Rangkul Masyarakat Global melalui Pengetahuan dan Menciptakan Pembangunan Berkelanjutan, UNIDA Selenggarakan Djuanda International Conference
Universitas Djuanda
(UNIDA) menggelar Djuanda
International Conference Tahun 2022 pada Selasa, 13 Desember 2022. Kegiatan diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Cloud Meeting. Keynote Speakers yang dihadirkan, diantaranya Chancellor UNIDA, Dr. H. Martin
Roestamy, S.H., M.H selaku Keynote Speech, Assoc. Prof. Mimi Fitriana Zaini,
M.Psy., Ph.D (International University Malaysia-Wales, Malaysia),
Assoc. Prof. Nunung Nurul Hidayah, Ph.D (University of Southampton, United
Kingdom), Dr. Marwan Hayeemaming (Fatoni University, Thailand),
Dr. Rasman Bin Saridin, MA (Hira Society, Singapore), Prof. Mohamad
Ali Fulazzaky, Ph.D (Djuanda University, Indonesia) dan Prof. Dr. Abdul
Al-Fattah El-Awaisi (Academy for Islamicjerusalem Studies (ISRA) Scotland,
United Kingdom).
General Chair DIC 2022, Prof. Mohamad Ali
Fulazzaky, Ph.D dalam paparan sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Chancellor UNIDA, Dr. H. Martin
Roestamy, S.H., M.H yang senantiasa mendukung kesertaan UNIDA dalam
pengembangan ilmu pengetahuan secara internasional. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepana Universitas Ibn Khaldun yang selalu menjadi mitra konferensi
sejak tahun 2017 dan kepada seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan
internasional konferensi. Kegiatan ini memiliki tema "Embracing Global Society through knowledge and creating
sustainability Development" untuk dapat
memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat.
“Internasional konferensi ini diikuti oleh 151
partisipan yang di mana bidang ilmu sosial terdiri dari 132 partisipan dan ilmu
alam terdiri dari 19 partisipan. Semoga kegiatan kali ini berjalan dengan
lancar sampai selesai nanti dan memberikan banyak manfaat bagi kita semua,”
tutur Prof. Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D.
Rektor UNIDA, Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H
dalam sambutannya menyatakan bahwa UNIDA telah menyelenggarakan Konferensi
Internasional sejak tahun 2017, fokus pada Ilmu Sosial yang dikenal dengan
BICSS dan Sains Terapan yang dikenal dengan BICAS. Pada tahun ini, UNIDA
memutuskan untuk mengganti nama konferensi menjadi Djuanda International
Conference (DIC). Melalui konferensi virtual ini, UNIDA memperluas
kerjasama tidak hanya antara sesama peneliti dan ilmuwan, tetapi lebih luas
lagi, merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah, pengusaha,
pelaku ekonomi dan industri. Dengan kolaborasi ini akan semakin menguatkan
dalam membangun peradaban di dunia yang mengglobal.
“Kami percaya bahwa dengan berpartisipasi dalam
konferensi ini, kita berada di tempat dan waktu yang tepat. Mari kita percepat
pertukaran ide dan peningkatan praktik. Kami yakin bahwa kami akan menemukan
ide-ide baru, energi segar, dan kemitraan baru untuk mempertahankan upaya kami
menghadapi era baru melalui ilmu terapan dan untuk mendukung kebangkitan
pasca-pandemi melalui ilmu sosial untuk ketahanan global,” ungkap Prof. Dr.
Suhaidi, S.H., M.H.
