[email protected] 0251-8240773
Informasi

Meraih Nilai Silaturahmi Pada "Ritual" Pulang Kampung sebagai Adat Masyarakat yang Menyenangkan dan "Paten" Melalui Pendekatan Komunikasi yang Harmonis

Tulisan dalam rangka Hari Masyarakat Adat Internasional
Oleh: Hj. Sukarelawati, Dra., M.Si

"HAYU PULANG KAMPUNG..."

Siapa kiranya yang tak kenal istilah Pulkam, alias Pulang Kampung?  Tulisan ringan ini menyiasati kita untuk bisa selalu terpanggil  memahami akan lenturnya nilai silaturahmi pada " ritual" pulang kampung sebagai adat atau tradisi masyarakat   yang menyenangkan dan "paten". Peluang pulkam terkadang dibesarkan oleh sebagian orang,  atau  pudar  bahkan hilang atau tersisihkan  dari hati kita, yang  idealnya memiliki kekuatan luar biasa bagi kita dari pandangan  kaca mata apa pun.  Istilah pulkam  atau mudik seyogyanya tidak melulu harus ke kampung halaman yang jauh. Tetapi dapat diartikan pentingnya kita berkunjung ke tanah kelahiran kita, bertemu dengan orang tua, kerabat atau  sanak saudara.  Pulkam  sebagai adat atau tradisi, tentunya mengandung beberapa nilIai  yang diyakini sebagian besar masyarakat  dari dulu hingga sekarang.

Di dalamnya, mengadung nilai sejarah dan budaya, sekaligus menanamkan nilai pendidikan mulia yang perlu secara terus menerus ditanamkan pada generasi ke generasi  selanjutnya. Nilai  tersebut dikuatkan oleh Dr. Mukhtar Hadi, diunduh dari tulisannya di  internet pada 2022 pulang kampung sebagai "ritual" yang perlu dihormati dan dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada ranah pemikiran tentang pulang kampung, serta ranah emosi bahkan  hati setiap insan,  kiranya membutuhkan kesadaran bahwa pada sisi positif pulang kampung bagi seseorang secara otomatis telah berupaya menggali sisi silaturahmi untuk bertemu atau berkumpul bercanda gurau bersama keluarga  yang  menyejukkan untuk mensyukurinya.  Tanpa menyisihkan  rasa hormat pada nilai budaya dan sejarah, nilai pulang kampung atau mudik, secara sederhana penting untuk selalu  dipelajari.  Jika hal demikian  tidak sampai menyentuh ranah pribadi seseorang,  maka secara langsung atau tidak, secara nyata atau tidak, seseorang akan bisa merasakan hampa atau sepi , gersang bahkan kecemasan  yang ada pada dirinya, karena merasa hilang harapan pada  makna hidup yang hakiki, berkomunikasi dan berkumpul  bersama keluarga.  Untuk lebih menyelami hal itu, maka dalam tahapannya dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Bagaimana "ritual" pulang kampung sebagai adat masyarakat yang menyenangkan dan "paten"?

2.      Bagaimana komunikasi mampu menjembatani hal yang terputus antar manusia  unhuk menguatkan dahsyatnya silaturahmi melalui Pulang Kampung?

3.      Bagaimana "Ritual" pulang kampung atau mudik  sebagai adat atau tradisi/ kebiasaan masyarakat yang menyenangkan dan  "paten"  dan memiliki nilai dahsyat dalam silaturahmi  melalui komunikasi yang harmonis?

 (1) "Ritual" Pulang Kampung  sebagai Adat yang menyenangkan dan  "Paten", akar dari silaturahmi

Antara pulang kampung dan silaturahmi, memiliki kekuatan hubungan yang luar biasa. Bisa digambarkan, bahwa kita bisa pulang kampung, merupakan kebanggaan kita yang positif. Kita bisa terbuka untuk memahami bahwa kita memiliki keluarga. Sebagian hati kita  ada di tempat atau wilayah yang berbeda. Saat bertemu dengan mereka, artinya kita menyatukan kembali sebagian hati kita yg terpisahkan dengan mengucapkan maafkan lahir bathin kalau selama ini kita terpisahkan dan berupaya membangun kembali jalinan kebersamaan walau mungkin pada akhirnya harus kembali dipisahkan pada tempar tinggal yg berbeda. Ketika hal itu ikhlas kita lakukan, maka otomatis kita merasakan ketenangan hati walau mungkin tidak bisa digambarkan  secara fisik.

