Napak Tilas Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW
Disampaikan dalam Majlis Tasbih oleh Fachrur Razi
Amir, M.Ag
Universitas Djuanda Bogor
Jumat, 3 Febuari 2023 / Rajab 1444 H
Melihat
Hikmah Miraj Melalui Analogi
Said
Nursi mengambil perumpamaan yang sebelumnya juga digunakan dalam menjelaskan
rahasia hikmah dan misteri alam dalam kalimat kesebelas sebagai berikut:
Pertama, terdapat seorang penguasa yang memiliki kekayaan berlimpah, gudang
yang penuh dengan emas intan berlian dan simpanan kekayaan yang tak terhitung
jumlahnya. Tak hanya itu, Sang Penguasa juga memiliki ilmu dan wawasan yang
luas, sejumlah skill dan kreasi yang indah. Kemudian muncul keinginan Sang
Penguasa untuk membuka sebuah galeri (pameran) yang bersifat umum untuk menarik
perhatian manusia guna menyaksikan keagungan kekuasaannya, kekayaan dan
kehebatannya. Hal tersebut dilakukan oleh Sang Penguasa agar ia dapat
menyaksikan keindahan dan kesempurnaannya yang bersifat maknawi melalui dua
sisi: lewat pandangannya yang tajam dan lewat pandangan pihak lain. Setelah
galeri yang megah tersebut sempurna, sang Penguasa mengundang rakyatnya untuk
menghadiri pameran yang diadakannya. Ia juga turut mengangkat salah seorang
dari mereka sebagai utusan dan mengundangnya terlebih dahulu untuk datang ke
istana galerinya, melewati tingkatan dari yang paling rendah hingga yang
tertinggi seraya memperlihatkan kepada utusan tersebut gudang dari simpanan
kegungan, kekuasaan, keajaiban kreasi dan sejumlah jejak kesempurnaannya.
Kemudian Sang Penguasa menunjuk utusan tersebut menjadi pembimbing dan
memperkenalkan Sang Penguasa berikut keajaiban dalam istana galerinya kepada
rakyat yang masuk didalamnya. Utusan tersebut yang lalu memperkenalkan,
mengajarkan dan menjelaskan segala hal yang ada di dalam istana galeri sang
Penguasa tersebut. Ia membimbing mereka untuk berjalan dan berkeliling istana
juga mendiktekan cara penghormatan kepada sang Penguasa agung yang tak terlihat
sebagaimana yang telah diajarkan Sang Penguasa kepada dirinya. Kedua, terdapat
seorang ilmuwan yang menulis karya menakjubkan berupa buku yang di setiap
halamannya penuh dengan hakikat seperti yang terdapat dalam seratus buku.
Setiap kata, huruf dan maknanya menjelaskan hakikat yang begitu mendalam tak
ternilai oleh apapun. Maka secara tidak langsung, buku tersebut telah
menerangkan kesempurnaan maknawi sang penulis yang mengagumkan lewat tulisan
yang ada didalamnya. Agar hikmah tersebut tidak hilang dan lenyap tanpa guna, pasti
sang ilmuwan tersebut akan mengajarkan beberapa orang yang ia pilih tentang
makna dan hakikat dalam buku tersebut sampai ia memberikannya ijazah. Dari
murid tersebut, ia akan memberitahukan dan mengajarkan hakikat itu kepada yang
lainnya hingga nampaklah kesempurnaan yang tersembunyi didalamnya. Akhirnya,
keindahan maknawi buku tersebut dapat disaksikan dan dirasakan manfaatnya oleh
orang lain sehingga buku tersebut disukai dan membuat penulisnya dicintai.
Demikianlah, Said Nursi berupaya menjelaskan bahwa segala keindahan dan
kesempurnaan maknawi Sang Pencipta yang ada dijagad raya (yang diumpamakan
dengan istana galeri dengan keajaiban kreasi di dalamnya dan buku yang ditulis
dengan berisikan hikmah yang tak terhingga) termasuk keindahan dan keajaiban
yang belum dilihat oleh manusia biasa dalam peristiwa miraj, mengandung hikmah
yang berasal dari sisi Allah SWT.
BUAH DAN FAEDAH ISRA MIRAJ
1. Bentuk penyaksian rukun iman secara langsung.
2. Turunnya perintah shalat sebagai pilar islam yang
mulia.
3. Penyaksian khazanah abadi sebagai hadiah kepada jin
dan umat manusia.
