Pelestarian Wayang sebagai Budaya Dunia
ditulis Oleh : Dr. Ir. Setyono, M.Si
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Djuanda
Wayang termasuk salah satu pertunjukan drama tradisional yang sangat populer di Indonesia, yang melengkapi keanekaragaman budaya tanah air. Hingga saat ini pertunjukan wayang masih menjadi pertunjukan favorit bagi masyarakat Jawa, khususnya wayang kulit untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta wayang golek untuk Jawa Barat. Wayang kulit menggunakan boneka wayang yang dibuat dari kulit, sedangkan wayang golek menggunakan boneka wayang yang dibuat dari kayu. Yang menggunakan boneka wayang dari kayu, selain wayang golek juga wayang klitik.
Pada tahun 1970-an pertunjukan wayang diadakan pada acara hajatan pernikahan atau khitanan untuk orang yang tergolong mampu. Bagi yang kemampuannya biasa saja, biasanya hanya menyajikan lakon wayang melalui tape recorder. Dalam perkembangannya penyajian hiburan melalui tape recorder bergeser dari cerita wayang atau ketoprak menjadi alunan musik, dan bagi yang mampu menyajikan live music dengan mendatangkan artis lokal. Hiburan seperti ini yang banyak ditemui pada saat ini. Pagelaran wayang di acara hajatan pernikahan hanya dilakukan oleh orang yang menyelenggarakan pernikahan adat Jawa sepenuhnya. Rangkaian acara yang biasa dilakukan adalah pagi akad nikah, siang respesi dengan alunan live music, dan malamnya pagelaran wayang semalam suntuk.
Ketika hiburan belum banyak dan pertunjukan wayang masih banyak diselenggarakan, lakon wayang dipahami oleh banyak orang. Diskusi mengenai lakon wayang bagaikan membahas kejadian nyata, kalau ada yang berbeda dari pakem ada yang mengoreksi. Lakon wayang seakan-akan sejarah yang tidak boleh disampaikan secara salah. Siswa SD sudah paham tokoh wayang, berikut negara dan karakternya, selain itu juga hafal lakon wayang terutama yang sering dipertunjukkan. Generasi sekarang jarang yang paham lakon wayang, terhadap tokoh wayangpun mungkin belum tahu. Kalaupun tahu paling hanya tahu nama dan wajahnya, tidak tahu silsilah dan asal negaranya. Penurunan pertunjukan wayang atau pergeserannya ke live music sangat disayangkan, karena wayang tidak hanya sebagai hiburan, melainkan juga memiliki unsur filosofis, religius, pendidikan, kepahlawanan, dan estetika. Oleh sebab itu perlu pelestarian wayang sebagai budaya luhur yang tidak hanya di Indonesia melainkan juga di dunia.
Pengertian Wayang
Kata wayang berasal dari bahasa Jawa Kuno yakni wod dan yang, artinya gerakan yang berulang-ulang dan tidak tetap. Dengan arti kata itu maka dapat dikatakan bahwa wayang berarti wujud bayangan yang selalu bergerak-gerak. Wayang juga memiliki makna ayang-ayang (bayangan), karena yang dilihat adalah bayangan dalam kelir. Secara filosofis wayang tidak sekedar bayangan fisik, melainkan perwujudan angan-angan yang memiliki bentuk sesuai dengan apa yang dibayangkan. Misalnya tokoh baik digambarkan dengan badan kurus, mata tajam dan sebagainya, sedangkan tokoh jahat digambarkan dengan memiliki mulut lebar, muka merah, dan sebagainya.
Menurut definisi KBBI, wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, atau daerah lain yang memiliki kesenian wayang), biasanya dimainkan oleh seorang yang disebut dalang. Tentunya definisi tersebut tidak berlaku bagi wayang wong (wayang orang), yang meskipun juga diatur oleh dalang tetapi diperankan oleh orang bukan boneka.
Sebenarnya definisi KBBI terlalu sederhana, karena berbicara mengenai wayang akan menyangkut dimensi jenis (bahan) wayang, lakon wayang, dan seni pagelaran wayang. Jenis wayang bermacam-macam, antara lain wayang golek, wayang kulit, wayang wong, wayang thengul, dan wayang sasak. Wayang golek, wayang kulit, dan wayang wong menggunakan cerita dasar dari Mahabharata dan Ramayana. Wayang thengul menggunakan cerita sejarah di Pulau Jawa, biasanya cerita pada jaman Panji Asamarabangun dari Kerajaan Jenggala. Wayang sasak yang ada di Lombok menggunakan cerita Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW.