Pada pengertian sllaturahimi,  bahwa  untuk  menjauhkan diri dari berbagai kekhilafan  antar manusia adalah dengan menghidupkan silaturahmi. Sehingga silaturahmi itu "paten", memiliki keutamaan yang luar bisa. Silaturahmi melalui pulang kampung/mudik sangat lazim dilakukan saat Idul fitri. Manfaat silaturahmi juga tak hanya sekedar untuk membantu memperluas rezeki, terhindar dari api neraka, hingga mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Silaturahmi merupakan tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Taala dan menjadi makhluk mulia di hadapan-Nya. Dilansir dari laman NU  Online,  2022 Manfaat silaturahmi secara syariat juga menjadi amalan utama karena mampu membantu menyambungkan berbagai hal yang putus. Pengampunan dosa di hadapan Allah Subhanahu Wa Taala lebih mudah bila dibandingkan dengan pengampunan dosa  akibat kesalahan yang dilakukan antar manusia.

(2) Komunikasi sangat penting, menjembatani   hal yang terputus untuk menguatkan   dahsyatnya silaturahim.

Makna yang kuat dari pulang kampung atau mudik, lazim terjadi saat adanya proses  komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal. Hal tersebut nerupakan bagian dari kewajiban bagi setiap manusia untuk mengampaikan pesannya, sebaimana seruhan dari Allah yang  tersurat dalam Al-Quran,  bahwa "sampaikan walau  hanya satu ayat".

Secara non verbal, simbol tersebut  bermain saat antar orang bertemu, berpandangan, bahkan berpelukan. Proses tersebut dikuatkan secara verbalnya dengan berjabat tangan  sambil menyampaikan kata-kata seperti apa kabar dan minta maaf. Tersirat pada ajakan sang khalik pada  makhluknya. Tertuang pula  dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 83, tentang berbuat baik kepada kerabat. Intinya  dapat digambarkan bahwa, janganlah kamu menyembah selain  Allah dan berbuat  baiklah kepada kedua orang tua, kerabat,   dan  anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan bertuturkatalah  yang baik kepada  manusia.

3). Pulang kampung atau mudik sebagai adat atau tradisi/ kebiasaan yang "paten" bagi masyarakat dan memiliki nilai dahsyat dalam silaturahmi.

Pulang  kampung, punya makna lembut. Dari waktu ke waktu,  dari tahun ke tahun, membuktkan bahwa pulang kampung dikuatkan oleh masyarakat sebagai tradisi yg memilkki nilai harmonis. Sehingga dipertahankan dan diamalkan sebagai nilai yg dikejar sebagian besar manusia karena memiliki nilai yg lembut pada hati seseroang yg  menanamkan   keikhlasan. Keikhlasan tertanam pada hati yang sehat , karena semata ingin mendapatkan ridho Illahi.

Beda tipis antara masyarakat yang berada atau serba terpenuhi kebutuhan  dengan  masyarakat sederhana, ketika waktunya pulang kampung tiba. Tradisi tersebut ditempuh dengan rasa suka cita. Bahkan tidak jarang ditemukan ungkapan pada mereka yang menikmatinya,  bahwa " tidak seru kalau pulang kampung tidak macet". Mereka  terlihat fokus, ketika masyarakat sederhana harus berjubel, panas terik matahari  karena antrian kendaraan yang panjang di jalan raya, menuju kampung halaman. Rasa gerah karena kendaraan tidak ber-ac  dan sesekali menggunakan  kipas dapur untuk menyejukan  udara  yang terasa panas. Bagi kalangan menengah menjelajahi antar pulau, mereka berjejal menyisir  jembatan yang terhubung  antar kapal  dan perahu atau bahkan dimungkinkan perlunya  Sekoci  atau perahu lintas yang disediakan awak kapal untuk menyebrangkan penumpang dalam kondisi kapal  yg kurang memadai atau rusak saat di tengah laut.

