[email protected] 0251-8240773
Berita

Perguruan Amaliah Gelar Workshop Guru Hebat, Undang Pakar dari UNIDA sebagai Narasumber

Perguruan Amaliah, yang didalamnya terdiri dari sekolah-sekolah binaan Universitas Djuanda (UNIDA) adakan kegiatan Workshop Guru Hebat bertajuk “Pembinaan Guru Dikdasmen Perguruan Amaliah Ciawi Bogor” pada Selasa (04/07/2023) di Aula Gedung C UNIDA. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H. (Chancellor Universitas Djuanda), beserta Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I (Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda).

Pada kesempatan ini, Penasehat Bidang Pendidikan Tinggi Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd, beserta dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) UNIDA Dr. Irman Suherman, M.Pd dan Resti Yektyastuti, M.Pd diundang sebagai narasumber. Hadir juga sebagai narasumber lainnya, yakni Dosen Psikologi Universitas Ibn Khaldun Dr. Ridwan Haris, M.Ed.

Dalam paparannya, Penasehat Bidang Pendidikan Tinggi Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda, Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menyampaikan bahwasanya modal dasar bagi seorang guru adalah memiliki rasa kepedulian terhadap anak didiknya. Tidak hanya sebatas menyampaikan materi, seorang guru harus peduli terhadap masa depan anak didiknya.

“Bapak dan Ibu, menjadi guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi, akan tetapi, ada sesuatu di dalam diri kita yaitu kepedulian. Peduli kepada masa depan anak didik kita karena kita juga ingin anak kita memiliki masa depan yang baik. Jadi, modal yang paling utama bagi seorang guru bukan masalah tingginya gelar, bukan masalah kepemilikan sertifikasi sebagai seorang guru, tetapi modal dasar bagi seorang guru adalah kepedulian,” terangnya.

Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menjelaskan, pendidikan adalah cara memanusiakan manusia untuk menjadi manusia yang dilakukan oleh manusia secara manusiawi dan normatif.

“Pada hakikatnya, yang kita didik ini adalah manusia. Jadi kita perlakukan sebagai manusia untuk menjadi manusia dengan segala karakternya dan tentu hanya bisa dilakukan dengan cara-cara yang manusiawi. Ini bukan hanya sebatas menjadi seorang guru, tetapi sebagai pembimbing juga karena membimbing itu sifatnya mengarahkan dan tidak memaksakan. Oleh karena itu modal yang pertama pada saat kita bertemu dengan anak didik kita, pahami siapa dia dan kita perlakukan hal yang sama sebagai manusia,” jelasnya.

Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menambahkan bahwa sangat penting seorang guru memiliki sebuah personal branding yang positif. Hal ini dilakukan guna memberikan contoh yang baik bagi anak didik, juga untuk mengembangkan potensi serta membentuk watak dan karakter.

“Kita mempunyai kewajiban mengembangkan potensi anak untuk menjadi manusia. Apabila potensinya adalah pintar, maka kewajiban kita membuat dia menjadi orang yang pintar. Kita sudah diberikan potensi paling tidak 4 klasifikasi, yaitu satu dengan insting, kedua dengan panca indera, ketiga dengan meminta, dan yang ke empat dengan iman. Bagaimana itu semuanya bisa berkembang sebagai modal untuk menjadi manusia. Jadi, bisa disimpulkan bahwa manusia yang paling tinggi itu adalah manusia yang sudah sampai pada sebuah titik semua harus didasari dengan sebuah ketauhidan dan iman,” tambahnya.