Perkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa dengan Toleransi Antar Umat Beragama
Tulisan dalam rangka Peringatan Hari Agama Sedunia (16 Januari 2024)
Oleh Muhammad Amin, S.H.I., M.Si (Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda)
Hari Agama Sedunia
diperingati pada hari Ahad di ketiga bulan Januari setiap tahunnya, dan
merupakan pengingat akan perlunya keharmonisan dan pemahaman antara agama dan
sistem kepercayaan. Pada hari ini, komunitas-komunitas yang berbeda agama memiliki
kesempatan untuk berkumpul dan mendengarkan satu sama lain, serta merayakan
perbedaan dan persamaan yang dihasilkan oleh perpaduan budaya dan agama. Ada
sekitar 4.200 agama di seluruh dunia. Meskipun banyak orang menjalani hidup
tanpa agama, kepercayaan pada makhluk atau kekuasaan yang lebih tinggi dianut
oleh sebagian besar orang. Apa pun alasannya, kita semua mendukung gagasan
bahwa orang-orang bisa bersatu meski ada perbedaan, dan merayakannya.
Peringatan resmi pertama Hari
Agama Sedunia (seperti yang dikenal saat ini), dilakukan pada tahun 1950, namun
konsepnya dimulai beberapa tahun sebelumnya. Di Portland, Maine, Majelis
Spiritual Nasional Kepercayaan Baha’i mengadakan ceramah di Eastland Park Hotel
pada bulan Oktober 1947, yang berpuncak pada keputusan untuk mengadakan acara
tahunan, yang kemudian dikenal sebagai Perdamaian Dunia Melalui Agama Dunia.
Pada tahun 1949, acara tersebut mulai diamati di wilayah lain di Amerika
Serikat dan menjadi lebih populer. Mulai tahun 1950, hari ini dikenal sebagai
Hari Agama Sedunia. Pada hari ini, di berbagai lokasi berbeda, banyak penulis,
pendidik, dan filsuf diundang untuk berbicara tentang agama-agama dunia dan
pentingnya membangun dan menjaga keharmonisan di antara agama-agama tersebut.
Ini adalah forum yang baik untuk belajar lebih banyak tentang agama dan budaya
lain, dan kesempatan untuk berbaur secara sosial dengan orang-orang yang
berbeda keyakinan dan pandangan dunia.
Universitas Djuanda Bogor
sebagai kampus bertauhid menegaskan perannya sebagai pilar pemersatu bangsa
dengan sikap toleransi yang tepat sesuai teladan Rasulullah SAW, rahmatan
lil aalamiin. Sikap toleransi sangatlah penting sebagai alat pemersatu
bangsa. Tanpa adanya toleransi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan
perbedaan ini tidak akan pernah bersatu. Indonesia merupakan salah satu negara
dengan tingkat kemajemukan yang cukup tinggi. Suku, budaya, dan agama yang
cukup beragam dan bahasa daerah yang cukup banyak, maka sangat dibutuhkan sikap
toleransi yang diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya.
Setiap orang harus saling mengerti dan memahami akan arti perbedaan.
Dalam konteks toleransi
antar-umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam
agama, bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh
populer dari toleransi dalam Islam. Fakta-fakta historis menunjukan bahwa
masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing atau ghorib.
Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya
kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian
rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan
baru sehingga pada akhirnya menjadi praktik kesejahteraan dalam masyarakat Islam.
Mari bersama-sama kita perkuat persatuan dan kesatuan bangsa ini dengan saling
menghargai kepercayaan masing-masing.