Chancellor UNIDA Bogor, Dr. H. Martin Roestamy,
S.H., M.H selaku Keynote Speech dalam paparannya menyatakan bahwa
Konferensi Internasional ini bersamaan dengan peringatan Hari Nusantara
Nasional atau peringatan Deklarasi Djuanda. Isi dari Deklarasi Djuanda ini
menyatakan bahwa segala perairan di sekitar atau di antara dan yang
menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah daratan negara Republik
Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah hukum Negara Republik
Indonesia. Deklarasi ini digunakan sebagai dasar hukum untuk menggantikan
teritorial ZEE dan Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939
yang menyatakan bahwa luas wilayah Indonesia hanya 3 mil diukur dari garis air
rendah masing-masing palung. Akibat dari Deklarasi Djuanda telah melahirkan
batas perairan baru yang membuat luas Nusantara bertambah 2,5 kali lipat dari
kurang lebih 2 mil menjadi kurang lebih 5 mil. Sebagai universitas yang
menyandang nama Djuanda, momen deklarasi Djuanda ini sebagai inspirasi dan
semangat dalam membangun bangsa dan pembentukan karakter bagi mahasiswa
khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
“Deklarasi Djuanda telah melahirkan kedaulatan
maritim dan keutuhan wilayah NKRI yang secara geopolitik telah diakui oleh
dunia internasional. Semangat Deklarasi Djuanda diwarnai oleh ciri-ciri
kepribadian dari Ir. H. Djuanda yang merupakan Perdana Menteri ke-10 Republik
Indonesia yang mewujudkan semangat kebangsaan dan internasional. Untuk UNIDA,
jiwa dan kepribadian Djuanda adalah cita-cita untuk melahirkan para
Djuanda-Djuanda muda dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
agar Indonesia dapat melahirkan Djuanda Reborn sebagai generasi muda yang
memiliki integritas kuat dalam mempertahankan tanah airnya sekaligus menunjukan
jati dirinya sebagai bangsa NKRI,” ungkap Dr. Martin Roestamy, S.H., M.H.
Pada kesempatan yang sama, Assoc. Prof. Mimi
Fitriana Zaini, M.Psy., Ph.D dari International University Malaysia-Wales,
Malaysia dalam paparannya mengulas faktor pengaruh teknologi digital dalam
pendidikan untuk keberlanjutan. Teknologi digital sudah berintegrasi ke dalam semua bidang interaksi dan
komunikasi. Transformasi digital pada saat ini sudah masuk ke dalam berbagai
bidang kehidupan seperti bidang teknologi, komunikasi, data, internet of
thing, automation, AI dan Networking. Kemajuan
teknologi digital berdampak pada kemajuan di bidang pendidikan seperti saat ini
yaitu digital education yang merupakan penggabungan antara teknologi
yang inovatif dengan alat digital untuk membantu kemajuan belajar mengajar atau
dapat disebut juga sebagai teknologi peningkatan pembelajaran atau Technology
Enhanced Learning (TEL).
“Dengan kemajuan teknologi juga menjadikan
pembelajaran dapat dilakukan dengan daring atau online. Keuntungan dalam pembelajaran daring yaitu siswa menjadi
pusat pembelajaran, kesempatan yang lebih baik, hemat biaya, kesempatan untuk
berinteraksi lebih luas, waktu belajar lebih terkontrol, membuka wawasan
global, kemudahan akses dan fleksibel,” tutur Assoc. Prof. Mimi Fitriana Zaini,
M.Psy., Ph.D.
Assoc. Prof. Nunung Nurul Hidayah, Ph.D dari University
of Southampton, United Kingdom dalam paparannya menyampaikan tidak
adanya jaminan berkelanjutan merupakan kegagalan akuntabilitas rezim. Menurut
Karl Weick’s dalam episode kosmologi menyatakan para pemimpin menderita karena
kehilangan akal sehat dan gagal melaksanakan penilaian profesional yang baik.
Terjadi beberapa krisis yang sering mengakibatkan kegagalan akuntabilitas rezim
karena kurangnya tanggapan dan koordinasi yang buruk dari semua tingkatan
administrasi publik.
