Meraih Nilai Silaturahmi Pada "Ritual" Pulang Kampung sebagai Adat Masyarakat yang Menyenangkan dan "Paten" Melalui Pendekatan Komunikasi yang Harmonis
Tulisan dalam rangka Hari Masyarakat Adat
Internasional
Oleh: Hj. Sukarelawati, Dra., M.Si
"HAYU PULANG KAMPUNG..."
Siapa
kiranya yang tak kenal istilah Pulkam, alias Pulang Kampung? Tulisan ringan ini menyiasati kita untuk bisa
selalu terpanggil memahami akan
lenturnya nilai silaturahmi pada " ritual" pulang kampung sebagai
adat atau tradisi masyarakat yang
menyenangkan dan "paten". Peluang pulkam terkadang dibesarkan oleh
sebagian orang, atau pudar
bahkan hilang atau tersisihkan
dari hati kita, yang idealnya
memiliki kekuatan luar biasa bagi kita dari pandangan kaca mata apa pun. Istilah pulkam atau mudik seyogyanya tidak melulu harus ke
kampung halaman yang jauh. Tetapi dapat diartikan pentingnya kita berkunjung ke
tanah kelahiran kita, bertemu dengan orang tua, kerabat atau sanak saudara. Pulkam
sebagai adat atau tradisi, tentunya mengandung beberapa nilIai yang diyakini sebagian besar masyarakat dari dulu hingga sekarang.
Di dalamnya,
mengadung nilai sejarah dan budaya, sekaligus menanamkan nilai pendidikan mulia yang perlu
secara terus menerus ditanamkan pada generasi ke generasi selanjutnya. Nilai tersebut dikuatkan oleh Dr. Mukhtar Hadi,
diunduh dari tulisannya di internet pada
2022 pulang kampung sebagai "ritual" yang perlu dihormati dan
dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pada ranah
pemikiran tentang pulang kampung, serta ranah emosi bahkan hati setiap insan, kiranya membutuhkan kesadaran bahwa pada sisi
positif pulang kampung bagi seseorang secara otomatis telah berupaya menggali
sisi silaturahmi untuk bertemu atau berkumpul bercanda gurau bersama
keluarga yang menyejukkan untuk mensyukurinya. Tanpa menyisihkan rasa hormat pada nilai budaya dan sejarah,
nilai pulang kampung atau mudik, secara sederhana penting untuk selalu dipelajari.
Jika hal demikian tidak sampai
menyentuh ranah pribadi seseorang, maka
secara langsung atau tidak, secara nyata atau tidak, seseorang akan bisa
merasakan hampa atau sepi , gersang bahkan kecemasan yang ada pada dirinya, karena merasa hilang
harapan pada makna hidup yang hakiki,
berkomunikasi dan berkumpul bersama
keluarga. Untuk lebih menyelami hal itu,
maka dalam tahapannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana "ritual" pulang kampung sebagai adat
masyarakat yang menyenangkan dan "paten"?
2. Bagaimana komunikasi mampu menjembatani hal yang terputus antar
manusia unhuk menguatkan dahsyatnya
silaturahmi melalui Pulang Kampung?
3. Bagaimana "Ritual" pulang kampung atau mudik sebagai adat atau tradisi/ kebiasaan
masyarakat yang menyenangkan dan
"paten" dan memiliki
nilai dahsyat dalam silaturahmi melalui
komunikasi yang harmonis?
(1)
"Ritual" Pulang Kampung
sebagai Adat yang menyenangkan dan "Paten", akar dari silaturahmi
Antara
pulang kampung dan silaturahmi, memiliki kekuatan hubungan yang luar biasa.
Bisa digambarkan, bahwa kita bisa pulang kampung, merupakan kebanggaan kita
yang positif. Kita bisa terbuka untuk memahami bahwa kita memiliki keluarga.
Sebagian hati kita ada di tempat atau
wilayah yang berbeda. Saat bertemu dengan mereka, artinya kita menyatukan
kembali sebagian hati kita yg terpisahkan dengan mengucapkan maafkan lahir
bathin kalau selama ini kita terpisahkan dan berupaya membangun kembali jalinan
kebersamaan walau mungkin pada akhirnya harus kembali dipisahkan pada tempar
tinggal yg berbeda. Ketika hal itu ikhlas kita lakukan, maka otomatis kita
merasakan ketenangan hati walau mungkin tidak bisa digambarkan secara fisik.
