Resmi Dikukuhkan Sebagai Guru Besar, Prof. Siti Pupu Fauziah Roestamy Gagas Manajemen Bimbingan Konseling Berbasis Kepemimpinan Transendental
Rektor Universitas Djuanda (UNIDA), Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I., M.Pd.I resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen Bimbingan Konseling yang berlangsung di Aula Gedung C UNIDA pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Dalam acara pengukuhan tersebut, Prof. Dr. Hj R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I., M.Pd.I menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Manajemen Bimbingan dan Konseling Berbasis Kepemimpinan Transendental”.
Prof. Dr. Hj R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I., M.Pd.I dalam orasinya memaparkan bahwa manajemen bimbingan dan konseling berakar pada pandangan hidup Islam yang menempatkan tauhid sebagai prinsip fundamental, di mana manusia dipandang sebagai ‘abdullah dan khalifatullah. Hal ini menjadikan manajemen Bimbingan Konseling bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah praktik etis, edukatif, dan spiritual yang memadukan pengetahuan rasional dengan nilai religius demi memuliakan martabat manusia.
“Pendekatan ini diperkuat oleh integrasi kearifan lokal Sunda yang mencakup lima dimensi utama, yaitu Bageur sebagai fondasi akhlak dan empati dalam pelayanan, serta Cageur yang menekankan kesehatan holistik pada dimensi bio-psiko-sosio-spiritual. Selanjutnya, nilai Bener hadir sebagai representasi integritas dan akuntabilitas, sementara Pinter mengarahkan kecerdasan intelektual menuju kebijaksanaan, dan Singer menjamin keteguhan serta keberlanjutan layanan di tengah perubahan zaman,” paparnya.
Prof. Dr. Hj R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I., M.Pd.I juga menambahkan bahwa sinergi antara nilai-nilai profetik dan kearifan lokal tersebut kemudian menjadi wujud model kepemimpinan transendental.
Kepemimpinan ini memandang manajemen Bimbingan Konseling sebagai ruang pengabdian kemanusiaan yang dijalankan dengan kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab ilahiah. Secara operasional, kepemimpinan ini bergerak melalui alur penetapan nilai (value-setting), implementasi kebijakan (value-implementation), hingga pengalaman nyata yang dirasakan oleh warga kampus (value-experience).
“Melalui pendekatan yang komprehensif ini, layanan Bimbingan Konseling di perguruan tinggi tidak lagi bersifat reaktif, melainkan menjadi sebuah fungsi kepemimpinan strategis yang mampu menciptakan iklim kampus yang sehat, suportif, dan bermakna bagi pengembangan manusia seutuhnya,” tambahnya.