[email protected] 0251-8240773
Berita

Napak Tilas Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

Disampaikan dalam Majlis Tasbih oleh Fachrur Razi Amir, M.Ag

Universitas Djuanda Bogor

Jumat, 3 Febuari 2023 / Rajab 1444 H

Melihat Hikmah Miraj Melalui Analogi

Said Nursi mengambil perumpamaan yang sebelumnya juga digunakan dalam menjelaskan rahasia hikmah dan misteri alam dalam kalimat kesebelas sebagai berikut: Pertama, terdapat seorang penguasa yang memiliki kekayaan berlimpah, gudang yang penuh dengan emas intan berlian dan simpanan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Tak hanya itu, Sang Penguasa juga memiliki ilmu dan wawasan yang luas, sejumlah skill dan kreasi yang indah. Kemudian muncul keinginan Sang Penguasa untuk membuka sebuah galeri (pameran) yang bersifat umum untuk menarik perhatian manusia guna menyaksikan keagungan kekuasaannya, kekayaan dan kehebatannya. Hal tersebut dilakukan oleh Sang Penguasa agar ia dapat menyaksikan keindahan dan kesempurnaannya yang bersifat maknawi melalui dua sisi: lewat pandangannya yang tajam dan lewat pandangan pihak lain. Setelah galeri yang megah tersebut sempurna, sang Penguasa mengundang rakyatnya untuk menghadiri pameran yang diadakannya. Ia juga turut mengangkat salah seorang dari mereka sebagai utusan dan mengundangnya terlebih dahulu untuk datang ke istana galerinya, melewati tingkatan dari yang paling rendah hingga yang tertinggi seraya memperlihatkan kepada utusan tersebut gudang dari simpanan kegungan, kekuasaan, keajaiban kreasi dan sejumlah jejak kesempurnaannya. Kemudian Sang Penguasa menunjuk utusan tersebut menjadi pembimbing dan memperkenalkan Sang Penguasa berikut keajaiban dalam istana galerinya kepada rakyat yang masuk didalamnya. Utusan tersebut yang lalu memperkenalkan, mengajarkan dan menjelaskan segala hal yang ada di dalam istana galeri sang Penguasa tersebut. Ia membimbing mereka untuk berjalan dan berkeliling istana juga mendiktekan cara penghormatan kepada sang Penguasa agung yang tak terlihat sebagaimana yang telah diajarkan Sang Penguasa kepada dirinya. Kedua, terdapat seorang ilmuwan yang menulis karya menakjubkan berupa buku yang di setiap halamannya penuh dengan hakikat seperti yang terdapat dalam seratus buku. Setiap kata, huruf dan maknanya menjelaskan hakikat yang begitu mendalam tak ternilai oleh apapun. Maka secara tidak langsung, buku tersebut telah menerangkan kesempurnaan maknawi sang penulis yang mengagumkan lewat tulisan yang ada didalamnya. Agar hikmah tersebut tidak hilang dan lenyap tanpa guna, pasti sang ilmuwan tersebut akan mengajarkan beberapa orang yang ia pilih tentang makna dan hakikat dalam buku tersebut sampai ia memberikannya ijazah. Dari murid tersebut, ia akan memberitahukan dan mengajarkan hakikat itu kepada yang lainnya hingga nampaklah kesempurnaan yang tersembunyi didalamnya. Akhirnya, keindahan maknawi buku tersebut dapat disaksikan dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain sehingga buku tersebut disukai dan membuat penulisnya dicintai. Demikianlah, Said Nursi berupaya menjelaskan bahwa segala keindahan dan kesempurnaan maknawi Sang Pencipta yang ada dijagad raya (yang diumpamakan dengan istana galeri dengan keajaiban kreasi di dalamnya dan buku yang ditulis dengan berisikan hikmah yang tak terhingga) termasuk keindahan dan keajaiban yang belum dilihat oleh manusia biasa dalam peristiwa miraj, mengandung hikmah yang berasal dari sisi Allah SWT.