Asal-Usul Wayang
Terdapat beberapa pendapat mengenai asal usul wayang. Ada yang berpendapat bahwa wayang merupakan kesenian yang berasal dari China, ada yang mengatakan wayang berasal dari wiracarita Mahabharata dan Ramayana. Namun lebih banyak yang berpendapat bahwa wayang merupakan produk asli Indonesia khususnya Jawa. Hal ini dikaitkan dengan inisiasi dan penghormatan terhadap nenek moyang, serta diperkuat dengan istilah-istilah teknis dalam pertunjukan yang merupakan ciri khas Jawa. Kesenian wayang pun telah ditetapkan sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi yang indah dan berharga oleh UNESCO. Gelar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity untuk wayang diberikan oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003.
Sejalan dengan perjalanan waktu, terdapat perbedaan bentuk wayang antara bentuk pada mulanya dengan bentuk wayang sekarang. Bagaimana bentuk pertunjukan dan wayang pada awal mulanya tidak dapat diketahui secara pasti. Informasi tertua mengenai pertunjukan wayang termuat di dalam sebuah prasasti dari Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-9. Selanjutnya berkembang di era kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.
Jenis Wayang di Indonesia
Ada sekitar 60 jenis wayang yang tercatat dalam data Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Wilayah Indonesia yang luas dan beraneka ragam turut membuat wayang bervariasi dan berbeda-beda. Dari sekian banyak jenis wayang, terdapat beberapa wayang yang cukup populer di masyarakat Indonesia. Wayang kulit adalah salah satu yang cukup dikenal luas dengan seni pertunjukannya. Berikut ini disajikan lima jenis wayang di Indonesia yang paling popular.
- Wayang Golek
Wayang golek dipentaskan di wilayah Parahyangan, Jawa Barat dengan menggunakan Bahasa Sunda. Fungsi wayang golek pun berkembang seiring zaman dari seni pertunjukan menjadi seni kriya. Wayang golek merupakan seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda.
- Wayang Kulit
Kesenian wayang kulit ditemukan dalam budaya Jawa dan Bali. Narasi wayang kulit seringkali berkaitan dengan tema utama kebaikan melawan kejahatan. Wayang kulit terbuat dari bahan kulit kambing, sapi, atau kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, per buah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm.
- Wayang Wong
Wayang wong dalam bahasa Indonesia artinya wayang orang. Wayang ini menjadi bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari wayang kulit yang dipertunjukkan dalam bentuk berbeda. Wayang orang dilengkapi dengan tarian dan nyanyian, dan terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
- Wayang Beber
Wayang beber merupakan pertunjukan wayang yang disajikan dengan cara dibentangkan. Pada awalnya wayang beber merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyebarkan ajaran agama.
- Wayang Sasak
Wayang sasak adalah pemberian nama terhadap wayang kulit yang berkembang di Lombok. Kedatangan wayang di Lombok dipengaruhi oleh kedatangan agama Islam di sana. Cerita wayang di Lombok pada dasarnya mengambil cerita Menak yang bersumber dari Cerita Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW.
Wayang sebagai Budaya Dunia
Pada tahun 2026 hari wayang internasional jatuh pada hari Sabtu Pon, 31 Januari 2026 bertepatan dengan tanggal 12 Sya’ban 1447 H. Hari wayang internasional pertama kali digagas oleh para pemerhati seni budaya dan ditetapkan pada 31 Januari 2018 di India. Tanggal ini dipilih sebagai bentuk penghormatan atas pengakuan wayang oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2003. Sejak itu, hari wayang internasional dirayakan di berbagai negara untuk memperkuat posisi wayang sebagai seni pertunjukan tradisional yang mendunia.
Wayang menjadi pertunjukan yang mendunia karena wayang tidak hanya ada di Indonesia, melainkan juga di luar negeri antara lain di beberapa negara ASEAN, Tiongkok, dan India. Wayang di masing-masing negara memiliki gaya, bentuk, dan cerita yang khas, namun kebanyakan memiliki akar budaya yang sama. Jenis wayang yang paling popular adalah wayang kulit. Wayang kulit ada juga di Malaysia, Thailand, Kamboja, Tiongkok, India, Iran, dan Nepal. Beberapa negara di Eropa dan Amerika seperti Turki, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat sering mementaskan Javanese Shadow Theater. Di Meksiko wayang kulit dikenal dan diperkenalkan melalui komunitas seni.
