Rangkaian GEMILANG 2025, FEB UNIDA Gelar Webinar Nasional Cerdas Berinvestasi Membangun Ekonomi Kreatif Lokal
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Cerdas Berinvestasi Membangun Ekonomi Kreatif Lokal”, Sabtu (12/7/2025). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian acara GEMILANG 2025 ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
Webinar menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang, yakni H. Ilham Permana, S.E., M.M (Anggota Komisi VII DPR RI dan Dewan Penyantun UNIDA), Prof. Dr. Indra Maipita, S.Pd., M.Si., Ph.D (Guru Besar Universitas Negeri Medan), dan Maulita Putri D., S.Pt., M.Si (Pelaku UMKM lokal). Kegiatan dipandu oleh Musa Mulyadi, S.M., M.M, dosen FEB UNIDA.
Ketua BEM FEB UNIDA, M. Mursidi Heryadi, mengatakan bahwa tujuan webinar ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya investasi cerdas guna memperkuat sektor ekonomi kreatif lokal.
“Dengan menghadirkan perspektif dari legislatif, praktisi UMKM, hingga akademisi, webinar ini diharapkan dapat memicu semangat generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan ekonomi kreatif yang berdampak nyata di daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Dekan FEB UNIDA, Prof. Dr. Sri Harini, M.Si menuturkan bahwa ekonomi kreatif telah menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini bukan hanya menyumbang PDB, tetapi juga membuka lapangan kerja yang luas dan mendorong inovasi dari akar rumput, dari desa hingga kota, dari komunitas lokal hingga industri digital nasional. Namun, semua potensi itu memerlukan dukungan dari aspek permodalan dan investasi yang cerdas, tepat guna, dan berbasis keberlanjutan.
“Sebagai institusi pendidikan tinggi, FEB UNIDA memiliki tanggung jawab untuk membentuk insan-insan muda yang melek investasi, melek teknologi, kritis terhadap dinamika ekonomi, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, seminar seperti ini menjadi bagian penting dalam link and match antara dunia akademik dan realitas lapangan,” tuturnya.
Senada dengan itu, Wakil Rektor I UNIDA, Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H yang hadir mewakili Rektor, secara resmi membuka kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional.
“Melalui kegiatan ini, kita akan memperoleh insight yang lebih mendalam, baik dari sisi arah kebijakan pengembangan sistem ekraf, pendekatan keilmuan, maupun kebutuhan praktis di lapangan,” jelasnya.
Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H juga mengaitkan kegiatan ini dengan 21 Nilai Karakter Tauhid (NKT) yang menjadi dasar pembentukan karakter di UNIDA, yang mana creativity merupakan salah satu nilai penting yang mencerminkan kontribusi insan UNIDA dalam menciptakan dampak ekonomi dan sosial.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada FEB yang telah mempersiapkan webinar ini dengan baik. Masukan serta kesimpulan dari diskusi hari ini bersama kita rangkum dan susun menjadi resume yang akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan arah pengembangan ekonomi kreatif, khususnya di wilayah Bogor,” tambahnya.
Sementara itu dalam sesi pemaparan, Prof. Dr. Indra Maipita, S.Pd., M.Si., Ph.D menyampaikan materi berjudul "Technopreneurship Indonesia dalam Merespon Society 5.0". Menurutnya, technopreneurship bukan sekadar tentang menciptakan usaha berbasis teknologi, namun juga bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah bagi individu maupun masyarakat secara menyeluruh.
Lebih lanjut Prof. Dr. Indra Maipita, S.Pd., M.Si., Ph.D mengidentifikasi empat tantangan utama dalam pengembangan technopreneurship di Indonesia, yakni akses ke pendanaan yang masih menjadi hambatan signifikan bagi pelaku usaha rintisan teknologi, infrastruktur digital terutama di daerah yang belum memiliki akses internet yang merata, keterbatasan tenaga kerja terampil yang menjadi tantangan dalam menciptakan inovasi dan daya saing, serta regulasi dan kebijakan pemerintah yang perlu lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ekosistem start-up.
“Technopreneurs berperan sebagai agen perubahan yang membantu masyarakat untuk beradaptasi dan beralih ke era Society 5.0,” jelasnya dalam pemaparan.
Pemateri selanjutnya, Anggota Komisi VII DPR RI, H. Ilham Permana, S.E., M.M menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini bukan lagi pelengkap, tetapi telah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional dari level daerah.
Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ke-3 dunia dalam kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), hanya berada di bawah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Ia juga menyampaikan proyeksi bahwa pada tahun 2024, sektor ini akan berkontribusi sebesar Rp1.532 triliun terhadap PDB nasional.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa sebanyak 26,47 juta tenaga kerja telah terserap di sektor ini, jumlah yang setara dengan seluruh populasi Malaysia. Bahkan nilai ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia telah menembus angka USD 25,10 miliar.
“Mayoritas penggerak sektor ekonomi kreatif saat ini adalah anak-anak muda Indonesia, khususnya dari kalangan Gen Z dan Milenial. Mereka bukan hanya konsumen, tetapi juga produsen ide, pencipta nilai, dan arsitek masa depan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Ilham Permana, S.E., M.M juga mendorong seluruh pihak, khususnya generasi muda dan pelaku ekonomi lokal di daerah, untuk cerdas dalam berinvestasi di sektor-sektor kreatif karena potensinya yang sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dari akar rumput.
“Ekonomi kreatif bukan tren, tapi kebutuhan masa depan. Mari bangun dari lokal, untuk nasional menuju dunia,” tegasnya.
Adapun sebagai Pelaku UMKM Lokal, Maulita Putri D., S.Pt., M.Si berbagi wawasan dan pengalaman mengenai tantangan dalam era krisis ekonomi yang semakin kompleks. Hal tersebut menjadi sorotan berkaitan dengan strategi yang menjadi refleksi bahwa ketahanan bisnis di tengah krisis sangat bergantung pada kemampuan untuk mengoptimalkan berbagai bentuk dukungan yang tersedia.
“Krisis bukan akhir, tapi momentum untuk tumbuh lebih tangguh. Maka yang harus kita kuatkan ialah bagaimana kita bisa beradaptasi menyesuaikan perkembangan zaman, terbuka dengan kolaborasi dan inovasi, terus belajar dan membangun jejaring, serta fokus pada value dan kebutuhan konsumen,” ungkapnya.