Dr. Marwan Hayeemaming dari Fatoni
University, Thailand memaparkan pendidikan sekolah agama di Thailand. Ia
menyampaikan bahwa semakin banyak berlaku perubahan kurikulum semakin pudar
semangat pelajar sekolah agama rakyat untuk melanjutkan pelajaran mereka di
tingkat perguruan tinggi atau institute pengajian tinggi dalam negera,
Asia Barat atau Asia Tenggara. Bahkan sebagian mereka ada yang melanjutkan pendidikan
di Eropa dalam Bidang Pendidikan Islam dan Pendidikan Sains Sosial. Kini dapat
dibuktikan bahwa sekolah agama rakyat semakin meningkat taraf kedudukannya.
Dr. Rasman Bin Saridin, MA dari Hira Society, Singapore dalam
paparannya mengenai peluang dan tantangan Industri 4.0 menyampaikan
digitalisasi terjadi di segala bidang. Proses transformasi digital dari
rangkaian value chain yang digunakan oleh berbagai sektor industri bukan
hanya manufaktur serta menggunakan sistem otamatisasi dengan teknologi cyber.
Banyak revolusi industri yang sudah dilalui mulai dari Revolusi Industri 1.0
yang pertama terjadi ketika mesin uap ditemukan sehingga banyak menggantikan
peran hewan dan manusia dan pada saat ini sudah memasuki Era Revolusi Industri
4.0 atau era digital.
“Kita harus dapat menyesuaikan dengan kemajuan
zaman. Industri 4.0 telah menyentuh banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari.
Industri 4.0 mengintegrasikan dunia digital dan dunia fisik, dapat meningkatkan
operasi bisnis baik dalam produktivitas dan pertumbuhan pendapatan sehingga
menambah nilai tambah serta costumer experiences serta dalam hal
organisasi akan dituntut untuk dinamik, inovatif dan mampu beradaptasi terhadap
dinamika tekanan dan tuntutan pasar,” ungkap Dr. Rasman Bin Saridin, MA.
Dalam
kesempatan ini juga, Prof. Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D memaparkan materi yang
berkenaan dengan hasil penelitiannya yang bertajuk “Mass Transfer Factor
Models and Modified Mass Transfer Factor Models: An Introduction to the New
Kinetic Equations”.
“Model Mass Transfer Factor (MTF)
dikembangkan pada tahun 1996 sebagai bagian dari Tesis yang diteliti. Satu
artikel model MTF dipublikasikan pertama kali ke International Commission on
Irrigation and Drainage Conference, Montreal, Canada, pada tahun 2002,”
paparnya.
“Kesimpulannya, model MTF dan MMTF sebagai
model kinetik baru dapat digunakan untuk menyelidiki mekanisme dan kinetika
penyisihan zat terlarut oleh berbagai jenis reaktor atau berbagai macam
aplikasi model,” tambah Prof. Mohamad Ali Fulazzaky, Ph.D.
Prof. Dr. Abdul Al-Fattah El-Awaisi dari Academy
for Islamicjerusalem Studies (ISRA) Scotland, United Kingdom
memaparkan juga bahwa saat ini kebutuhan mendesak akan sarjana muslim di bidang
ilmu sosial khususnya di bidang hubungan internasional karena sebagai mahasiswa
muslim hendaknya mentransformasi ilmu dengan mengutamakan Al-Quran.
“Singkatnya kita perlu menjadi sarjana muslim
yang energik dan visioner, berprestasi dan dapat menjadi pemimpin akademik
muslim yang inovatif yang dapat mendedikasikan serta merencanakan seumur hidup
untuk pendidikan dan pengetahuan sebagai dasar untuk mengembangkan manusia
dengan komitmen yang penuh semangat dan lebih gigih untuk memajukan pendidikan,
penelitian dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Prof. Dr. Abdul Al-Fattah
El-Awaisi.
Sesi dilanjutkan
dilanjutkan dengan sesi paralel sesuai dengan ruang lingkup peserta yang akan mempresentasikan paper-nya
masing-masing.