Pelanggan yang Antarodinminkum
Artikel ini dibuat untuk memperingati Hari Pelanggan Nasional
Oleh Rachmat Gunawam SE.,M.Si
Ketika senyummu hadir…., Ketika hati bicara…,
maka akan ingatlah ….dan akhirnya jadi cinta. Demikianlah proses yang terjadi saat
proses pemasaran suatu produk barang atau jasa yang terjadi diantara produsen dan
konsumennya. Konsumen yang menjadi target pasarnya sang Produsen akan menjadi
sasaran untuk komunikasi pemasaran sang Produsen yang berharap dengan proses
komunikasi pemasaran tersebut akan menumbuhkan ingatan Sang Konsumen pada
produk yang ditawarkan atau mind share, kemudian sang Konsumen akan
merasa produk tersebut akan menjadi pilihan hatinya atau heart share,
dan akhirnya konsumen memutuskan akan membeli produk tersebut melalui proses
transaksi jual beli atau ijab qabul yang diakhiri dengan produk berpindah
tangan kepada konsumen dan dana pembelian konsumen diserahkan pada produsen
atau disebut proses market share yang merupakan proses keputusan pembelian
konsumen. Setelah proses jual beli ini biasanya timbul rasa antaridunminkum
atau keikhlasan hati diantara Produsen dan Konsumen dimana masing-masing telah
mengikhlaskan transaksi murabahah atau jual beli tersebut seperti yang
dianjurkan dalam Quran surat An Nisa ayat 29 juga menurut konsep pemasaran syariah
dari Muhammad Syakir Sula dalam bukunya yang berjudul Marketing Syariah yang
diterbitkan pada tahun 2007. Kalau ditanyakan apakah hubungan konsumen dengan
pelanggan? Pelanggan adalah konsumen suatu produk baik barang maupun jasa yang
membeli produk tersebut secara berulang. Saat konsumen membeli suatu produk
secara berulang atau minimal membeli produk tersebut dua kali maka sebutannya
menjadi Pelanggan seperti yang telah dijelaskan seorang Phillip Kotler sang
Begawan Pemasaran Dunia dalam bukunya Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran atau Marketing
Principle tahun 2016. Ataupun definisi yang lainnya yaitu Pelanggan adalah
seseorang yang datang atau memiliki kebiasaan untuk membeli sesuatu dari
penjual yang meliputi aktivitas pembelian dan pembayaran secara berulang,
Rusydi,(2017:3).
Saat
mengucapkan kata Pelanggan yang terbersit dalam hati adalah seseorang yang
memiliki permasalahan akan suatu kebutuhan yang harus dipecahkan dan dicari
solusinya dan berharap akan ada suatu produk yang mampu memenuhi kebutuhannya
tersebut. Maka Sang Pelanggan berniat
tulus hati akan mencoba mencari tahu atau mensurvei dulu sebelum membeli suatu
produk barang atau jasa yang diinginkan dan berharap semoga produk yang akan
dibelinya tersebut dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan dalam kehidupan
sehari-harinya tersebut. Maka sang Pelanggan dengan wajah cerah ceria akan
datang menemui produsen mencari produk yang diinginkannya tersebut baik secara
online ataupun offline dan akan mencoba menanyakan segala hal dari produk. Berbagai
pertanyaan konsumen tersebut meliputi apakah produk tersebut memilliki benefit atau
manfaat yang sesuai dan akan menjadi solusi dari permasalahan kebutuhannya
tersebut, kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah informasi tentang
produk tersebut tersedia secara lengkap,
selain itu konsumen tersebut juga memperhitungkan nilai dari produk tersebut
dengan membandingkan antara manfaat dari membeli produk tersebut dibandingkan
biaya yang harus dikeluarkan sebagai harga pengorbanan untuk mendapatkan produk
tersebut, serta menilai apakah produk tersebut memiliki kemudahan atau akses
untuk dibeli dengan segera oleh Sang Pelanggan. Maka Sang Pelanggan akan mencoba untuk menilai
beberapa aspek tersebut dan menimbang-nimbang apakah produk tersebut cocok untuk
dibeli dan sesuai dengan kebutuhannya.