Pada
pengertian sllaturahimi, bahwa untuk
menjauhkan diri dari berbagai kekhilafan
antar manusia adalah dengan menghidupkan silaturahmi. Sehingga silaturahmi
itu "paten", memiliki keutamaan yang luar bisa. Silaturahmi melalui pulang
kampung/mudik sangat lazim dilakukan saat Idul fitri.
Manfaat silaturahmi juga tak hanya sekedar untuk membantu memperluas rezeki,
terhindar dari api neraka, hingga mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.
Silaturahmi merupakan tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah Subhanahu
Wa Taala dan menjadi makhluk mulia di hadapan-Nya. Dilansir dari laman
NU Online, 2022 Manfaat silaturahmi secara syariat juga
menjadi amalan utama karena mampu membantu menyambungkan berbagai hal yang
putus. Pengampunan dosa di hadapan Allah Subhanahu Wa Taala lebih mudah
bila dibandingkan dengan pengampunan dosa
akibat kesalahan yang dilakukan antar manusia.
(2) Komunikasi sangat penting, menjembatani hal yang terputus untuk menguatkan dahsyatnya silaturahim.
Makna yang
kuat dari pulang kampung atau mudik, lazim terjadi saat adanya proses komunikasi, baik secara verbal maupun non
verbal. Hal tersebut nerupakan bagian dari kewajiban bagi setiap manusia untuk
mengampaikan pesannya, sebaimana seruhan dari Allah yang tersurat dalam Al-Quran, bahwa "sampaikan walau hanya satu ayat".
Secara non
verbal, simbol tersebut bermain saat
antar orang bertemu, berpandangan, bahkan berpelukan. Proses tersebut dikuatkan
secara verbalnya dengan berjabat tangan
sambil menyampaikan kata-kata seperti apa kabar dan minta maaf. Tersirat
pada ajakan sang khalik pada makhluknya.
Tertuang pula dalam Alquran surat Al
Baqarah ayat 83, tentang berbuat baik kepada kerabat. Intinya dapat digambarkan bahwa, janganlah kamu
menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, dan
anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.
3). Pulang kampung atau mudik sebagai adat
atau tradisi/ kebiasaan yang "paten" bagi masyarakat dan memiliki nilai
dahsyat dalam silaturahmi.
Pulang kampung, punya makna lembut. Dari waktu ke
waktu, dari tahun ke tahun, membuktkan
bahwa pulang kampung dikuatkan oleh masyarakat sebagai tradisi yg memilkki
nilai harmonis. Sehingga dipertahankan dan diamalkan sebagai nilai yg dikejar
sebagian besar manusia karena memiliki nilai yg lembut pada hati seseroang
yg menanamkan keikhlasan. Keikhlasan tertanam pada hati
yang sehat , karena semata ingin mendapatkan ridho Illahi.
Beda tipis
antara masyarakat yang berada atau serba terpenuhi kebutuhan dengan
masyarakat sederhana, ketika waktunya pulang kampung tiba. Tradisi
tersebut ditempuh dengan rasa suka cita. Bahkan tidak jarang ditemukan ungkapan
pada mereka yang menikmatinya, bahwa
" tidak seru kalau pulang kampung tidak macet". Mereka terlihat fokus, ketika masyarakat sederhana
harus berjubel, panas terik matahari
karena antrian kendaraan yang panjang di jalan raya, menuju kampung
halaman. Rasa gerah karena kendaraan tidak ber-ac dan sesekali menggunakan
kipas dapur untuk menyejukan
udara yang terasa panas. Bagi
kalangan menengah menjelajahi antar pulau, mereka berjejal menyisir jembatan yang terhubung antar kapal
dan perahu atau bahkan dimungkinkan perlunya Sekoci
atau perahu lintas yang disediakan awak kapal untuk menyebrangkan
penumpang dalam kondisi kapal yg kurang memadai
atau rusak saat di tengah laut.