Dalam peristiwa miraj, Nabi SAW menyaksikan khazanah
abadi yakni surga dan segala bentuk menifestasi rahmat Allah SWT dengan haqqul
yaqin dan secara pasti. Hal tersebut menjadi kunci bagi jin dan umat manusia
secara keseluruhan. Said Nursi menjelaskan, bahwa buah miraj tidak hanya
diperuntungkan bagi Rasulullah SAW. Sebab, apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW
dari perjalanan tersebut adalah sebuah hadiah kabar gembira akan adanya
kebahagiaan abadi yang kelak juga dapat dirasakan oleh jin dan umat manusia.
Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya di muka bumi telah membuktikan sendiri adanya
kebahagiaan tersebut.
4. Penyaksian keindahan Allah SWT Buah miraj keempat
menurut Said Nursi menjadi inti dalam perjalanan ini yaitu menyaksikan
keindahan Allah SWT. Kiranya hal tersebut menjadi obat bagi kerinduan seorang
hamba kepada pencipta-Nya. Sejak sebelum memulai perjalanan isra miraj, Nabi
SAW telah dipersiapkan lahir batin untuk bertemu Sang Khaliq. Dari mulai proses
pensucian dengan pembelahan dada untuk menghilangkan segumpal darah hitam dan
memenuhi hatinya dengan iman dan hikmah, hingga disediakannya kendaraan khusus
(buraq) dengan pengawalan Jibril yang membawa Nabi SAW menjelajahi keindahan
ciptaan-Nya di alam semesta. Setelah melakukan perjalanan di bumi dan di
langit, sampailah Nabi SAW pada maqam Qaba Qausaini aw Adna atau jarak dua
ujung busur panah bahkan lebih dekat lagi dengan Dzat Allah SWT. Hal ini
menunjukkan kebesaran derajat, keluhuran maqam dan kedekatan Nabi SAW di sisi
Allah SWT sebagai kekasih-Nya. Menurut al-Alusiy, maqam Qaba Qausaini aw Adna
menjadi titik kulminasi dalam rihlah miraj setelah sebelumnya Nabi SAW melalui berbagai
pengalaman spiritual yang tak dapat digambaran oleh katakata, melintasi tujuh
langit, melampaui sidratul muntaha, mustawa> SarifalAqlam hingga tiba di
Arsy.
5. Pemahaman akan kedudukan manusia sebagai makhluk
yang mulia Said Nursi menjelaskan kududukan manusia melalui peristiwa isra miraj.
Menurutnya, manusia adalah salah satu buah alam yang berharga, makhluk yang
mulia yang juga sangat dicintai Sang Pencipta. Dan buah yang baik tersebut
dibawa oleh Rasulullah SAW lewat miraj sebagai hadiah bagi jin dan seluruh umat
manusia. Buah tersebut telah mengangkat derajat manusia sebagai makhluk kecil
yang lemah dengan perasaannya yang tak berdaya menuju kedudukan yang paling
tinggi mengungguli seluruh makhluk. Dan buah tersebut mampu melahirkan rasa bahagia
yang sulit dilukiskan.
MEMAHAMI ISRA MIRAJ DALAM TINJAUAN SAINS MODERN
Setidak-tidaknya, ada 8 kata kunci di dalam ayat
tersebut yang bisa menuntun pemahaman kita tentang perjalanan malam Rasulullah
SAW, yaitu:
1. Maha Suci Allah yang, (Subhanalladzii)
2. Memperjalankan (asraa)
3. Hamba-Nya (abdihi)
4. Malam Hari (Laila)
5. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Minai masjid
al-haraam ilal masjid al-Aqsha)
6. Kami berkati sekelilingnya (baaraknaa haulahu)
7. Tanda-Tanda kebesaran Allah (Iinuriyahu min
aayaatina)
8. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (innahu huwassamiiul
bashiir).
Dalam QS. Luqman (31) : 27 Dan seandainya
pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan
kepadanya tujuh laut (Iagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan
habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. Ayat di atas menggambarkan betapa dahsyat Kekuasaan dan Ilmu
Allah. Manusia dan segala yang ada di alam semesta ini begitu kecilnya di
hadapanNya. Kita tidak pernah bisa mengukur Ilmu dan Eksistensi-Nya. Karena Dia
adalah Dzat yang Tiada Terbatas. Seberapa hebat pun yang telah kita pahami dari
tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, ternyata baru sebagian kecil saja dari ilmu-ilmu
Allah yang digelar.
Sebagai contoh, ilmu Allah yang terdapat pada tubuh
manusia. Ilmu manusia ini dulunya di pelajari sebagai bagian dari Biologi.
