[email protected] 0251-8240773
Informasi

Perkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa dengan Toleransi Antar Umat Beragama

Tulisan dalam rangka Peringatan Hari Agama Sedunia (16 Januari 2024)

Oleh Muhammad Amin, S.H.I., M.Si (Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda)

Hari Agama Sedunia diperingati pada hari Ahad di ketiga bulan Januari setiap tahunnya, dan merupakan pengingat akan perlunya keharmonisan dan pemahaman antara agama dan sistem kepercayaan. Pada hari ini, komunitas-komunitas yang berbeda agama memiliki kesempatan untuk berkumpul dan mendengarkan satu sama lain, serta merayakan perbedaan dan persamaan yang dihasilkan oleh perpaduan budaya dan agama. Ada sekitar 4.200 agama di seluruh dunia. Meskipun banyak orang menjalani hidup tanpa agama, kepercayaan pada makhluk atau kekuasaan yang lebih tinggi dianut oleh sebagian besar orang. Apa pun alasannya, kita semua mendukung gagasan bahwa orang-orang bisa bersatu meski ada perbedaan, dan merayakannya.

Peringatan resmi pertama Hari Agama Sedunia (seperti yang dikenal saat ini), dilakukan pada tahun 1950, namun konsepnya dimulai beberapa tahun sebelumnya. Di Portland, Maine, Majelis Spiritual Nasional Kepercayaan Baha’i mengadakan ceramah di Eastland Park Hotel pada bulan Oktober 1947, yang berpuncak pada keputusan untuk mengadakan acara tahunan, yang kemudian dikenal sebagai Perdamaian Dunia Melalui Agama Dunia. Pada tahun 1949, acara tersebut mulai diamati di wilayah lain di Amerika Serikat dan menjadi lebih populer. Mulai tahun 1950, hari ini dikenal sebagai Hari Agama Sedunia. Pada hari ini, di berbagai lokasi berbeda, banyak penulis, pendidik, dan filsuf diundang untuk berbicara tentang agama-agama dunia dan pentingnya membangun dan menjaga keharmonisan di antara agama-agama tersebut. Ini adalah forum yang baik untuk belajar lebih banyak tentang agama dan budaya lain, dan kesempatan untuk berbaur secara sosial dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dan pandangan dunia.

Universitas Djuanda Bogor sebagai kampus bertauhid menegaskan perannya sebagai pilar pemersatu bangsa dengan sikap toleransi yang tepat sesuai teladan Rasulullah SAW, rahmatan lil aalamiin. Sikap toleransi sangatlah penting sebagai alat pemersatu bangsa. Tanpa adanya toleransi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan perbedaan ini tidak akan pernah bersatu. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan yang cukup tinggi. Suku, budaya, dan agama yang cukup beragam dan bahasa daerah yang cukup banyak, maka sangat dibutuhkan sikap toleransi yang diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya. Setiap orang harus saling mengerti dan memahami akan arti perbedaan.

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama, bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Fakta-fakta historis menunjukan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing atau ghorib. Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga pada akhirnya menjadi praktik kesejahteraan dalam masyarakat Islam. Mari bersama-sama kita perkuat persatuan dan kesatuan bangsa ini dengan saling menghargai kepercayaan masing-masing.