Perguruan Amaliah Gelar Workshop Guru Hebat, Undang Pakar dari UNIDA sebagai Narasumber
Perguruan Amaliah, yang
didalamnya terdiri dari sekolah-sekolah binaan Universitas Djuanda (UNIDA) adakan
kegiatan Workshop Guru Hebat bertajuk “Pembinaan Guru Dikdasmen Perguruan
Amaliah Ciawi Bogor” pada Selasa (04/07/2023) di Aula Gedung C UNIDA. Kegiatan
tersebut turut dihadiri oleh Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H.
(Chancellor Universitas Djuanda), beserta Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I
(Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda).
Pada kesempatan ini, Penasehat
Bidang Pendidikan Tinggi Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda Prof. Dr. Uman
Suherman AS, M.Pd, beserta dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru
(FAIPG) UNIDA Dr. Irman Suherman, M.Pd dan Resti Yektyastuti, M.Pd diundang
sebagai narasumber. Hadir juga sebagai narasumber lainnya, yakni Dosen
Psikologi Universitas Ibn Khaldun Dr. Ridwan Haris, M.Ed.
Dalam paparannya, Penasehat
Bidang Pendidikan Tinggi Yayasan Pendidikan Amaliah Djuanda, Prof. Dr. Uman
Suherman AS, M.Pd menyampaikan bahwasanya modal dasar bagi seorang guru adalah
memiliki rasa kepedulian terhadap anak didiknya. Tidak hanya sebatas
menyampaikan materi, seorang guru harus peduli terhadap masa depan anak
didiknya.
“Bapak dan Ibu, menjadi guru
tidak hanya sebatas menyampaikan materi, akan tetapi, ada sesuatu di dalam diri
kita yaitu kepedulian. Peduli kepada masa depan anak didik kita karena kita
juga ingin anak kita memiliki masa depan yang baik. Jadi, modal yang paling
utama bagi seorang guru bukan masalah tingginya gelar, bukan masalah
kepemilikan sertifikasi sebagai seorang guru, tetapi modal dasar bagi seorang guru
adalah kepedulian,” terangnya.
Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menjelaskan,
pendidikan adalah cara memanusiakan manusia untuk menjadi manusia yang
dilakukan oleh manusia secara manusiawi dan normatif.
“Pada hakikatnya, yang kita didik
ini adalah manusia. Jadi kita perlakukan sebagai manusia untuk menjadi manusia
dengan segala karakternya dan tentu hanya bisa dilakukan dengan cara-cara yang
manusiawi. Ini bukan hanya sebatas menjadi seorang guru, tetapi sebagai
pembimbing juga karena membimbing itu sifatnya mengarahkan dan tidak
memaksakan. Oleh karena itu modal yang pertama pada saat kita bertemu dengan anak
didik kita, pahami siapa dia dan kita perlakukan hal yang sama sebagai
manusia,” jelasnya.
Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menambahkan
bahwa sangat penting seorang guru memiliki sebuah personal branding yang
positif. Hal ini dilakukan guna memberikan contoh yang baik bagi anak didik, juga
untuk mengembangkan potensi serta membentuk watak dan karakter.
“Kita mempunyai kewajiban mengembangkan potensi anak untuk menjadi manusia. Apabila potensinya adalah pintar, maka kewajiban kita membuat dia menjadi orang yang pintar. Kita sudah diberikan potensi paling tidak 4 klasifikasi, yaitu satu dengan insting, kedua dengan panca indera, ketiga dengan meminta, dan yang ke empat dengan iman. Bagaimana itu semuanya bisa berkembang sebagai modal untuk menjadi manusia. Jadi, bisa disimpulkan bahwa manusia yang paling tinggi itu adalah manusia yang sudah sampai pada sebuah titik semua harus didasari dengan sebuah ketauhidan dan iman,” tambahnya.
