Peringati Hari Kebangkitan Nasional, BYC Library UNIDA Bedah Buku “Di Balik Layar Nusantara” Karya Dian Rana
Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, BYC Library Universitas Djuanda (UNIDA) menggelar kegiatan bedah buku karya Dian Rana, berjudul “Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar” pada Rabu (20/5/2026). Kegiatan yang diselenggarakan di Perpustakaan UNIDA tersebut turut menghadirkan para akademisi dan pakar hukum sebagai penanggap, yakni Wakil Rektor I UNIDA Dr. Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H, Dekan Fakultas Hukum UNIDA Assoc. Prof. Dr. Nurwati, S.H., M.H, serta Dosen Program Doktor Hukum Sekolah Pascasarjana UNIDA Dr. Achmad Jaka Santos Adiwijaya S.H., LLM.
Kegiatan bedah buku ini menjadi ruang diskusi akademik yang mengupas isi buku dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek sosial, sejarah, hingga kebijakan pembangunan nasional. Acara diikuti oleh civitas akademika, peneliti, mahasiswa, praktisi hukum, dan tamu undangan lainnya.
Rektor UNIDA, Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan bedah buku yang dinilai mampu memperkuat budaya literasi dan tradisi akademik di lingkungan kampus.
“Saya merasa senang hari ini kita dapat melaksanakan kegiatan bedah buku. Beberapa waktu lalu kami juga maraton menyelenggarakan kegiatan bedah buku dalam rangka milad. Buku-buku yang dibahas merupakan karya para dosen, dan hari ini alhamdulillah kita dapat mendiskusikan karya luar biasa dari Pak Dian Rana,” ujarnya.
Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I mengaku tertarik dengan sudut pandang yang dihadirkan penulis dalam buku tersebut karena dinilai mampu membawa pembaca melihat sisi lain dari pembangunan IKN.
“Kalau saya melihat sekilas, Pak Dian ini seolah tidak hanya berjalan di tengah pembangunan IKN, tetapi juga menelusuri sejarah dan pemikiran di baliknya. Sebab, sebagai masyarakat Indonesia, kita semua tentu menunggu dan ingin tahu seperti apa nantinya Ibu Kota Nusantara ini akan terwujud,” katanya.
Dalam pemaparannya, Dian Rana menjelaskan bahwa Di Balik Layar Nusantara bukan sekadar autobiografi, melainkan catatan perjalanan seorang warga yang secara tidak terduga berada di tengah arus perubahan besar dalam sejarah Indonesia.
Dian Rana dikenal sebagai dokumentator independen Indonesia yang aktif mendokumentasikan pembangunan IKN sejak tahap awal pembangunan di Kalimantan Timur. Lahir di Bandung dan tumbuh di lingkungan desa transmigrasi di Sulawesi Tengah, ia menjalani masa kecil penuh keterbatasan yang membentuk pandangannya terhadap perubahan sosial dan pentingnya dokumentasi sebagai jejak sejarah.
Keterlibatannya dalam mendokumentasikan IKN bermula dari rasa penasaran pribadi terhadap perubahan besar yang tengah berlangsung di Indonesia. Tanpa berafiliasi dengan institusi tertentu, Dian secara mandiri hadir dan merekam berbagai proses pembangunan serta dinamika sosial masyarakat di sekitar kawasan IKN.
“Buku ini merekam perjalanan hidup yang sangat personal, mulai dari masa kecil, fase bertahan dalam kehidupan, hingga akhirnya terlibat dalam dokumentasi pembangunan IKN. Semua berangkat dari langkah kecil dan rasa penasaran,” ujar Dian Rana.
Ia menjelaskan, buku tersebut terbagi dalam tiga fase utama, yakni Akar Kehidupan, Jalan Panjang, dan Di Balik Layar Nusantara: Langkah Kecil di Tengah Sejarah Besar. Pada bagian akhir, penulis menceritakan pengalamannya mendokumentasikan tahap awal pembangunan IKN secara mandiri, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi selama proses tersebut.
“Ketika mulai mendokumentasikan IKN, saya tidak pernah membayangkan bahwa karya-karya tersebut akan menyebar luas dan menjadi perhatian publik. Ada keterbatasan akses, tekanan untuk menghapus dokumentasi, sampai akhirnya saya sadar bahwa saya bukan hanya menyaksikan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari narasi itu sendiri,” katanya.
Melalui media sosial, Dian sempat dikenal luas dengan sebutan “YouTuber IKN” karena konsistensinya mendokumentasikan perkembangan kawasan IKN dari lapangan. Dokumentasinya tidak hanya menyoroti pembangunan fisik, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat lokal, perubahan sosial, serta dinamika manusia yang sering kali luput dari perhatian dalam proyek pembangunan berskala besar.
Perspektifnya mengenai pembangunan IKN bahkan mendapat perhatian media internasional Rest of World yang menyoroti pentingnya suara lokal dalam narasi pembangunan ibu kota baru Indonesia. Sebagian dokumentasinya kini juga tengah diproses untuk ditetapkan sebagai Arsip Statis oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Setelah menerbitkan buku tersebut, Dian memutuskan untuk tidak lagi berfokus pada peliputan lapangan secara rutin di media sosial. Ia kini memilih melanjutkan kontribusinya melalui upaya dokumentasi dan pelestarian arsip jangka panjang. Sekitar 1.200 video dokumentasi yang direkam sejak 2021 pun direncanakan akan diserahkan secara bertahap kepada ANRI sebagai bagian dari pelestarian dokumentasi awal pembangunan IKN.
Salah satu penanggap, Dr. Achmad Jaka Santos Adiwijaya S.H., LLM menilai buku tersebut menghadirkan sudut pandang yang berbeda dibandingkan narasi pembangunan pada umumnya.
“Biasanya pembangunan dilihat dari perspektif negara atau pengambil kebijakan. Buku ini justru memperlihatkan bagaimana warga biasa dapat menjadi saksi sekaligus bagian penting dalam dokumentasi sejarah pembangunan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H menyebut buku karya Dian Rana memiliki nilai sosial dan historis yang kuat karena disampaikan melalui pengalaman langsung.
“Sudut pandang seperti ini jarang ditemukan, karena yang disampaikan adalah catatan seorang warga yang hadir, melihat, dan merekam perubahan besar tersebut secara langsung. Itu membuat buku ini terasa hidup dan autentik sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang sedang berlangsung,” ungkapnya.
Adapun Assoc. Prof. Dr. Nurwati, S.H., M.H menilai kegiatan bedah buku seperti ini penting dalam membangun budaya literasi dan pemikiran kritis di lingkungan kampus.
“Kegiatan akademik seperti ini mampu membuka ruang dialog yang lebih luas, memperkuat budaya membaca, dan mendorong mahasiswa untuk melihat isu pembangunan dari berbagai perspektif,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dengan narasumber serta para penanggap. Selain membahas substansi buku, forum tersebut juga menjadi wadah refleksi mengenai pentingnya dokumentasi sejarah dari sudut pandang masyarakat.