Bagi  kalangan atas atau  masyarakat yang serba ada atau  tercukupi, mampu lebih  berpikir kritis agar cepat sampai di kampung halaman. Kendaraan lintas udara  dianggap hal yang  tepat  sebagai kendaraan andalan, walau juga terkadang  mereka  cemas,  karena cuaca yg kurang mendukung. Pulang kampung, tidak juga mengenal perbedaan antar orang dari yang berpendidikan tinggi atau  rendah. Ketika bagasi mobil suatu keluarga  terbuka, saat di tengah antrian kendaraan macet total, mengingat waktu makan siang tiba, telah tesedia pembekalan lontong atau makanan praktis yang disajikan dengan macam gorengan atau opor ayam. Waktunya  sholat tiba, sajadah beralasan koran digelar di sisi jalan raya. Mereka khusuk menunaikan ibadahnya, menuangkan rasa suka cita, rasa syukur dan meminta perlindungan kepada sang pencipta,  walau dengan kondisi keterbatasan.  Terlihat tumpukan panci atau peralatan masak bahkan kasur lipat, tersedia di bagasi, guna memenuhi  keinginan  saat waktu istirahat,  agar tetap bisa  berkumpul dengan keluarga.

Panggilan rasa syukur.  rasa kebersamaan dan saling menghargai  antar manusia  untuk  bisa memaknai dan  menikmati  pulang kampung, terealisasi secara bersama dalam kehidupan masyarakat luas. Secara nasional, sebagaimana manusia bagian dari  warga negara. Pulang kampung   adalah hal yang nyata diakui sebagai bakti kita pada negara atau ibu pertiwi. Hal demikian sebagaimana tersirat  dalam bait  Lagu Nasional "Tanah Airku" yang ditulis dan digemakan oleh penyair Ibu Sud dan oleh masyarakat pemakna lainnya, "Walaupun banyak negeri kujalani. Termashur permai di kata orang Tetapi kampung halamanku Di sanalah ku dibesarkan Tanahku tak kulupakan Engkau kubanggakan,"

Makna lagu tersebut mengajak kita merasakan  besarnya kecintaan kita terhadap tanah air.  Anonim, 2022, pada laman "orang juga  bertanya, bahwa  nilai-nilai yang bisa dijumpai dalam lagu  Tanah Airku yang bisa kita terapkan dalam kehidupan  sehari-hari  adalah  nilai kecintaan pada tanah air, nilai kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia dan nilai penghargaan terhadap tanah air.  Makna lagu tersebut kurang lebihnya dari sisi yang lain, terkait dengan makna pulang kampung,  bahwa "sejauh mana seseorang dari lini mana pun,  mampu mengepakkan sayapnya untuk menjelajah dunia, akan tetap bangga bagi seseorang yang bisa pulang kampung, bersilaturahmi bertemu dan berkumpul bersama kerabat atau keluarga melalui jalinan komunikasi yang harmonis.

Terkait dengan makna lagu di atas, hubungannya dengan pulang kampung sebagai adat atau tradisi yang "paten" dalam upaya membangun kebersamaan dan silaturahmi yang harmonis, Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. di Jakarta,  disadur penulis  pada  Agustus 2022, yg menyatakan tentang pulang kampung itu ritual. Pernyataannya bahwa mudik untuk pulang kampung atau pulang di tanah kelahiran adalah "ritual" yang selalu kita temui setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri . Di saat mudik seperti inilah masyarakat kita disibukkan dengan segala persiapan pulang kampung tersebut. Pemerintah sibuk menyiapkan infrastruktur jalan dan transportasi untuk memperlancar perjalanan para pemudik dan aparat keamanan disibukkan pula untuk  melaksanakan operasi ketupat  dan pengamanan lalu lintas. Semua dilakukan agar "ritual" pulang kampung masyarakat berjalan lancar, aman sentosa sampai tujuan  dengan selamat.

Kesimpulan

"Ritual"  pulang kampung sebagai adat atau tradisi masyarakat  yang menyenangkan dan  "paten" , sangat layak diperjuangkan masyarakat dalam membangun kebersamaan unhuk meraih  silaturahmi  melalui komunikasi yang harmonis.