Disamping ilmu tumbuhan dan IImu hewan. Akan tetapi seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan, maka para ilmuwan memandang perlu untuk memisahkan ilmu
tentang manusia, untuk dipelajari secara lebih khusus. Kenapa demikian? Karena
ternyata semakin lama semakin disadari bahwa ilmu tentang manusia semakin rumit
dan mendalam. Sehingga, muncullah berbagai cabang ilmu tentang manusia. Ada
yang belajar ilmu jiwa, ada yang belajar ilmu fisika Yang ilmu jiwa ada yang
mengarah kepada penyakitpenyakit jiwa yang kemudian dipelajari dalam ilmu kedokteran
jiwa. Tetapi ada juga yang mengarah kepada cara-cara mengoptimalkan kemampuan
kejiwaan manusia, yang kemudian dipelajari sebagai ilmu psikologi. Kedua ilmu
ini terus berkembang sampai sekarang dan nanti, sesuai perkembangan zaman.
QS. Ali Imran (3): 190-191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan Bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang
berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
Bumi (seraya berkata) " Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
Neraka." Di sini kita melihat, betapa pemahaman Rasulullah SAW terhadap
ilmu Langit dan Bumi demikian mendalam. Tidak mungkin beliau bisa menangis
seperti itu, kalau beliau tidak memahami. Padahal kita tahu, beliau bukanlah
seorang ahli astronomi. Dan pasti beliau juga tidak pernah membaca atau
mempelajari tentang astronomi, karena ilmu tersebut belum berkembang seperti di
zaman Modern ini, yang telah dibantu dengan berbagai jenis teleskop canggih.
Semua kefahaman Rasulullah SAW itu telah beliau dapatkan ketika mengalami
peristiwa Isra Miraj. Bukan sekedar membaca, melainkan langsung mengalaminya,
Dari langit pertama sampai langit yang ke tujuh, Batas pengetahuan Rasulullah
SAW adalah Sidratul Muntaha, dimana beliau tidak mengetahui lagi apa-apa yang
ada di balik Sidratul Muntaha. Maka ketika menerima wahyu itu, Rasulullah SAW
seperti bemostalgia atas perjalanan Isra Miraj nya. Kalimat-kalimat yang yang
termaktub dalam wahyu itu mengingatkan kembali penglihatan-penglihatan beliau
saat melintasi dimensi-dimensi langit pertama sampal ke tujuh. Lebih jauh akan
saya jelaskan di bagian lain buku ini, ketika membahas tentang Miraj Nabi. Dan
selain mengingatkan kembali pada perjalanan Isra Miraj, Allah juga memberikan
penegasan dalam firman itu, bahwa seluruh ciptaan Allah di alam semesta ini
adalah tanda-tanda kebesaran dan Keagungan Allah. Dan dengan tanda-tanda itu
seorang mukmin bisa melakukan dzikir sekaligus berpikir sehingga menghasilkan
kedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla,
Demikianlah, seluruh perjalanan Rasulullah SAW dari
Mekkah ke Palestina telah diceritakan Allah dalam ayat pertama surat Isra
secara komprehensif. Disana tergambar seluruh situasi dan kondisi yang
berlangsung selama perjalanan itu : 1. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Suci
dan Maha Perkasa tiada bandingnya di jagat semesta. 2. Bahwa Rasulullah SAW
adalah seorang manusia yang telah mencapai tingkatan hamba, dan sengaja
diperjalankan oleh-Nya untuk mencapal tingkat keyakinan yang lebih tinggi 3.
Bahwa perjalanan itu adalah sebuah perjalanan misterius yang sangat dahsyat yang
mengandung pelajaran sains dan teknologi mutakhir 4. Dan bahwa semua itu
bermakna sebuah proses untuk mengenal dan mendekatkan diri kita kepada Allah,
Sang Penguasa Alam semesta. Bukan hanya bagi Nabi Muhammad saw, melainkan juga
bagi kita, umat Islam sampai akhir zaman.
REFERENSI
:
Nurcholis
Madjid, Pesan-Pesan Takwa. Jakarta: Penerbit Paramadina. 2003 Agus Mustofa,
Terpesona di Sidratul Muntaha. Jakarta : Padma. 2004
http://www.iqra.rasaelalnour.com/2017/07/06/
Intan Pratiwi Mustikasari, Isra Miraj Persepektif Badi al- Zaman Said Nursi dan
Relevansinya dalam Pembaharuan Iman. Tesis Diajukan untuk Memenuhi Sebagian
Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam Progam Studi Ilmu al-Quran dan Tafsir Pascasarjana
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 2021