDA & Indonesia” gunakan pengetahuan dan karakter itu untuk melayani, menyelesaikan masalah masyarakat dengan Keadilan (Al-'Adalah), Kerja Sama (At-Ta'awun), Toleransi (At-Tasamuh), dan memberikan Manfaat (Al-Manfa'ah) luas.
Wallahu Yaqulul Haq Wahuwa Yahdis Sabil