Bagi kalangan atas atau masyarakat yang serba ada atau tercukupi, mampu lebih berpikir kritis agar cepat sampai di kampung
halaman. Kendaraan lintas udara dianggap
hal yang tepat sebagai kendaraan andalan, walau juga terkadang mereka
cemas, karena cuaca yg kurang
mendukung. Pulang kampung, tidak juga mengenal perbedaan antar orang dari yang
berpendidikan tinggi atau rendah. Ketika
bagasi mobil suatu keluarga terbuka,
saat di tengah antrian kendaraan macet total, mengingat waktu makan siang tiba,
telah tesedia pembekalan lontong atau makanan praktis yang disajikan dengan
macam gorengan atau opor ayam. Waktunya
sholat tiba, sajadah beralasan koran digelar di sisi jalan raya. Mereka
khusuk menunaikan ibadahnya, menuangkan rasa suka cita, rasa syukur dan meminta
perlindungan kepada sang pencipta, walau
dengan kondisi keterbatasan. Terlihat
tumpukan panci atau peralatan masak bahkan kasur lipat, tersedia di bagasi,
guna memenuhi keinginan saat waktu istirahat, agar tetap bisa berkumpul dengan keluarga.
Panggilan
rasa syukur. rasa kebersamaan dan saling
menghargai antar manusia untuk
bisa memaknai dan menikmati pulang kampung, terealisasi secara bersama
dalam kehidupan masyarakat luas. Secara nasional, sebagaimana manusia bagian
dari warga negara. Pulang kampung adalah hal yang nyata diakui sebagai bakti
kita pada negara atau ibu pertiwi. Hal demikian sebagaimana tersirat dalam bait
Lagu Nasional "Tanah
Airku" yang ditulis dan digemakan oleh penyair Ibu Sud dan oleh masyarakat
pemakna lainnya, "Walaupun banyak negeri kujalani. Termashur permai di
kata orang Tetapi kampung halamanku Di sanalah ku dibesarkan Tanahku tak
kulupakan Engkau kubanggakan,"
Makna lagu
tersebut mengajak kita merasakan
besarnya kecintaan kita terhadap tanah air. Anonim, 2022, pada laman "orang
juga bertanya”, bahwa nilai-nilai yang bisa dijumpai dalam
lagu Tanah Airku yang bisa kita terapkan
dalam kehidupan sehari-hari adalah
nilai kecintaan pada tanah air, nilai kebanggaan sebagai bagian dari
Indonesia dan nilai penghargaan terhadap tanah air. Makna lagu tersebut kurang lebihnya dari sisi
yang lain, terkait dengan makna pulang kampung,
bahwa "sejauh mana seseorang dari lini mana pun, mampu mengepakkan sayapnya untuk menjelajah
dunia, akan tetap bangga bagi seseorang yang bisa pulang kampung,
bersilaturahmi bertemu dan berkumpul bersama kerabat atau keluarga melalui
jalinan komunikasi yang harmonis.
Terkait
dengan makna lagu di atas, hubungannya dengan pulang kampung sebagai adat atau
tradisi yang "paten" dalam upaya membangun kebersamaan dan
silaturahmi yang harmonis, Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. di Jakarta, disadur penulis pada
Agustus 2022, yg menyatakan tentang pulang kampung itu ritual. Pernyataannya
bahwa mudik untuk pulang kampung atau pulang di tanah kelahiran adalah
"ritual" yang selalu kita temui setiap tahun menjelang Hari Raya Idul
Fitri . Di saat mudik seperti inilah masyarakat kita disibukkan dengan segala
persiapan pulang kampung tersebut. Pemerintah sibuk menyiapkan infrastruktur
jalan dan transportasi untuk memperlancar perjalanan para pemudik dan aparat
keamanan disibukkan pula untuk
melaksanakan operasi ketupat dan
pengamanan lalu lintas. Semua dilakukan agar "ritual" pulang kampung
masyarakat berjalan lancar, aman sentosa sampai tujuan dengan selamat.
Kesimpulan
"Ritual" pulang kampung sebagai adat atau tradisi
masyarakat yang menyenangkan dan "paten" , sangat layak
diperjuangkan masyarakat dalam membangun kebersamaan unhuk meraih silaturahmi
melalui komunikasi yang harmonis.