Wayang Kulit
Cerita di wayang kulit lebih luas dan komprehensip dibandingkan cerita Mahabharata dan Ramayana. Mahabharata dan Ramayana adalah dua cerita yang terpisah, karena Ramayana digubah (dikarang) oleh Resi Walmiki, sedangkan Mahabharata digubah oleh Resi Byasa (Krisna Dwipayana). Sementara itu cerita pada wayang kulit bersambung mulai generasi Arjunasasrabahu, generasi Rama, dan generasi Pandawa, hingga generasi Parikesit yang merupakan cucu dari Arjuna yang tersisa setelah perang Baratayuda. Pada wayang kulit cerita itu dilengkapi dengan deskripsi karakter tokohnya, jenis musik sesuai kondisinya. Misal tembang Asmaradana untuk percintaan, tembang Pangkur untuk menggambarkan suasana marah.
Dalam satu set wayang kulit ada beberapa ratus watak; ada yang baik, ada yang jahat. Yang baik selalu dimainkan di sebelah kanan dalang, dan yang jahat dimainkan di sebelah kiri dalang. Boneka wayang yang tidak dipakai dipasang di sebuah batang pohon pisang yang ada di depan dalang. Di antara watak wayang yang terkenal adalah lima saudara Pandawa, mereka itu adalah Yudisthira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka adalah tokoh cerita Mahabharata yang menceritakan perang saudara.
Pada wayang kulit, dalang selalu duduk di belakang kelir untuk memainkan wayang. Keberadaan dalang penting sekali karena dia yang memainkan semua boneka wayang dan menyuarakan teks mereka. Dia juga yang bernyanyi dan yang memimpin gamelan wayang. Dalang tidak hanya ada pada wayang kulit, melainkan juga pada wayang wong (orang), meskipun orangnya dapat bergerak sendiri.
Alat musik yang paling penting dalam gamelan wayang adalah alat pukul yang namanya gender. Musik yang dimainkan berubah mengikuti cerita. Ki Dalang memakai pemukul kayu (cempala) dan kotak kayu besar, yang biasanya dipakai untuk menyimpan semua wayang, untuk memberitahu kepada pemain gamelan, musik macam apa yang harus dimainkan, apakah romantis, marah, atau kondisi lain.
Di antara semua jenis wayang, wayang kulit paling banyak memiliki makna, pelajaran, dan nilai-nilai, yang tidak hanya pada ceritanya, melainkan juga pada karakter pakaian, bentuk wayangnya, juga tembang (musik) yang mengiringinya.
Pembelajaran Masa Depan dari Wayang
Sebuah karya seni diciptakan berdasarkan pengetahuan pencipta karya tersebut pada zamannya. Bisa jadi pada suatu saat karya itu sangat bernilai, pada saat berikutnya menjadi tidak bernilai atau dianggap salah. Ini terjadi karena pengetahuan dan teknologi sudah berkembang. Meskipun wayang diciptakan sudah sejak lama, ada beberapa prediksi masa depan yang sudah dicerminkan dalam cerita. Kalau dinilai pada saat ini memang mekanismenya salah atau berbeda, tetapi idenya patut diacungi jempol. Berikut ini disajikan beberapa prediksi yang tersirat pada lakon wayang kulit.
- Belajar Daring
Durna adalah guru bela diri (olah kanuragan) pada zaman Pandawa-Kurawa. Orang yang dapat berguru ke Durna hanyalah kaum bangsawan. Palgunadi bukan kaum bangsawan tidak lulus penerimaan siswa baru, tetapi ingin belajar (berguru) ke Durna. Oleh sebab itu ia membuat patung Durna lalu berlatih memanah mandiri, dengan sesekali memberi hormat (sembah sungkem) kepada patung Durna, seolah-olah meminta wejangan. Akhirnya ia pandai memanah, bahkan pada suatu even lomba pernah melebihi kemampuan Arjuna yang menjadi murid asli Durna. Cerita ini memprediksi adanya pembelajaran secara daring yang ada sekarang, tentunya dengan keterbatasan pengetahuan saat itu, belum menggunakan internet melainkan patung.
- Bayi Tabung
Pada suatu saat Rama dan Sinta tergoda masuk ke suatu kolam yang jernih, padahal sudah dilarang oleh Laksmana (adik Rama) bahwa itu berbahaya. Akibatnya begitu Rama dan Sinta nyemplung ke kolam, mereka berubah wujud menjadi kera. Dalam wujud kera tersebut mereka melakukan senggama. Ketika mereka sudah kembali menjadi manusia, Rama meminta inang pengasuhnya memijid rahim Sinta untuk mengeluarkan zigot di dalamnya, lalu membungkusnya dengan daun budi. Setelah itu bungkusan zigot tersebut dilemparkan ke sendhang (semacam danau tertutup tempat mandi). Di sendhang tersebut ada Dewi Anjani yang sedang bertapa tidak akan makan, kecuali ada makanan yang datang. Berhubung datang sesuatu terbungkus daun, Dewi Anjani memakannya, lalu ia hamil dan melahirkan anak berwujud kera bernama Hanuman.
