[email protected] 0251-8240773
Berita

Refleksi 67 Tahun Deklarasi Djuanda, Chancellor UNIDA Dorong Sumber Daya Berkelanjutan dalam Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim Melalui Ketahanan Ekonomi Maritim

Bertepatan dengan memperingati lahirnya Deklarasi Djuanda, Chancellor UNIDA Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H., CRA, CMI, CCD mendorong pentingnya pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan ketahanan ekonomi maritim sebagai strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Beliau menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber daya kelautan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Hal ini disampaikan ketika Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H., CRA, CMI, CCD menjadi pembicara dalam konferensi internasional bertajuk the 8th Djuanda International Conference on Applied Science and the 8th Djuanda International Conference on Social Science (DICAS & DICSS) 2024 yang digelar oleh UNIDA pada Jum’at, 13 Desember 2024. Bertempat di Aula Gedung C Kampus UNIDA, konferensi internasional ini diikuti oleh lebih dari 800 peserta secara luring maupun daring.

Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H., CRA, CMI, CCD memaparkan, warisan Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 tidak hanya bermakna politis, tetapi juga memiliki dimensi ekologis dan ekonomis yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Konsep kedaulatan wilayah laut yang dicetuskan oleh Ir. H. Djuanda Kartawidjaja saat itu kini perlu diperluas menjadi konsep keberlanjutan ekosistem maritim berkelanjutan sebagai upaya strategis dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global yang semakin kompleks.

Tidak dapat disangkal bahwa Deklarasi Djuanda merupakan perjalanan panjang perjuangan rakyat Indonesia sebelum diakui oleh dunia, yang kemudian akhirnya diakui dan ditetapkan dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) pada tahun 1982.

Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H kemudian mengemukakan, ada banyak potensi yang dapat dikembangkan di wilayah maritim Indonesia. Luas wilayah laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi dan merupakan tiga perempat dari total luas negara. Selain itu, terdapat lebih dari 17 ribu pulau dan dikelilingi oleh garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, yaitu 95,2 ribu KM.

“Sekarang, Indonesia harus mengorientasikan kembali pembangunan nasional dari darat ke laut. Kuncinya adalah mengoptimalkan pemanfaatan potensi kelautan dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh nusantara. Melalui ini, diharapkan akan tercipta strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” terangnya. 

Lebih jauh, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menjelaskan bahwa konferensi ini mencakup dua ruang lingkup, yakni penelitian ilmu terapan dan penelitian ilmu sosial, yang sejalan dengan lima Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB, antara lain Tidak Ada Kemiskinan, Pendidikan Berkualitas, Kesetaraan Gender, Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat, serta Kemitraan untuk mencapai Tujuan. 

“Melalui upaya bersama inilah kita dapat menginspirasi perubahan yang berarti dan memastikan keberlanjutan dalam pengadaan sumber daya, tata kelola, dan pembangunan masyarakat,” pungkasnya.