Pembelajaran Berbasis OBE, Mahasiswa FISIP UNIDA Perkuat Nilai Pancasila di Museum Balai Kirti
Upaya penguatan pemahaman nilai-nilai kebangsaan terus dilakukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda (UNIDA) melalui pembelajaran kontekstual. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan studi lapangan ke Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yang berada di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (17/1/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 96 mahasiswa bersama dosen FISIP UNIDA sebagai bagian dari proyek tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila yang dirancang menggunakan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Melalui kunjungan langsung ke museum, mahasiswa diajak memahami nilai-nilai kebangsaan melalui jejak sejarah kepresidenan Indonesia.
Mata kuliah ini diampu oleh koordinator dosen Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H bersama Faisal Tri Ramdani, S.Sos., M.A.P dengan penekanan pada penguatan implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman ini juga diharapkan mampu memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap nilai luhur, sejarah, serta kebudayaan bangsa yang sejalan dengan capaian pembelajaran mata kuliah Pendidikan Pancasila.
Dekan FISIP UNIDA, Dr. Hj. Rita Rahmawati, Dra., M.Si menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan pembelajaran berbasis pengalaman langsung tersebut. Menurutnya, metode pembelajaran semacam ini relevan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi mahasiswa.
“Kegiatan seperti ini sangat strategis dalam mendukung kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang kita terapkan. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi memahami bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupi oleh para pemimpin bangsa terdahulu. Museum Balai Kirti adalah laboratorium hidup yang sempurna untuk mempelajari jejak kepemimpinan dan kenegarawanan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Pancasila, Faisal Tri Ramdani, S.Sos., M.A.P menjelaskan bahwa pembelajaran di luar kelas memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengamati secara langsung berbagai artefak dan dokumentasi kepemimpinan nasional. Pengalaman ini diharapkan mampu memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap nilai luhur, sejarah, serta kebudayaan bangsa yang sejalan dengan capaian pembelajaran mata kuliah Pendidikan Pancasila.
“Tujuan utama kami membawa mahasiswa ke sini adalah agar mereka bisa melihat secara langsung milestone perjalanan bangsa melalui profil para presiden. Ini adalah metode pengajaran kontekstual, di mana mahasiswa kami ajak untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila yang tercermin dalam setiap kebijakan dan sejarah hidup presiden Indonesia. Harapannya, mereka dapat menyerap semangat kebangsaan tersebut dan menuangkannya dalam tugas proyek mereka,” jelas Faisal.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian kunjungan. Salah satu peserta, Wulan, menilai metode pembelajaran di museum memberikan pengalaman yang lebih bermakna.
“Belajar Pancasila di museum rasanya jauh lebih hidup dibandingkan hanya membaca buku teks. Di sini saya dan teman-teman bisa melihat barang-barang pribadi dan prestasi presiden kita secara langsung, yang membuat kami semakin bangga menjadi bagian dari Indonesia. Kunjungan ini membuka wawasan saya bahwa Pancasila itu nyata praktiknya dalam sejarah kepemimpinan negara kita,” ujarnya.
Rombongan yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Administrasi Publik dan Sains Komunikasi ini mengakhiri studi lapangan dengan diskusi kelompok sebagai bagian dari proses perumusan dan penyelesaian tugas proyek mata kuliah.