BUAH DAN FAEDAH ISRA MIRAJ

1.      Bentuk penyaksian rukun iman secara langsung.

2.      Turunnya perintah shalat sebagai pilar islam yang mulia.

3.      Penyaksian khazanah abadi sebagai hadiah kepada jin dan umat manusia.

Dalam peristiwa miraj, Nabi SAW menyaksikan khazanah abadi yakni surga dan segala bentuk menifestasi rahmat Allah SWT dengan haqqul yaqin dan secara pasti. Hal tersebut menjadi kunci bagi jin dan umat manusia secara keseluruhan. Said Nursi menjelaskan, bahwa buah miraj tidak hanya diperuntungkan bagi Rasulullah SAW. Sebab, apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan tersebut adalah sebuah hadiah kabar gembira akan adanya kebahagiaan abadi yang kelak juga dapat dirasakan oleh jin dan umat manusia. Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya di muka bumi telah membuktikan sendiri adanya kebahagiaan tersebut.

4.      Penyaksian keindahan Allah SWT Buah miraj keempat menurut Said Nursi menjadi inti dalam perjalanan ini yaitu menyaksikan keindahan Allah SWT. Kiranya hal tersebut menjadi obat bagi kerinduan seorang hamba kepada pencipta-Nya. Sejak sebelum memulai perjalanan isra miraj, Nabi SAW telah dipersiapkan lahir batin untuk bertemu Sang Khaliq. Dari mulai proses pensucian dengan pembelahan dada untuk menghilangkan segumpal darah hitam dan memenuhi hatinya dengan iman dan hikmah, hingga disediakannya kendaraan khusus (buraq) dengan pengawalan Jibril yang membawa Nabi SAW menjelajahi keindahan ciptaan-Nya di alam semesta. Setelah melakukan perjalanan di bumi dan di langit, sampailah Nabi SAW pada maqam Qaba Qausaini aw Adna atau jarak dua ujung busur panah bahkan lebih dekat lagi dengan Dzat Allah SWT. Hal ini menunjukkan kebesaran derajat, keluhuran maqam dan kedekatan Nabi SAW di sisi Allah SWT sebagai kekasih-Nya. Menurut al-Alusiy, maqam Qaba Qausaini aw Adna menjadi titik kulminasi dalam rihlah miraj setelah sebelumnya Nabi SAW melalui berbagai pengalaman spiritual yang tak dapat digambaran oleh katakata, melintasi tujuh langit, melampaui sidratul muntaha, mustawa> SarifalAqlam hingga tiba di Arsy.

5.      Pemahaman akan kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia Said Nursi menjelaskan kududukan manusia melalui peristiwa isra miraj. Menurutnya, manusia adalah salah satu buah alam yang berharga, makhluk yang mulia yang juga sangat dicintai Sang Pencipta. Dan buah yang baik tersebut dibawa oleh Rasulullah SAW lewat miraj sebagai hadiah bagi jin dan seluruh umat manusia. Buah tersebut telah mengangkat derajat manusia sebagai makhluk kecil yang lemah dengan perasaannya yang tak berdaya menuju kedudukan yang paling tinggi mengungguli seluruh makhluk. Dan buah tersebut mampu melahirkan rasa bahagia yang sulit dilukiskan.

MEMAHAMI ISRA MIRAJ DALAM TINJAUAN SAINS MODERN

Setidak-tidaknya, ada 8 kata kunci di dalam ayat tersebut yang bisa menuntun pemahaman kita tentang perjalanan malam Rasulullah SAW, yaitu:

1.      Maha Suci Allah yang, (Subhanalladzii)

2.      Memperjalankan (asraa)

3.      Hamba-Nya (abdihi)

4.      Malam Hari (Laila)

5.      Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Minai masjid al-haraam ilal masjid al-Aqsha)

6.      Kami berkati sekelilingnya (baaraknaa haulahu)

7.      Tanda-Tanda kebesaran Allah (Iinuriyahu min aayaatina)

8.      Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (innahu huwassamiiul bashiir).

Dalam QS. Luqman (31) : 27 Dan seandainya pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (Iagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Ayat di atas menggambarkan betapa dahsyat Kekuasaan dan Ilmu Allah. Manusia dan segala yang ada di alam semesta ini begitu kecilnya di hadapanNya. Kita tidak pernah bisa mengukur Ilmu dan Eksistensi-Nya. Karena Dia adalah Dzat yang Tiada Terbatas. Seberapa hebat pun yang telah kita pahami dari tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, ternyata baru sebagian kecil saja dari ilmu-ilmu Allah yang digelar.