Cerita ini memprediksi dimungkinkannya pembesaran zigot di dalam rahim seseorang, meskipun zigot tersebut bukan hasil senggama pemilik rahim. Pada bayi tabung, meskipun yang hamil adalah ibu bayi (normalnya), namun proses kehamilannya tidak melalui senggama melainkan sudah menjadi zigot baru dimasukkan. Tentu saja cerita di wayang tersebut dibuat dengan keterbatasan yang dimiliki. Saat itu belum tahu cara memasukkan zigot ke dalam rahim, tahunya lubang masuk hanyalah mulut. Padahal kalau masuknya ke mulut muaranya ke lambung bukan ke rahim.
- Operasi Caesar
Dewi Kunti pernah mencuri ilmu belajar mendatangkan dewa. Saat akan mempraktekkan ilmu yang dipelajari, ia berpikir mendatangkan Batara Surya (dewa matahari). Ternyata ia sudah berhasil menguasai ilmu tersebut, muncullah matahari memberikan kehangatan dan kenikmatan pada sekujur tubuhnya, kemudian ia hamil. Sebagai putri raja Mandura, hamil di luar nikah tentu merupakan tamparan keras bagi raja, namun hasil pemeriksaan medis saat itu meyakinkan bahwa Dewi Kunti tidak melakukan tindakan asusila. Guna menghindari putri raja belum menikah tetapi sudah tidak perawan, akhirnya sang raja memerintahkan tabib agar melahirkannya melalui telinga, sehingga Dewi Kunti tetap perawan meskipun sudah punya anak bernama Karna.
Cerita ini memprediksi adanya operasi caesar, yaitu mengeluarkan bayi dengan cara membedah perut ibu. Tentu saja pengetahuan saat itu masih terbatas, belum terpikir adanya operasi bedah, belum terpikir bahwa saluran telinga dan saluran rahim itu berbeda. Namun pengarang lakon wayang sudah memprediksi bahwa pada suatu saat mungkin saja ada kelahiran bayi yang tidak melalui liang senggama.
- Menembus Ruang dan Waktu
Ada cerita wayang yang tidak pernah ditampilkan pagelarannya. Puntadewa atau Yudhistira adalah sulungnya Pandawa yang sangat sakti, tidak pernah marah, dan berumur panjang. Puntadewa hidup sampai jaman Parikesit, yaitu cucu Arjuna yang tersisa setelah perang bharatayuda. Bahkan diceritakan bahwa Puntadewa itu masih hidup hingga berjumpa Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri, dan tidak dapat mati hingga berjumpa dengan Sunan Kalijaga. Puntadewa punya jimat Kalimasada yang disimpan di gelungnya. Kepada Sunan Kalijaga Puntadewa curhat bahwa ia berasal dari generasi lampau yang masih hidup, tidak bisa mati, ia ingin seperti normalnya wayang. Sunan Kalijaga meminta Puntadewa mengambil jimatnya dan membaca tulisan yang ada di situ. Bacaannya adalah kalimat syahadat oleh sebab itu diberi nama kalimasada. Setelah membaca kalimat syahadat Puntadewa mati.
Cerita ini memberi 2 pesan, pertama berupa pesan yang biasa disampaikan oleh khatib saat khutbah Jumat, bahwa seseorang jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim. Yang kedua, cerita ini menggambarkan dunia wayang (karangan) masuk dunia ketoprak (sejarah), bahkan masuk ke dunia pengarangnya. Ini berarti menembus ruang dan waktu seperti teori relativitas Einstein. Ternyata itu merupakan prediksi film jaman sekarang. Ketika menemani anak menonton TV, di situ ditampilkan kombinasi antara orang dan kartun dalam satu film. Jaman sekarang, dengan bantuan artificial intelligent (AI) pernah ditunjukkan orang yang memposting dirinya masuk ke film Titanic dan berkomunikasi dengan tokoh dalam film tersebut. Jadi cerita khayal dalam wayang itu mampu memprediksi dunia film saat ini.
Harapan
Mengingat bahwa wayang khususnya wayang kulit sarat akan makna dan pelajaran, generasi sekarang sudah tidak mengenal wayang, maka wayang perlu dilestarikan dan disosialisasikan sebagai budaya dunia.