Mengusung Ekonomi Inklusif, Perjalanan Oktia Menjadi Runner Up 2 Duta Ekonom Indonesia 2025
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Djuanda (UNIDA), Oktia Fitriani menyimpan satu kegelisahan yang terus mengusiknya: ilmu ekonomi sering terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Ia melihat UMKM di berbagai daerah berjuang keras mengembangkan usaha, sementara akses permodalan dan literasi digital masih menjadi hambatan besar.
Kegelisahan itu berubah menjadi kompas perjuangannya ketika ia mengikuti ajang Duta Ekonom Indonesia Batch 3 Tahun 2025. Seleksi berlangsung sejak 25 Oktober untuk tahap pendaftaran, disusul tes tulis pada 4 November, wawancara pada 15 November, hingga pengumuman akhir pada 30 November 2025. Dari proses panjang itulah, Oktia akhirnya terpilih sebagai Runner Up 2 Duta Ekonom Indonesia 2025.
Dalam kompetisi tersebut, Oktia membawa konsep yang ia sebut “Ekonomi Inklusif melalui Tiga Pilar Komunikasi”. Gagasan ini lahir dari pengamatannya terhadap ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi perkotaan dan realitas UMKM daerah.
Tiga pilar yang diusung Oktia berpijak pada keinginannya untuk menghadirkan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pilar pertama adalah literasi digital, yang ia terjemahkan melalui upaya menyajikan informasi ekonomi dalam bentuk konten media sosial yang sederhana dan mudah dicerna.
“Masyarakat, terutama anak muda, merasa bahwa ekonomi bukan ranah yang rumit, oleh karena itu perlu literasi mengenai ekonomi yang mudah dipahami dipahami dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pilar berikutnya adalah aksi inklusif. Di sini, Oktia terjun langsung mendampingi para pelaku UMKM agar berani melakukan transformasi digital. Ia melihat banyak usaha kecil yang memiliki potensi besar, namun belum percaya diri memanfaatkan teknologi. Melalui pendampingan, ia berusaha membuka ruang agar para pelaku UMKM dapat tumbuh dan bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Pilar terakhir adalah advokasi, yang ia jalankan dengan memperkenalkan isu Green Economy Indonesia di berbagai ruang diskusi digital maupun komunitas regional.
“Masa depan ekonomi harus bergerak menuju keberlanjutan, dan generasi muda perlu mengemban peran dalam menyuarakan pentingnya pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan,” tegasnya.
Persiapan menuju kompetisi ia jalani selama tiga minggu. Hari-harinya dipenuhi riset isu ekonomi nasional, latihan public speaking, hingga simulasi wawancara. Namun, bukan itu tantangan terbesarnya.
Pada hari wawancara, Oktia harus mengikuti proses seleksi dari rumah sakit. Ia tengah menemani kakaknya yang sakit, sementara jaringan internet tidak selalu bersahabat.
“Dalam situasi yang serba tidak pasti waktu itu, saya memilih tetap melanjutkan wawancara, ditemani doa keluarga. Pengalaman itu menjadi titik emosional yang tidak terlupakan,” ungkapnya.
Meski menyandang gelar Runner Up 2, Oktia memandang kompetisi ini sebagai pintu awal. Ia berencana meneruskan gagasan tiga pilarnya melalui produksi konten edukatif, kerja kolaboratif dengan UMKM lokal, serta kampanye literasi keuangan untuk generasi muda.
“Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia, bukan sekadar penonton,” pungkasnya.