Saat
Sang Pelanggan datang menemui Sang Produsen maka Sang Produsen produk tersebut jika
berbentuk barang dengan penuh semangat mencoba menawarkan produk barangnya itu dengan menjelaskan tentang produk tersebut berdasarkan
kelengkapan produknya, menjelaskan
tentang harganya, dan mempromosikan berbagai hal tentang produk barang tersebut
kepada Sang Pelanggan dengan tidak lupa menjelaskan lokasi tempat penjualan
produk barang tersebut jika memang Sang
Pelanggan merasa cocok dan serius mau membeli produk tersebut. Selain itu sebagai
tambahan jika produknya berbentuk jasa maka Produsen diwakili oleh para
pemasarnya akan menjelaskan kepada konsumen melalui SDM pemasarannya yang
trampil dan memiliki penguasaan produk yaitu informasi pengetahuan tentang
produk tersebut, selain itu juga menjelaskan proses kepemilikan produk kemudian
juga pembuktian secara fisik jika produk itu berbentuk jasa agar mampu
meyakinkan konsumen untuk tertarik dan mau membeli produk jasa yang ditawarkannya
tersebut.
Istilah
Pelanggan berasal dari konsumen yang membeli produk barang atau jasa yang akan
bermetamorfosa menjadi pelanggan melalui proses yang bertahap yang dapat dilihat dari tingkat loyalitasnya.
Dan tahapan loyalitas konsumen menjadi pelanggan tersebut menurut Griffin dalam
bukunya berjudul Costumer Loyalty (2005) mengikuti tahapan-tahapan dengan
berbagai istilah sebagai berikut:
a) Suspect
meliputi
semua orang yang diyakini akan membeli barang atau jasa perusahaan tetapi belum
memiliki informasi mengenai perusahaan dan barang atau jasa yang ditawarkan.
b) Prospect
Adalah
orang-orang yang memiliki kebutuhan akan produk atau jasa tertentu dan memiliki
kemampuan untuk membelinya. Pada tahap ini, meskipun mereka belum melakukan
pembelian tetapi telah mengetahui keberadaan perusahaan barang atau jasa yang
ditawarkan melalui rekomendasi pihak lain (word
of mouth).
c) Disqualified Prospect
Yaitu
orang yang telah mengetahui keberadaan barang atau jasa tertentu, tetapi tidak
mempunyai kebutuhan akan barang atau jasa tersebut atau tidak mempunyai
kemampuan untuk membeli barang atau jasa tersebut.
d) First Time Customer
Yaitu
konsumen yang membeli untuk pertama kalinya. Mereka masih menjadi konsumen yang
baru.
e) Repeat Customer
Yaitu
konsumen yang telah melakukan pembelian suatu produk secara berulang. Mereka
adalah yang melakukan pembelian atas produk yang sama sebanyak dua kali, atau
membeli dua macam produk berbeda dalam dua kesempatan yang berbeda pula.
f) Client
Membeli
semua barang atau jasa yang ditawarkan dan mereka butuhkan. Meeka membeli
secara teratur, hubungan dengan jenis konsumen ini sudah kuat dang berlangsung
lama, yang membuat mereka tidak terpengaruh oleh produk pesaing.
g) Advocates
Seperti
halnya client, advocates membeli barang atau jasa yang ditawarkan dan mereka
butuhkan, seta melakukan pembelian secara teratur. Selain itu, mereka mendorong
teman-teman mereka agar membeli barang atau jasa perusahaan atau
merekomendasikan perusahaan tersebut kepada konsumen lain, dengan begitu secara
tidak langsung mereka telah melakukan pemasaran untuk perususahaan dan membawa
konsumen untuk perusahaan. Selain itu Jill Griffin (2002) mengatakan bahwa pelanggan yang loyal
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Melakukan pembelian berulang
secara teratur, yaitu tinggat frekuensi atau seringnya seseorang konsumen
melakukan pembelian secara berulang terhadap suatu merek produk perusahaan.
b) Membeli antar lini produk dan
jasa, yaitu tingkat kesediaan konsumen untuk membeli berbagi lini (variasi)
produk dan jasa sebuah perusahaan.
c) Mereferensikan kepada orang
lain, meliputi tingkat frekuensi atau seringnya seorang konsumen
merekomendasikan merek produk perusahaan tersebut pada konsumen lain untuk ikut
membeli produk dan selalu mendahulukan merek produk ini disbanding merek produk
pesaing.
d) Menunjukkan kekebalan terhadap
tarikan dari pesaing, meliputi konsumen kebal terhadap daya tarik produk
sejenis dari pesaing, konsumen menolak produk atau jasa dari pesaing dan
kelemahan produk atau jasa akan diberitahu kepada perusahaan langsung.