Sebagai contoh, ilmu Allah yang terdapat pada tubuh manusia. Ilmu manusia ini dulunya di pelajari sebagai bagian dari Biologi. Disamping ilmu tumbuhan dan IImu hewan. Akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka para ilmuwan memandang perlu untuk memisahkan ilmu tentang manusia, untuk dipelajari secara lebih khusus. Kenapa demikian? Karena ternyata semakin lama semakin disadari bahwa ilmu tentang manusia semakin rumit dan mendalam. Sehingga, muncullah berbagai cabang ilmu tentang manusia. Ada yang belajar ilmu jiwa, ada yang belajar ilmu fisika Yang ilmu jiwa ada yang mengarah kepada penyakitpenyakit jiwa yang kemudian dipelajari dalam ilmu kedokteran jiwa. Tetapi ada juga yang mengarah kepada cara-cara mengoptimalkan kemampuan kejiwaan manusia, yang kemudian dipelajari sebagai ilmu psikologi. Kedua ilmu ini terus berkembang sampai sekarang dan nanti, sesuai perkembangan zaman.

QS. Ali Imran (3): 190-191

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata) " Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka." Di sini kita melihat, betapa pemahaman Rasulullah SAW terhadap ilmu Langit dan Bumi demikian mendalam. Tidak mungkin beliau bisa menangis seperti itu, kalau beliau tidak memahami. Padahal kita tahu, beliau bukanlah seorang ahli astronomi. Dan pasti beliau juga tidak pernah membaca atau mempelajari tentang astronomi, karena ilmu tersebut belum berkembang seperti di zaman Modern ini, yang telah dibantu dengan berbagai jenis teleskop canggih. Semua kefahaman Rasulullah SAW itu telah beliau dapatkan ketika mengalami peristiwa Isra Miraj. Bukan sekedar membaca, melainkan langsung mengalaminya, Dari langit pertama sampai langit yang ke tujuh, Batas pengetahuan Rasulullah SAW adalah Sidratul Muntaha, dimana beliau tidak mengetahui lagi apa-apa yang ada di balik Sidratul Muntaha. Maka ketika menerima wahyu itu, Rasulullah SAW seperti bemostalgia atas perjalanan Isra Miraj nya. Kalimat-kalimat yang yang termaktub dalam wahyu itu mengingatkan kembali penglihatan-penglihatan beliau saat melintasi dimensi-dimensi langit pertama sampal ke tujuh. Lebih jauh akan saya jelaskan di bagian lain buku ini, ketika membahas tentang Miraj Nabi. Dan selain mengingatkan kembali pada perjalanan Isra Miraj, Allah juga memberikan penegasan dalam firman itu, bahwa seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini adalah tanda-tanda kebesaran dan Keagungan Allah. Dan dengan tanda-tanda itu seorang mukmin bisa melakukan dzikir sekaligus berpikir sehingga menghasilkan kedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla,

Demikianlah, seluruh perjalanan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Palestina telah diceritakan Allah dalam ayat pertama surat Isra secara komprehensif. Disana tergambar seluruh situasi dan kondisi yang berlangsung selama perjalanan itu : 1. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Suci dan Maha Perkasa tiada bandingnya di jagat semesta. 2. Bahwa Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang telah mencapai tingkatan hamba, dan sengaja diperjalankan oleh-Nya untuk mencapal tingkat keyakinan yang lebih tinggi 3. Bahwa perjalanan itu adalah sebuah perjalanan misterius yang sangat dahsyat yang mengandung pelajaran sains dan teknologi mutakhir 4. Dan bahwa semua itu bermakna sebuah proses untuk mengenal dan mendekatkan diri kita kepada Allah, Sang Penguasa Alam semesta. Bukan hanya bagi Nabi Muhammad saw, melainkan juga bagi kita, umat Islam sampai akhir zaman.

REFERENSI :

Nurcholis Madjid, Pesan-Pesan Takwa. Jakarta: Penerbit Paramadina. 2003 Agus Mustofa, Terpesona di Sidratul Muntaha. Jakarta : Padma. 2004

http://www.iqra.rasaelalnour.com/2017/07/06/ Intan Pratiwi Mustikasari, Isra Miraj Persepektif Badi al- Zaman Said Nursi dan Relevansinya dalam Pembaharuan Iman. Tesis Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam Progam Studi Ilmu al-Quran dan Tafsir Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 2021