[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Ramadhan: Jalan Mencapai Taqwa dengan Menjaga Akuntabilitas dan Respeksitas sebagai Insan Kampus Bertauhid

Disampaikan pada Kuliah Ramadhan Masjid Baitul Hamdi

Oleh: Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H (Chancellor Universitas Djuanda)

23 Februari 2026 / 5 Ramadhan 1447 H

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad teladan integritas sepanjang zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah. Kita sedang berada di bulan yang bukan sekadar bulan ibadah. Ramadhan adalah bulan pendidikan. Bukan pendidikan teori, tetapi pendidikan karakter. Dan pertanyaan terbesarnya adalah: Apakah Ramadhan hanya kita jalani? Atau Ramadhan benar-benar mengubah kita?

MAKNA PUASA

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa jelas: taqwa.

Bukan lapar, Bukan haus, Bukan ritual, Tetapi taqwa. Apa itu taqwa? Allah juga berfirman:

“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Taqwa adalah kesadaran bahwa kita selalu diawasi Allah — bahkan saat tidak ada manusia melihat. Orang berilmu bisa pintar, Orang bertaqwa pasti benar.

RAMADHAN MELATIH AKUNTABILITAS

Puasa adalah pelatihan kejujuran paling jujur, Dalam hadits qudsi, Rasulullah bersabda:

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenapa puasa begitu istimewa? Karena tidak ada kamera, Tidak ada pengawas, Tidak ada absen. Tetapi kita tetap tidak makan, Kenapa? Karena kita sadar: Allah melihat. Itulah akuntabilitas sejati. Allah menegaskan: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)

Dan Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di kampus:

  • mahasiswa diuji kejujuran akademiknya
  • dosen diuji kejujuran ilmunya
  • pimpinan diuji kejujuran kebijakannya

Jika puasa kita benar, maka setelah Ramadhan kita tidak hanya rajin ibadah, tetapi juga jujur dalam amanah.

RESPEKSITAS: ADAB ORANG BERTAQWA

Hadirin... Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Ilmu dengan adab melahirkan peradaban. Allah berfirman: “Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain... dan janganlah saling mencela dan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Respeksitas artinya memuliakan orang lain. Allah juga menegaskan: “Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam.” (QS. Al-Isra: 70)

Setiap manusia adalah ciptaan Allah. Bukan objek ego kita. Ramadhan melatih kita menahan lisan. Jika lisan saja kita jaga, mengapa tulisan kita kadang melukai? Jika perut saja kita tahan, mengapa ego kita tidak kita kendalikan?

IDENTITAS INSAN KAMPUS BERTAUHID

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Insan Kampus Bertauhid bukan sekadar cerdas. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Ia adalah manusia yang:

  • Benar ketika sendiri
  • Adil ketika berkuasa
  • Rendah hati ketika dipuji
  • Sabar ketika diuji

Kampus boleh meluluskan sarjana. Tetapi hanya taqwa yang meluluskan manusia di hadapan Allah.

Saudara-saudara...

Ramadhan ini sebenarnya sedang mengaudit kita. Allah mengingatkan: “Pada hari ketika segala rahasia diuji.” (QS. At-Tariq: 9)

Dan Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Jika setelah Ramadhan:

  • Integritas kita naik
  • Adab kita membaik
  • Amanah kita terjaga, maka puasa kita hidup. Tetapi jika tidak... Mungkin yang berpuasa hanya tubuh kita, bukan jiwa kita.

Mari jadikan Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan perubahan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Karena sesungguhnya:

Taqwa bukan gelar spiritual. Taqwa adalah reputasi moral kita di hadapan Allah.

Wallahu a‘lam bish-shawab.