Melihat proses loyalitas konsumen
menuju pelanggan ini maka Universitas Djuanda Bogor atau sering disebut Unida merupakan
Lembaga jasa di bidang pendidikan tinggi yang memiliki slogan Kampus Bertauhid.
Unida meyakini bahwa segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia harus
bersandarkan pada Allah SWT yang Maha Esa. Kehidupan manusia harus menuju falah
atau kebahagiann yang selamat fidunya wal akhiratnya. Maka nilai kehidupan
kampus diusahakan bersandarkan pada nilai-nilai agama khususnya agama Islam.
Semua kehidupan kampus ingin berdasarkan
nilai-nilai Islam khususnya bersandar pada Quran dan Sunnah Rasul. Dan hal itu
dilaksanakan termasuk dalam aktivitas pemasaran kampus dalam rangka mencari
konsumennya yaitu para calon mahasiswa barunya. Para pemasar Universitas
Djuanda Bogor bersandarkan pada aturan dan memegang teguh etika atau akhlak
pemasaran yang sesuai syariah saat melaksanakan program pemasarannya yaitu
dengan mengikuti aturan dan nilai-nilai pemasarn Islami dengan ciri-ciri seperti:
1
Memiliki kepribadian spiritual (Takwa)
2
Berperilaku baik dan simpatik (shidiq)
3
Berlaku adil dalam bisnis (Al adl)
4
Bersikap melayani dan rendah hati (khidmah)
5
Menepati janji dan tidak curang
6
Jujur dan terpercaya (Al Amanah)
7
Tidak suka berburuk sangka (Suuzhan)
8
Tidak suka menjelek-jelekan (ghibah)
9
Tidak suka melakukan sogok (riswah), berdasarkan pendapat M Syakir Sula dalam
buku Marketing Syariah (2007).
Saat para pemasar Unida bertindak
mengikuti akhlak pemasaran syariah seperti yang telah dijelaskan di atas dan
mengaplikasikannya melalui proses pemasaran yang Islami antara pemasar Unida
dengan para konsumennya yang merupakan para siswa-siswi SMA/SMK dari seluruh
wilayah Indonesia ini Insya Allah akan
menghasilkan para konsumennya yaitu para mahasiswa Unida yang bersikap Islami.
Sikap mahasiswa Unida yang Islami ini sebagai pelanggan ditandai denga bersikap
tidak hanya sebagai konsumen saja tapi juga menuju sikap pelanggan yang
antarodinminkum atau yang ikhlas hati untuk memilih Unida sebagai kampus tempat
melanjutkan kuliah setelah lulus dari berbagai SMA/SMKnya. Para mahasiswa yang memilih masuk dan mendaftar menjadi mahasiswa Unida
dan menjadi pelanggan Unida ini menjadi pelanggan yang penuh keikhlasan hati
untuk tidak tertarik dengan tawaran dari kampus pesaing, selalu mengatakan
kebaikan tentang Unida sebagai kampus mereka, jika mengalami masalah dengan
Unida sebagai kampusnya berusaha menceritakan pada kalangan internal Unida
bukan pada pada masyarakat luas karena sebetulanya solusi dari permasalahan
yang dihadapinya tersebut ada dan bisa diselesaikan oleh orang-orang Unida
sendiri, selalu berusaha merekomendasikan Unida sebagai kampus yang baik untuk
melanjutkan kuliah selepas lulus dari SMA/SMK dengan mengajak keluarga, teman-teman
serta para tetangganya untuk memilih
kuliah S1 di Unida, kemudian hal lainnya yaitu juga akan bersikap sama dengan
pilihan kuliah lanjutannya setelah lulus S1 adalah memilih Unida sebagai tempat
kuliah selanjutnya di tingkat S2. Demikianlah penjelasan tentang Pelanggan ini
yang memang secara ciri-cirinya sesuai dengan pedoman agama yang sempurna ini
yang disebut Pelanggan yang antarodinminkum.
Sumber
Abubakar,
Rusydi, 2017, Manajemen Pemasaran, Angkasa, Yogjakarta
Griffin,
2005, Costumer Loyalty, Erlangga, Surabaya
Kotler,
Philip, and Keller, 2016, Marketing Management, Pearson Education, London
Sula,
M Syakir, 2007, Marketing Syariah, Mizan, Bandung